Kakek, Sang Pejuang Sejati

kakek

AP – Berbicara kakek seperti layaknya kakek ini, tentu yang terbesit dalam benak kita ialah tua, lemah, diam di rumah, tidak bisa ngapaen-ngapaen, mengharap belas kasihan dari anak, sanak saudara, bahkan orang lain. Namun, tidak dengan kakek yang satu ini yang setiap harinya berjualan dengan harapan barang dagangannya terjual. Begitulah harapannya yang setiap hendak melangkah dari rumah hingga menyelusuri seluk-beluk jalanan yang penuh dengan liku-liku.

Rasa lelah yang tersimpan manis diraut wajahnya lenyap sekaligus disaat ada barang dagangannya dibeli oleh mereka yang memerlukan, atau hanya sekedar iba, atau bisa juga hanya sekedar mencari muka (seperti mereka calon pejabat, misalnya).

Bagi saya, kakek ini memberikan pelajaran berharga kepada diriku yang bakal mengalami umur sepertinya. Melihat kakek tua yang masih berjuang mendapatkan sesuap nasi ini, terpikir dalam benak saya tiga hal, yaitu:

Pertama, sedih kalau nasib saya kelak sama seperti kakek ini. Karena setiap kita pasti menginginkan di hari tuanya bersama keluarga, cucu, dan sebagainya dalam ruang yang nyaman dan tentram. Tentu kakek ini juga berharap seperti itu, namun arus dan perjalanan hidup tidak searus dengan mereka yang hidupnya nyaman dan tentram.

Kedua, terharu karena memberikan pelajaran berharga kepada saya kaula muda bahwa umur bukan suatu alasan untuk tidak bekerja. Umur tua seharusnya diam di rumah saja, mengharap belaskasihan dari orang lain. Hal ini juga suatu pukulan kepada mereka yang “pengangguran” atau bahkan malas untuk bekerja. Dengan melihat kakek seperti ini, semua pintu hati dan pikiran kita terbuka untuk menolong mereka yang membutuhkan.

Ketiga, kerja apa saja walau pekerjaan tersebut itu hina dan rendah yang penting halal dan tidak merugikan pihak lain. Karena hal itu memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Daripada mereka yang hidup bahagia dengan harta orang lain, bahagia di atas penderitaan orang lain. Tak ubahnya seperti mereka para pejabat yang hobi memakan uang rakyat, uang Negara. Sadis memang sadis, namun mereka tak mau menahu penderitaan orang di sekitarnya. Sadis memang sadis, mereka tersenyum manis di mana orang lain menderita.

About Ahman

Suka humor tapi gak humoris
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kakek, Sang Pejuang Sejati

  1. jarhie says:

    lu suka ngeblog gening man, terusin bro. bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s