Faktor Ekonomi Bukan Penghalang untuk Menempuh Pendidikan

AP – Paradigma saya yang kerdil dahulu, menganggap bahwa yang dapat menempuh pendidikan sampai ke tingkat paling tinggi (Mahasiswa/i) adalah mereka yang memiliki kapasitas ekonomi yang banyak (berduit). Karena hidup di lingkungan yang sederhana, maka paradigma pun menggejolak, yakni dengan paradigma orang-orang yang sederhana pula dengan mengatakan bahwa, “pendidikan hanya milik mereka yang memiliki keuangan yang memadai”.

Namun, paradigma yang telah saya bangun sejak kecil tersebut akhirnya melebur ke dalam kesalahan yang sangat fatal. Kenapa? Ternyata, selama ini saya hanya berorientasi pada materi semata (harta) atau ekonomi yang memadai. Hal tersebut terpatahkan dengan berbagai prestasi yang ditunjukkan oleh anak-anak yang berasal dari keluarga yang sederhana. Faktor yang sering mengganggu seseorang yang ingin menempuh pendidikan yakni faktor ekonomi.

Ada sebuah contoh yang menggugah hati saya, berlinang air mata, haru, bangga, serta iri dengan dia. Iri yang saya maksud bukan iri dalam pengertian secara negatif, namun iri dalam hal yang positif. Yaitu mengenai Mahasiswi yang berprestasi yang mendapatkan nilai paling tinggi di salah satu Universitas di Jawa Tengah. Ia adalah wisudawan yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi dengan predikat IP 3,96. Ia bernama Raeni, salah satu Mahasiswi di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah.

Dengan prestasi yang ia dapatkan, banyak pihak-pihak yang menawarkan beasiswa kepada dirinya, untuk melanjutkan studinya ketingkat yang lebih tinggi, S2. Ia pun mendapatkan tawaran langsung dari Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk melanjutkan studinya ke Inggris. Di samping ia mendapatkan berbagai tawaran dari berbagai perusahaan untuk menawarkan pekerjaan. Secara langsung, ia mendapatkan tawaran langsung dari sebuah televisi, NET pada saat ia diundang pada acara TalkShow yang dihostkan oleh Mr. Sule. Ia ditawarkan sebagai tim kreatif di televisi tersebut. Berlinang air mata pun berjatuhan saat ia mendapatkan tawaran tersebut. Namun, ia pun mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih, namun saya ingin melanjutkan studi di Inggris, dengan menerima tawaran yang diberikan oleh bapak Presiden SBY.

Gadis yang bernama Raeni ini lahir pada tanggal 13 Januari 1993. Raeni ialah anak dari keluarga yang bapaknya bekerja sebagai pendayung becak. Sebagai tukang becak (maaf), penghasilan yang diperoleh setiap hari pun tidak menentu. Ayahnya bernama Mugiyono memperoleh penghasilan dari pekerjaan yang dilakoninya sektiar Rp. 10-50 per hari. Semangat yang dimiliki oleh ayahnya mampu teraktualkan dalam dirinya. Ia mencontoh bapaknya yang bekerja tanpa lelah, demi kelangsungan anaknya semata.

Ia mampu menunjukkan pada seluruh dunia dengan prestasi yang ia dapatkan. Ia dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya bekerja sebagai pendayung becak. Tetapi, ia mampu menempuh pendidikan dengan sangat baik. Sehingga, ia membuka paradigma semua orang mengenai bidang pendidikan bahwa semua manusia berhak mendapatkannya dan berhak meraihnya tanpa adanya diskriminasi.

Dari prestasi yang ia dapatkan, ada beberapa media seperti televisi menyiarkan secara langsung. Media tersebut membanjiri dirinya. Ia pun menceritakan kisahnya dengan berlumuran air mata, tulus dari lubuk hatinya. Dengan didamping oleh bapaknya, ia pun mengatakan bahwa, “kesuksesan yang ia raih tak lepas dari tangan kedua orang tuanya”.

Semoga dengan kisah nyata ini menginspirasi kita semua dan kita mampu meraih prestasi yang gemilang seperti yang dirasakan oleh saudari kita Raeni. Hal yang paling penting yang kita dapatkan dari cerita nyata ini yakni akan arti sebuah kesungguhan. Faktor keluarga yang berkekurangan bukan kendala bagi kita untuk meraih apa yang kita inginkan jika diiringi dengan tekad yang kuat.

Note : Catatan merupakan catatan lama, namun baru di publish saja.

About Ahman

Suka humor tapi gak humoris
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s