Kebencian Melulu, Kapan Menebar Kebajikan?

AP – Tak sedikit dari kita selalu senang jika melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang. Jika berpikiran kotor pada orang maka kita akan sibuk terhadap hidup orang lain. Selalu menggali dan mengorek kehidupan orang yang kita benci. Dengan berbagai tindakan dilakukan dan ditempuh. Sampai orang tersebut jatuh dan lenyap dari kehidupan kita.

Hal inilah yang dilakukan oleh mereka yang selalu menebar kebencian pada orang. Modusnya tentu berbeda-beda, bahkan label agamapun terbawakan. Modus agama untuk membenci orang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Baik karena beda agama, madzhab, pemikiran, dan sebagainya.

Sampai kapan kita terus senang melakukan kebencian, permusuhan, apalagi menghilangkan nyawa orang lain. Nabi Muhammad Saw. datang tidak untuk mengarahkan manusia untuk benci, dengki, dan sebagainya kepada orang lain. Nabi  menjadi rahmatan lil’alamin untuk seluruh manusia, baik dari jajaran bawah hingga atas, dari musuh maupun kawan, dari beriman maupun tidak, dari beriman maupun kafir. Nabi tidak membenci mereka yang tidak mengikuti jejaknya, bahkan Nabi sangat menghormati setiap jiwa pada saat itu. Karena setiap nyawa memiliki harga dan wewenang untuk hidup.

Nabi sangat menjunjung tinggi kemanusiaan, dan itu diajarkan kepada para sahabatnya pada saat itu. Seperti halnya ketika ada sekelompok dari kaum Yahudi yang melintas membawa mayat sesamanya (Yahudi). Tanpa basa basi Nabi berdiri diantara para sahabatnya. Hal demikian tidak hanya simbolis semata, namun memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan kita. Agar selalu menghargai kalangan siapapun tanpa melihat latarbelakangnya.

Mari berbenah diri untuk selalu mengintropeksi diri agar tidak menanam kebencian dalam diri. Kebencian hanya merusak hati dan juga akan mengganggu ketenangan orang lain. Dengan mengoreksi diri dari anggapan yang merusak hati. Menganggap diri (kelompok) bersih dari kotoran dosa dan sebagainya. Sehingga selain dari kita (kelompok) kita adalah pendosa dan kafir. Kacamata kita terhadap orang lain harus dibersihkan dari sekarang. Siapa tahu kacamata yang sedang dipakai banyak debu yang mengotori mata kita. Sehingga pandangan kita menjadi rusak terhadap orang lain. Boleh berbeda pendapat, aliran, agama, ras, suku dan sebagainya, namun soal kebhinekaan harus dikedepankan demi keberlangsungan hidup kita dan anak cucu kita kelak. Karena mereka adalah benih-benih generasi mendatang. Maka jangan merusak mereka dengan menanamkan mereka untuk membenci orang lain.

About Ahman

Suka humor tapi gak humoris
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s