Dampak Al-Dakhil Terhadap Non-Muslim

Pemakalah: Ani Rusmiyati – Endang Nur Fitriah

A. Pengertian Sekilas

Dalam tradisi kebahasaan Indonesia, penggunaan kata non berarti tidak atau bukan yang merujuk pada makna menolak. Merujuk pada Oxford Learner’s Pocket Dictionary kata non merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu none yang berarti pengingkaran terhadap sesuatu. Kata non hanya akan kita temukan didalam bahasa keseharian karena proses komunikasi ini menjadi salah satu kategori dalam peralihan bahasa. Sehingga di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita tidak akan menemukan kata non.

Beralih pada kata muslim, yang juga merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata muslim, di dalam bahasa Arab berasal dari bentuk masdar (kata dasar) al-Muslimu yang berarti yang berpasrah, yang merasa aman dll maka, makna dalam penggunaan bahasa Indonesia berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia menjadi, seseorang yang beragama Islam yang didalam pengakuannya tersebut dia dihukumi keharusan untuk melaksanakan syarat-syarat (rukun Islam dan iman)nya sehingga ia disebut muslim. Dengan demikian, sementara kesimpulan mengenai pengertian non-muslim adalah dia atau seseorang yang tidak menjadikan syarat-syarat tersebut di atas, tidak dinisbatkan bagi dirinya. Atau, non-muslim adalah dia yang tidak beragama Islam.

Dalam pendefinisian ini, kata muslim yang digunakan didalam bahasa Indonesia begitu berbeda dari pemaknaan sumber bahasanya yakni al-Muslimu sebagai yang berpasrah, merasa tentram atau aman. Untuk memfokuskan pembahasan selanjutnya, maka kami hanya menggunakan kata muslim sesuai dengan pengertian dalam bahasa Indonesia.

B. Istilah al-Qur’an bagi Non-Muslim

Dalam pembahasan ini, kita perlu memahami lebih dalam apa yang dimaksud non-muslim sehingga dalam pembahasan mengenai pengaruh selanjutnya kita dapat mengkategorikan non-muslim mana yang dimaksud yang menjadi tujuan dalam pembicaraan ini.

  1. Ahl al-kitab, kata ahl dalam al-Quran disebutkan sebanyak 125 kali[1], beragam makna yang ditujukkan seperti keluarga Nabi { al-Ahzab (33): 33}; penduduk {QS. al-Qashash (28):45}; keluarga {QS. Hud (11):40}; dan beragam makna lainnya.[2] Sedangkan kata al-Kitab dalam beragam bentuknya ditemukan sebanyak 319 kali[3] dalam al-Qur’an, dengan beragam pula maknanya seperti, tulisan, kitab, ketentuan, dan diwajibkan[4]. Term al-Kitab yang menunjukkan kepada kitab suci yang telah diturunkan Allah  swt, baik itu kitab suci yang telah diturunkan kepada nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad saw seperti nabi Musa a.s.[5]

Dengan demikian, Pengungkapan term ahl al-Kitab  ditemukan sebanyak 31 kali dalam al-Qur’an dan term ahl al-Kitab dimaknai pada komunitas atau kelompok pemeluk agama yang memiliki kitab suci yang diwahyukan Allah swt kepada nabi dan rasul-Nya.

Dari analisis tematis yang dilakukan Muhammad Ghalib M., beberapa ungkapan yang dianggap sepadan dengan term Ahl al-Kitab, al-Ladhina ataynahum al-Kitab (orang-orang yang Kami beri al-Kitab); al-Ladhina utu al-Kitab (orang-orang yang diberi kitab); al-Ladhina utu Nasiban min al-Kitab (orang-orang yang diberi bagian dari al-Kitab); al-Ladhina yaqra’una al-Kitab min Qablik (orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu).[6]

  1. Bani Isra’il, kata bani terlebih dahulu akan kita temukan dalam al-Quran sebanyak 49 kali, 41 kali diantaranya dikaitkan dengan Isra’il, selebihnya sebanyak 6 kali dikaitkan dengan keturunan Adam. Sedang dua kali diantaranya QS. al-Nur (24):31 berbicara tentang putra saudara laki-laki dan perempuan. Dari ayat-ayat tersebut, ternyata term bani, semuanya mengisyaratkan adanya hubungan darah.[7] Sedang kata Isra’il, ditemukan sebanyak 43 kali dalam al-Quran, 2 kali menunjuk pada nabi Ya’kub dan selebihnya dikaitkan dengan keturunannya.[8]
  2. Al-Yahud, di dalam al-Quran kata tersebut diungkapkan sebanyak 9 kali[9] dan semuanya diungkapkan dengan nada sumbang dan menunjukkan kecaman kepada mereka. Sebagian diantara ungkapan al-Yahud seperti dalam {QS. al-Imran (3):67}; bahwa adanya klaim yang dilakukan mereka bahwa nabi Ibrahim adalah dari kalangan Yahudi dan Nasrani sehingga mereka akan mendapat keselamatan. Kemudian dalam {QS. al-Maidah (5):18}; bahwa adanya klaim antara masing-masing mereka bahwa mereka adalah kelompok yang paling benar dan termasuk kekasih Allah.

Di surat lain juga al-Quran menyatakan bahwa mereka (Yahudi) tidak akan pernah merasa senang sebelum umat Islam mengikuti cara hidup mereka, QS. al-Baqarah (2):120}; diantara kecaman keras lainnya yaitu sikap berperasangka buruk mereka bahkan kepada Allah bahwa tangan Allah terbelenggu (kikir) {QS. al-Maidah (5):64}; dan berbagai penisbatan buruk lainnya.

  1. Al-Nasara

Terdapat 15 kali[10] pengungkapan term al-Nasara dalam al-Quran. pengungkapannya terkadang bersanding dengan kata al-Ladhina hadu, al-Yahud, dan hudan. Beberapa sumber memberi pengertian berbeda, seperti pengertian secara kebahasaan hingga nasara  dianggap bersumber dari daerah asal nabi Isa a.s yang bernama Nas}iri.[11] Sedang, jika dalam al-Quran nasara dikaitkan dengan pertanyaan nabi Isa a.s kepada orang-orang Hawari tentang kesediaan mereka berjuang di jalan Allah swt bersama beliau {QS. al-Shaff(61):14}. Dan ayat-ayat lainnya yang ditujukkan kepada Nasrani dapat kita temukan tidak sedikit yang bernada sumbang juga kecaman {QS. al-Maidah(5):13}, {QS. al-Maidah(5)73}, {QS. al-Baqarah(2):111-11}, {QS. al-Baqarah(2):120}.

  1. Ahl al-Injil

Kata Injil di dalam al-Quran terulang sebanyak 14 kali[12] dan semuanya menunjuk pada makna kitab suci yang diturunkan Allah kepada nabi Isa a.s. Sedang, pengungkapan ahl al-Injil hanya ditemukan satu kali {QS. Al-Maidah (5):47} yang berbicara kewajiban orang-orang Nasrani agar menegakkan aturan-aturan yang tercantum dalam kitab suci mereka.

C. Kriteria al-Quran untuk ahl al-Kitab

Pada poin sebelumnya, kita sudah menginventarisir secara umum istilah-istilah yang sepadan dan paling tidak mendekati maknanya kepada non-muslim tersebut. kami menganggap perlu untuk membahas kembali pengungkapan ahl al-Kitab yang boleh jadi pengertian di atas masih begitu umum untuk dipahami dan diketahui bahwa term ahl al-Kitab adakalanya ditujukkan secara spesifik di dalam al-Quran untuk golongan tertentu dan adakalanya secara khusus juga ditujukkan kepada golongan yang lain. Sehingga dalam pembahasan nanti akan kita temukan kriteria-kriteria sehingga disebut sebagai ahl al-Kitab.

  1. Ditujukkan khusus kepada golongan Yahudi

Penggunaan term ahl al-Kita>b yang khusus ditujukkan untuk Yahudi pada umumnya bernada sumbang, yakni berupa kecaman akibat sikap buruk mereka seperti antipati[13] dan rasa tidak senang terhadap umat Islam apabila mendapat kebaikan. Tersebut misalkan, bahwa “Orang-orang yang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu kebaikan dari Tuhan-mu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya…” {{{{{; (QS. al-Ba>qarah :105) Mereka berusaha memperdayakan umat Islam agar kembali kepada kekufuran “Banyak diantara ahli kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka…”; (QS. al-Ba>qarah :109)

Mereka melakukan kepura-puraan untuk masuk Islam kemudian mengingkari kembali, “Dan segolongan ahli kitab berkata “Berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada awal siang dan ingkarilah diakhirnya, agar mereka kembali kepada kekafiran”. (QS. surat al-Imra>n :72).

  1. Ditujukkan khusus kepada golongan Nasrani

Term ahl al-Kitab secara khusus ditujukkan kepada orang-orang Nasrani seperti, ungkapan kecaman menyangkut sikap dan perbuatan yang berlebihan (kultus) terhadap nabi Isa a.s bahkan menjadikannya sebagai Tuhan,[14] tercantum dalam surat al-Nisa’> ayat 171 dan “Wahai alhi kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh al-Masih Isa itu putra Maryam dan ia adalah utusan Allah dan diciptakannya dengan kalimat-Nya. Dan berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “Tuhan itum tiga.” Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sungguh Allah Tuhan Yangmaha Esa,….”; dan “Al-Masih putra Maryan hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun telah berlalu beberapa rasul…”; (QS. al-Ma’idah: 77).

Al-Quran telah menginformasikan kepada kita mengenai beragam karakteristik golongan yang termasuk dalam ahl al-Kita>b. Dan karakteristik ini cenderung bersifat kecaman yang disebabkan perilaku mereka yang menyimpang dari kitab suci yang diturunkan Allah, dan perlu kami tunjukkan kembali bahkan diantara mereka melakukan pencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan seperti, dalam surat al-Imran ayat 70-71,75,110. Bahkan lebih jauh, mereka cenderung menghalang-halangi orang-orang yang ingin mengamalkan petunjuk Allah (QS. al-Imran(3):99}.

Di sisi lain, al-Quran memperkenalkan bahwa tidak seluruhnya pengungkapan ahl al-Kitab adalah buruk dan menyimpang seperti, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada yang beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sungguh Allah mahacepat perhitungan-Nya. (QS>. al-Imra>n :199).

Lalu “Mereka itu tidaklah sama, di antara ahli kitab itu, ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari sedang mereka bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar dan bersegera untuk mengerjakan pelbagai kebaikan; mereka itu termasuk orang-orang yang soleh.” (QS. al-Imra>n:113-114). Kemudian, di satu surat yang adakalanya menjadi argumentasi dalam teori pluralisme bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebaikan, mereka mendapat pahala dari Tuhan-nya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” {QS. al-Baqarah (2):62}.

Diantara sedemikian beragamnya ayat-ayat untuk mengungkapkan mengenai non-muslim ini, sedikit banyak kita telah memperoleh gambaran bahwa non-muslim berdasarkan dalil naqli dimaknai sebagai satu golongan yang memeluk satu ajaran tertentu yang berbeda dengan Islam (baca: Teologis) atau boleh jadi non-muslim adalah serangkaian karakteristik-karakteristik yang berlawanan dan cenderung melakukan sikap penyimpangan dan keburukan terhadap Islam atau Kebenaran.

D. Dampak Al-Dakhil terhadap Non-Muslim

Sebelum kita mengkaji lebih lanjut tentang dampak al-dakhil terhadap non-muslim, alangkah baiknya kita mengkaji kembali seputar israiliyat, dimana israiliyat adalah salah satu sumber al-dakhil.

Israiliyat berasal dari bahasa Ibrani, Isra yang berarti hamba atau pilihan, sedangkan ilel bermakna Allah. Oleh karena itu israil bermakna hamba Tuhan atau pilihan Tuhan.[15] Muhammad Husayn al-Dhahabi menyatakan bahwa  lafal  Israiliyat secara tekstual menunjukkan kepada cerita atau berita-berita yang berasal dari Yahudi atau Bani Israil, meskipun  demikian lafal  Israiliyat digunakan pula penyebutannya kepada berita-berita dan cerita zaman dahulu yang berasal dari selain Yahudi baik itu Nasrani, Majusi, dan selainnya.[16]

Secara garis besar kisah Israiliyat terbagi menjadi tiga kategori :

  1. kisah Israiliyat yang benar isinya, sesuai dengan Al-Quran dan hadis dan tidak bertentangan dengan keduanya.
  2. kisah israiliyat yang bertetangan dengan Al-Quran dan hadis. Ini harus dijauhi dan tidak boleh diriwayatkan kecuali disertai dengan penjelasan mengenai kedustaannya.
  3. kisah israiliyat yang tidak diketahui benar tidaknya. Yang demikian ini tidak perlu diyakini atau didustakan keberadaannya, hanya di jadikan sebuah wacana saja.[17]

Sikap Jumhur ulama tentang Israiliyat di antaranya :

  1. mereka dapat menerima Israilyat selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis.
  2. mereka tidak menerima selagi kisah Israiliyat tersebut bertentangan dengan Al-Quran dan hadis.
  3. Tawaqquf atau mendiamkan. Mereka tidak menolak dan tidak membenarkannya, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tersebut.[18] (kriteria mauquf kategori tersebut)

Dampak Al-dakhil terhadap non-muslim menurut Jum’ah Ali, guru besar dan ketua jurusan Tafsir dan Ulumul Quran, Universitas al-Azhar, menyebutkan beberapa dampak itu dalam bukunya al-Dakhil Bayna al-Dirasah al-Manhajiyyah Wa al-Namuzaj al-Tatbiqiyyah.[19]

  1. Memberikan kesan buruk pada non-muslim dan ilmuan barat bahwa agama Islam tak lain adalah ajaran khurafat yang penuh dengan kebohongan dan dongeng yang tidak logis.
  2. Membuat orang-orang non-muslim atau orang-orang di luar kalangan mereka semakin menjauh dari Islam.

Selain dua dampak Al-dakhil yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya masih banyak lagi dampak al-dakhil bagi non-muslim, diataranya :

  1. Mempengaruhi siapapun untuk masuk agama mereka.
  2. Orang-orang non-muslim menganggap bahwa para nabi umat islam adalah sesorang yang tidak patut menjadi panutan bagi umatnya.

Hal ini bisa kita lihat dari sebuah penafsiran {QS. Al-Ahzab (33): 37}

Terdapat riwayat yang menyatakan bahwa ayat tersebut diturunkan ketika Nabi hendak menikahi Zaynab binti Jahsy. Diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi pergi ke rumah Zayd. Sesampainya di rumah Zayd, tersingkap tabir tirai rumahnya sehingga Rasulullah dapat melihat kecantikan istri Zayd (Zaynab). Disebutkan bahwa tumbuh kecintaan dalam hati Rasulullah, hingga beliau mengucapkan “Subhan allah al-Azim. Subhan allah Muqallib al-Qulub”. Ketika Zayd mengetahui hal ini, ia meminta Rasulullah untuk mengawini istrinya.

Melihat penafsian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Rasulullah adalah seseorang yang suka menggunakan kekuasaannya hanya untuk kepentingannya sendiri, atau bahkan Rasulullah mencintai seorang perempuan yang sudah mempunyai suami. Maka sangatlah tidak mungkin sesuatu seperti ini ada pada Rasulullah, karena Rasulullah sendiri sudah terma’sum dari hal-hal yang seperti itu. Oleh karena itu, dengan adanya kisah-kisah israiliyat seperti ini, maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa orang-orang non-muslim dapat beranggapan seperti itu, yakni menganggap bahwa  para nabi umat islam memiliki prilaku yang sangat tidak pantas untuk di jadikan sebuat panutan.

  1. Bagi orang-orang yang tidak suka terhadap islam, kisah-kisah Israiliyat ini dijadikan sebagai senjata untuk mengolok-olok, memojokkan, serta merusak citra islam.

Salah satu contohnya ialah seperti kisah Garanik pada Rasulullah. Dikatakan bahwa ketika Rasulullah membaca surah Al-Najm: 18-20, beliau memuji berhala; la>tta,> uzza>, dan manat, dengan lafadz wa annahunna lahunna al-gharanikul ula>, inna syafaatahun turtaja, karena kerasukan setan. Sehingga, kaum kafir ikut bersujud bersama ummat Islam.[20] Bisa kita simpulkan dari riwayat ini, bahwasannya kisah ini adalah sebuah penghinaan bagi islam, mereka menganggap bahwa seorang nabi pun menyembah apa yang mereka sembah.

  1. Memberikan motivasi kepada mereka (orang-orang yang tidak menyukai islam) untuk menghancurkan islam.

Setelah kita mengetahui dampak-dampak dari israiliyat tersebut, alangkah baiknya dalam menyikapi pengaruh israiliyat yang sudah terlanjur tersebar dalam beberapa kitab tafsir, kita dituntut untuk lebih kritis dan piawai memilah-milih riwayat yang ada. Karena riwayat dari Yahudi tidak semuanya salah. Ada yang sesuai dengan al-quran seperti yang diriwatkan Ibn Katsi>r dari Ibn Jurayr al-T{abari tentang sifat Nabi saw. yang ada dalam tawra>t, sesuai dengan al-Quran (QS. Al-Ah{za>b: 45), Maka hal itu kita terima.

[1]Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Kari>m  (Bayiru>t: Dar al-Fikr, 1407 H/1987 M), 121-122.

[2]Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 19.

[3]Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Kari>m  (Bayru>t: Dar al-Fikr, 1407 H/1987 M), 753-755

[4]Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 20.

[5]Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 20.

[6]Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), xxi.

[7]Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 47.

[8] Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 48.

[9]Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Kari>m  (Bayru>t: Dar al-Fikr, 1407 H/1987 M), 941.

[10]Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Kari>m  (Bayru>t: Dar al-Fikr, 1407 H/1987 M), 874-875.

[11]Muhammad Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 57.

[12]Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh al-Qur’an al-Kari>m, (Bayru>t: Dar al-Fikr, 1407 H/1987 M), 117.

[13]M. Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 24.              

[14]M. Ghalib M, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya., cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998), 25.

[15]Ramzi Ni’nah, Isra>i>lliyya>t wa Atsa>ruha fi@ Kutub al-Tafsi>r, Cetakan ke I (Bayrut, Da>r al-D{iya>’, 1970), 72.

[16] Muhammad H{usayn al-Dhahabi, Al-Isra>i>lliyya>t  fi> Al-Tafsi>r wa Al-H}adi>th, juz I cetakan ke-III (Al-Qa>hirah, Maktabah Wahbah, 1986), 13.

[17]http://makalah85.blogspot.com/2008/11/israiliyyat.html?m=1, (Rabu,8 April 2015).

[18]http://makalah85.blogspot.com/2008/11/israiliyyat.html?m=1, (Rabu,8 April 2015).

[19]https://elfais.wordpress.com/2009/02/06/geliat-dakhil-dalam-tafsir/, (Rabu, 8 April 2015).

[20] https://elfais.wordpress.com/2009/02/06/geliat-dakhil-dalam-tafsir/, (Rabu, 8 April 2015).

________________________________________________________________

Daftar Pustaka

Abd al-Baqi, Fu’ad Muhammad, al-Mu’jam al-Mufahras li Al-fazh al-Qur’an al-Kari>m  (Bayru>t: Dar al-Fikr, 1407 H/1987 M).

Al-Dhahabi, Muhammad H{usayn, Al-Isra>i>lliyya>t  fi> Al-Tafsi>r wa Al-H}adi>th, juz I cetakan ke-III (Al-Qa>hirah, Maktabah Wahbah, 1986).

Ghalib M, Muhammad, ahl al-Kitab Makna dan Cakupannya, cetakan I, (Jakarta: Paramadina, 1998).

Ni’nah, Ramzi, Isra>i>lliyya>t wa Atsa>ruha fi@ Kutub al-Tafsi>r, Cetakan ke I (Bayrut, Da>r al-D{iya<’, 1970).

https://elfais.wordpress.com/2009/02/06/geliat-dakhil-dalam-tafsir/, (Rabu, 8 April 2015).

http://makalah85.blogspot.com/2008/11/israiliyyat.html?m=1, (Rabu,8 April 2015).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s