Hukum Meriwayatkan al-Dakhil Fi al-Tafsir bi al-Riwayah

Pemakalah: Nenden Pupu, Khairun Nisa, Yuni Sri Wahyuni

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa  al-Dakhil fi  al-Tafsir  merupakan upaya menafsirkan  al-Qur’an  dengan segala hal yang cenderung bertentangan dengan tujuan dan makna teks al-Quran  secara khusus dan Islam secara umum.  Berdasarkan sumber-sumber al-dakhil fi  al-Tafsir  yang terdiri dari dua sumber yakni menggunakan riwayat (bi al-riwayah)  dan menggunakan ijtihad akal (bi al-ra’yu), maka sesuai dengan tema yang akan  disampaikan penulis dalam mengkaji hukum periwayatan al-dakhil melalui jalur  bi al-riwayah yang di dalamnya membahas mengenai hadis  ḍaif,  hadis mawdu’ dan Isrâîlliyyat.  Dalam pembahasan hukum  meriwayatkan al-dakhil kami fokus pada hukum meriwayatkan hadis da’if, hadis mawd{u’ dan Isrâîlliyyat.

A. Hadits Maudhu’ (Palsu)

1. Pengertian Hadits Maudhu’

Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya Maudhu’ menurut bahasa adalah sesuatu yang diletakkan sedangkan, menurut istilah hadīts maudhu’ adalah sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah SAW secara dusta.[1]

Menurut Imam Nawawi mengatakan: “Hadīts maudhu’ (palsu) adalah hadīts yang yang direkayasa, dibuat-buat, dan hadīts dhaif yang paling buruk. Meriwayatkannya adalah haram ketika mengetahui kepalsuannya untuk keperluan apapun kecuali disertai dengan penjelasan.”[2]

Jika dilihat dari konteksnya, setidaknya ada dua bentuk hadits maudhu’:

  1. Perkataan itu berasal dari pemalsu, kemudian disandarkan kepada Rasulullah Saw., sahabat maupun tabiin.
  2. Pemalsu mengambil perkataan itu dari sebagian sahabat, tabiin, sufi, ahli hikmah, orang zuhud atau israiliyyat dan kemudian disandarkan kepada Nabi Saw.

2. Ciri-ciri Hadīts Maudhu’

  1. Ciri-ciri yang terdapat pada sanad
  1. Rawi tersebut terkenal berdusta (seorang pendusta) dan tidak ada seorang rawi yang terpercaya yang meriwayatkan hadist dari dia.
  2. Pengakuan dari si pembuat sendiri
  3. Kenyataan sejarah, mereka tidak mungkin bertemu, seperti ada pengakuan dari seorang rawi bahwa ia menerima hadīts dari seorang guru, padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut, atau ia lahir stelah guru tersebut meninggal.
  4. Keadaan rawi dan faktor-faktor yang mendorongnya membuat hadīts maudhu.[3]
    1. Ciri-ciri yang terdapat pada matan.
  5. Keburukan susunan lafadznya

Kita akan mengetahui ketika kita sudah mendalami ilmu bayan, kita akan merasakan bahwa mana yang mungkin keluar dari mulut Nabi saw , dan mana yang tidak mungkin keluar dari mulut Nabi saw

  1. Kerusakan maknanya
  2. Karena berlawanan dengan akal sehat
  3. Berlawanan dengan hukum akhlak yang umum, atau menyalahi kenyataan
  4. Bertentangan dengan ilmu kedokteran
  5. Menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal terhadap Allah
  6. Menyalahi hukum-hukum Allah dalam menciptakan alam
  7. Mengandung dongeng-dongeng yang tidak masuk akal sama sekali
  8. Bertentangan dengan keterangan Al-Quran, hadīts mutawatir, dan kaidah-kaidah kulliyah.
  9. Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan-perbuatan yang sangat kecil, atau siksa yang sangat besar terhadap suatu perbuatan yang kecil.[4]

Contoh hadist maudhu

  1. أحب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما, وأبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوم ما

Perkataan ini berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib, bukan hadīts Rasulullah SAW. [5]

3. Hukum meriwayatkan hadīts maudhu’

Mengenai periwayatan hadits maudhu’ para ulama sepakat atas keharaman pembuatan hadits maudhu’ secara mutlak.  Hal ini diperkuat dengan hadist Nabi saw

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ.

Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Muslim)

Jumhur ahl al-sunnah sepakat bahwa berdusta itu termasuk dosa yang besar. Semua ahli hadīts menolak hadīts yang dibawa oleh pendusta atas nama Nabi saw. Bahkan Abu Muhammad al-Juwaini tidak segan-segan menghukumi kafir kepada mereka yang telah membuat hadīts maudhu’[6]

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa berdusta ternasuk dosa yang besar, apalagi jika berdusta atas nama Nabi saw. Perkataan Nabi saw senatiasa benar. Ini dijelaskan dalam Al-Quran. Allah saw berfirman :

Artinya :  “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS.al-Najm: 3-4)

Al-Mughiroh berkata saya mendengar Nabi saw bersabda :

Sungguh berdusta atas (nama)-ku tidak sama berdusta atas seseorang (selain aku), barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja  maka hendaknya dia menempati tempat duduknya di neraka.”

Berbeda dengan kelompok al-Karamiyyah yaitu pengikut Muhammad bin Karram As-Sijistani seorang tokoh anthropomorfisme (mujassimah) dalam teologi. Mereka membolehkan membuat hadits maudhu’ dalam masalah ketaatan dalam ibadah dan mengancam orang yang meninggalkan ibadah.[7]

Menurut Imam Nawawi  hadits maudhu’ itu sebenarnya bukanlah hadīts Nabi, tetapi dipalsukan sebagai hadīts Nabi. Pemalsu hadīts mengatakan bahwa apa yang diriwayatkannya adalah hadits Nabi, padahal sebenarnya bukan hadits. Isi hadīts palsu tidaklah selalu buruk atau bertentangan dengan ketentuan umum ajaran Islam. Hal itu dapat dimengerti bahwa sebagian dari tujuan pembuatan hadīts maudhu’ adalah untuk kepentingan dakwah dan ajakan hidup yang zuhud. Walaupun demikian haram hukumnya meriwayatkan hadits maudhu’ kecuali dengan penjelasan kepalsuannya.[8]

Berdasarkan penjelasan diatas, Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu’ adalah:

  1. Secara mutlak, ulama sepakat bahwa meriwayatkan hadits Maudhu’’ itu hukumnya haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu palsu. Hal ini berdasarkan sabda NabiSAW: “Barang siapa yang menceritakan hadits dariku sedangkan ia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta.”
  2. Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan kepada mereka sesudah meriwayatkan atau membacanya) maka tidak ada dosa atasnya.
  3. Mereka tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkan atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu, maka tidak ada dosa atasnya. [9]

Tidak masuk berdusta atas nabi, periwayatan hadīts dengan makna. Sebagaimana ulama membolehkannya, dengan catatan ia paham betul tentang syariat dan maksud pensyariatannya serta waspada terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi berubahnya makna. Seperti halnya para ulama sepakat akan diharamkannya memalsukan Hhdīts, mereka sepakat tentang keharaman meriwayatkannya tanpa menjelaskan ke-maudhu-annya. Mereka sama sekali tidak memperbolehkan meriwayatkan hadist maudhu’ baik yang berkenaan dengan cerita, motivasi apalagi yang berkenaan dengan hukum.

Nabi saw bersabda:

Dari Samurah bin Jundub r.a, Rasulullah saw bersabda:” Barang siapa yang mengucapkan suatu hadist dariku yang menduga bahwa itu dusta (palsu), maka dia termasuk satu dari dua pendusta”.[10]

B. Hadits Dhaif

1. Pengertian Hadits Dhaif

Hadis ḍhaif menurut bahasa adalah lemah, lawan dari qawi (yang  kuat).[11] Sedangkan  menurut istilah hadis ḍhaif adalah hadis yang di dalamnya tidak terpenuhi sifat-sifat hasan, karena tidak terdapat satu atau beberapa syarat hasan.[12]

2. Hukum Meriwayatkan Hadis Dhaif

Para  ulama  berbeda  pendapat  mengenai  hukum  meriwayatkan  hadis  ḍa’i>f  dan mengamalkan hadis ḍa’i>f. Perbedaan ini terbagi menjadi tiga pendapat:

  1. Hadis ḍa’if  tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam masalah hukum, akidah, targhib dan selainnya. Pendapat ini dipegang oleh sebagian besar ulama hadis,  seperti al-Hafiz Yahya bin Ma’in, al-Hafiz Abu Bakar Ibn al-‘Arabi al-Maliki, Imam Ibn Hazm, Imam al-Bukhary, Imam Muslim, dan Syaikh al-Islam Ibn Taymiyah.
  2. Boleh mengamalkan hadis ḍa’if dalam bab Fadail al-A’mal, dan targhib wa tarhib, namun tidak diamalkan dalam masalah  akidah dan hukum. Pendapat  ini dipegang oleh sebagian Ahl  al-Fiqh  dan  Ahl al-Hadis, seperti al-Hafiz Ibnu Abd  al-Barr, Ibn Salah, dan Imam Nawawi.
  3. Boleh mengamalkan  hadis  ḍa’if  secara  mutlak,  baik  dalam  masalah  fikih,  akidah dan selainnya, jika dalam masalah itu tidak didapatkan hadis-hadis  s}ahih ataupun hasan. Pendapat ini dinisbatkan kepada  Imam Ahmad dan muridnya Abu Dawud.

Para  ulama  membolehkan  periwayatan  dan  pengamalan  hadis  ḍa’i>f  dengan menetapkan beberapa syarat yaitu:

  1. Hadis tersebut tidak lemah sekali, bukan hadis yang derajatnya terendah apalagi hadis mawdu’
  2. Hadis tersebut  masuk dan ditunjuki  oleh suatu dasar umum  dan dipegangi  yang berasal  dari  hadis  Dimana  hadis ḍa’if  tidak boleh dijadikan asal  dan dasar dalam menetapkan suatu hukum.
  3. Hadis tersebut  khusus  Fadail al-A’mal, dan targhib wa tarhib.  Bukan  dalam masalah akidah, hukum urusan halal  haram dan yang lainnya, tafsir  al-Quran dan sebagainya yang sifatnya prinsip dalam al-Din.
  4. Orang yang  mengamalkannya  tidak  boleh  memasyhurkan  hadis  tersebut,  karena masyarakat awam jika melihat hadis itu mereka pasti menyangka bahwa hadis itu hadis Rasulullah saw.

C. Hukum Meriwayatkan Kisah-Kisah Israilliyyat.

Pembahasan tentang hukum meriwayatkan kisah Israilliyyat ini menuai beberapa pandangan yang kontradiktif diantara kalangan para ulama, ada ulama yang melarang dan ada pula yang membolehkan.

  1. Dalil-dalil yang melarang
  2. Dalil di dalam al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an, Allah telah berfirman mengenai karakter orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dalam Q.S. al-Maidah [5]: 41:

يا أَيُّهَا الرَّسُولُ لا يَحْزُنْكَ الَّذينَ يُسارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذينَ قالُوا آمَنَّا بِأَفْواهِهِمْ وَ لَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَ مِنَ الَّذينَ هادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَواضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتيتُمْ هذا فَخُذُوهُ وَ إِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئاً أُولئِكَ الَّذينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيا خِزْيٌ وَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذابٌ عَظيمٌ

“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”[13]

Ayat tersebut menjelaskan bahwa:

  • Orang-orang Yahudi itu sangat suka mendengar perkataan orang-orang atau pemimpin mereka yang berbohong.
  • Mereka sangat suka mendengar perkataan-perkataan Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada para pendeta dan teman-teman mereka dengan cara yang tidak jujur/berbohog.
  • Mereka juga suka mengubah isi kitab mereka (Taurat) dan menyembunyikan kebenarannya.

Q.S. al-Maidah [5]: 14:

وَ مِنَ الَّذينَ قالُوا إِنَّا نَصارى‏ أَخَذْنا ميثاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنا بَيْنَهُمُ الْعَداوَةَ وَ الْبَغْضاءَ إِلى‏ يَوْمِ الْقِيامَةِ وَ سَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِما كانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.”

Ayat tersebut menjelaskan tentang pengingkaran janji prasetia oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika hanya dilihat dalam ayat tersebut, kita akan susah dalam memahami ayat tersebut. Maka dari itu, ayat tersebut dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sangat suka mengingkari perjanjian-perjanjian prasetia mereka. Mereka dengan sengaja melupakan apa yang telah mereka janjikan.

Dari ayat-ayat dan penjelasan-penjelasan di atas, semua karakter-karakter tersebut adalah karakter orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu: mereka suka mendengar perkataan yang bohong, mereka juga suka mendengar perkataan yang benar akan tetapi mereka menyampaikan kembali dengan cara yang tidak jujur/berbohong, mereka juga suka mengubah isi dari kitab mereka (Taurat) dan menyembunyikan kebenarannya, selain itu juga mereka suka mengibgkari janji mereka.

  1. Dalil-dalil dari Hadits dan Atsar Sahabat

Dalil dari hadits Nabi Muhammad saw. Abu Hurairah r.a telah berkata, “Sesungguhnya Ahl al-Kitab itu membaca kitab Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya untuk umat Islam dengan bahasa Arab.”Lalu Rasulullah SAW.bersabda:

لَا تُصَدِّقُو اَهْلُ الكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُوْالُوْ اَمَنَّا بِالله وَمَا اُنْزِلَ إلَيْنَا … (رواه البخاري)

“Janganlah kamu membenarkan Ahl al-Kitab, dan jangan pula mendustakannya dan katakanlah olehmu, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan kepada kami…” (HR.Bukhari)

Hadits ini menjelaskan bahwa, hilangnya kepercayaan terhadap apa yang diriwayatkan oleh Ahl al-Kitab tentang kitab Taurat, dan sesuatu yang tidak dapat dipercaya tentu tidak boleh pula meriwayatkannya.[14]

Dalil hadits yang selanjutnya adalah hadits yang telah dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad dan Ibn Abi Syaibah dan Al-Bazzar dari hadits Jabir bin Abdullah: Bahwa Umar bin al-Khattab telah menghadap Nabi SAW dengan membawa sebuah kitab yang diambil dari Ahl al-Kitab.[15] Umar pun membaca kitab itu di hadapan Rasulullah. Maka tiba-tiba Rasulullah menjadi marah lantas bersabda,  “Adakah orang yang heran dan syak wahai anak al-Khattab? Demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya aku datang kepada kamu dengannya dalam keadaan putih bersih. Janganlah kamu tanya mereka mereka tentang sesuatu pun. Ditakuti mereka itu menceritakan perkara yang haq tetapi kamu menuduhnya dusta atau pun mereka bercerita dengan cerita bathil maka engkau membenarkan kata-katanya. Demi Tuhan yang mana diriku berada di kekuasaan-Nya! Sekiranya Nabi Musa masih hidup, pasti dia juga akan mengikutiku” – Musnad al-Imam Ahmad, Juz. 3 m/s 387, cetakan al-Maimaniah.[16]

Dalil selanjutnya yaitu: Umar Ibn Khattab r.a. telah melarang Ka’ab al-Ahbar yakni salah satu contoh Ahl Al-kitab yang berdusta, berkisah tentang ummat dahulu dan mengancam akan memulangkannya ke negerinya. ‘Umar berkata kepadanya:

لَتَتْرُكَنَّ الْحَدِيْثَ عَنِ اْلاَوَّلِ أَوْلألْحِقَنَّكَ بِأَرْضِ الْقِرَدَة

Artinya:“Akankah engkau tinggalkan berkisah tentang ummat dahulu, atau akan kupulangkan engkau ketanah kera!”

Ramzi Na’naah berkata,” Yang dimaksud dengan tanah kera ialah negeri Yaman.
Atsar Umar Ibn Khattab terkesan cukup keras, itu memberi pengertian bahwa apa yang diceritakan oleh Ahl al-Kitab seperti Ka’ab al-Ahbar yang berasal dari agama Yahudi itu tidak dipercaya. [17]

  1. Dalil-dalil yang membolehkan
  2. Dalil-dalil dari Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menunjukkan harusnya merujuk kepada ahli Kitab dan bertanya kepada mereka tentang apa yan ada pada mereka. Seperti dalam firman Allas SWT

….إِن كُنتَ فِي شَكٍّ مِّمَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكَ

“Dan kalau sekiranya enkau masih ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepada engkau, tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelum engkau!…” (Qs. Yunus  ayat 94)

Ayat tersebut menegaskah bahwasannya Allah telah mengharuskan Nabi Saw agar bertanya kepada ahli Kitab dan perintah ini bukan hanya berlaku bagi Nabi saja melainkan bagi umat-nya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.[18]

Ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai bolehnya merujuk dan bertanya kepada ahlu Al-Kitab dan Taurat yakni surah Ali-Imran ayat 93:

 

قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ….

“….katakanlah : Kemukankanlah Taurat itu dan bacalah, jika kamu memang orang yang benar!”

Qs. Ar-Ra’du ayat 43

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا ۚ قُلْ كَفَىٰ بِاللَّـهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِندَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

“Dan golongan yang tidak beriman itu berkata : Engkau bukan Rasul, (maka) katakanlah : Cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kamu, dan juga orang yang mempunyai pengetahuan tentang kitab”.

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa boleh bagi kita untuk mencari tahu dan merujuk pada kitabnya dan ahli kitabnya, adapun yang dimaksud dengan ahli kitab adalah orang yang mengetahui isi kandungan kitab taurat dan Injil dengan baik dan benar. Salah satu ahli kitab yang dianggab bisa dijadikan rujukan adalah Abdullah bin Salam. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن كَانَ مِنْ عِندِ اللَّـهِ وَكَفَرْتُم بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّـهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

 

“Katakanlah : Adakah kamu perhatikan, jika Al-Quran itu datang dari sisi Allah dan kamu menyangkalnya, dan seorang saksi daripada Bani Isrâ’îl menjadi saksi serupa itu lalu dia beriman, tetapi kamu menyombongkan diri? Sesunguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”.

Yang dimaksud ayat tersebut mengenai Bani Israil yang menjadi saksi adalah Abdullah bin Salam, yang mana setelah ia memperhatikan bahwa di dalam isi Al Quran ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ketauhidan, janji dan ancaman, kerasulan Muhammad Saw, adanya kehidupan akhirat dan sebagainya sehingga ia menyatakan keimanannya kepada Nabi Saw.

  1. Dalil-dalil dari Hadīts dan Atsar Sahabat

Dalil dari Hadīts

عَنْ عَبْدِا للهِ بْنِ عَمْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً  وَحَدِّثُوْا عَنْ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ  وَمِنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَارِ. (رواه البخارى)

Dari’ Abdullah Ibn’Amr r.a. ia meriwayatkan bahwa Nabi Saw telah bersabda: “Sampaikanlah dariapdaku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Isrâ’îl, tidak mengapa. Dan barang siapa yang berdusta kepadaku secara sengaja maka bersiaplah dirinya untuk mendapatkan tempat didalam Neraka”. (HR, Bukhari)

Hadis tersebut menyatakan bahwa kita boleh menceritakan tentang Bani Israil dan tidak berdosa, maka dari itu kita boleh meriwayatkan kisah-kisah Isrâ’îliyyah.[19]

 

  1. Hadīts yang telah diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dengan sanadnya Abdullah bin Mas’u<d

“Sesungguhnya Allah ‘Azzawajalla telah mengutuskan Nabi-Nya untuk memasukkan seorang lelaki ke dalam syurga. Maka Nabi pun memasuki sebuah gereja. Pada masa itu seorang Yahudi sedang membaca kitab Taurat kepada mereka (yang ada dalam gereja itu). Tatkala mereka sampai kepada sifat Nabi SAW (di dalam Taurat) mereka tidak membacanya, dan di penjuru gereja itu terdapat  seorang lelaki yang sedang sakit.

Maka Nabi Saw bertanya : “Mengapa kamu tidak membacanya?”

Lelaki yang sakit itu menjawab: “Sesungguhnya mereka sampai kepada pembacaan sifat seorang nabi maka mereka pun berhenti”.

Kemudian lelaki yang sakit itu merangkak dan mengambil kitab Taurat lantas membacanya sampai kepada sifat Nabi Saw. Dia pun berkata : “Ini adalah sifatmu dan sifat umat. Aku bersaksi bahawa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bahawa engkau adalah Rasulullah”­

-Sahih Bukhari – naskhah di tepi Fathul Bari, Juz. 6, m/s 319-320.[20]

Hadīts di atas menyatakan bahwa Nabi Saw telah mendengar beberapa orang Yahudi yang sedang membaca kitab Taurat bahwa di dalam kitab Taurat juga terdapat pembahasan mengenai kenabian dan sifatnya. Maka dari itu boleh bagi kaum Muslim untuk merujuk dan bertanya kepada ahl al-kitab dan kitabnya.

  1. Atsar Sahabat

Cerita-cerita yang menunjukkan sebahagian para sahabat merujuk kepada sebahagian ahli kitab yang memeluk agama Islam, bertanya kepada mereka tentang sebahaian apa yang terkandung di dalam kitab-kitab mereka seperti Abu Hurairah Ra, Ibnu Abba<s Ra, Ibnu Mas’ud Ra dan lain-lain lagi. Begitu juga tentang cerita Abdullah bin Umr yang telah mendapat dua naskhah kitab ahlul Kitab pada masa peperangan Yarmuk. Dia telah mengambil dariapda kedua-dua kitab itu.[21]

________________________________________________________________

[1]Manna’Al-Qaththan, Terj. Mifdhol Abdurrahman Lc, Ulu>m al-adith, Cetakan-I (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar 2005) 149

[2]https://onlyalthof.wordpress.com/2012/03/25/israiliyat-dan-hadits-hadits-maudhu-dalam-buku-buku-tafsir/2015/14/03

[3]Agus Solahudin, Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung: Pustaka Setia,2009),182.

[4]Ibid,183.

[5]https://onlyalthof.wordpress.com yang diakses pada tanggal 3 Maret 2015 dalam artikel Israiliyat dan Hadits-hadits Maudhu’ dalam Buku-buku Tafsir yang ditulis oleh Ust. Asrizal Musthofa Lc.

[6] Zaenal Muti’in Bahaf, Ulumul Hadits (Banten: Dhea- Nova Pres, 2011),111.

[7]ibid

[8]https://onlyalthof.wordpress.com/2012/03/25/israiliyat-dan-hadits-hadits-maudhu-dalam-buku-buku-tafsir/ 14 maret 2015

[9] http://risnadewara.blogspot.com/ 14 maret 2015

[10] Ibid,112

[11] Agus Salahuddin, Agus Suyadi, Ulumul Hadits. (Bandung: Pustaka Setia, 2009), 148.

[12] Zaenal Muti’in Bahaf, Ulumul Hadits (Banten: Dhea-Nova Press, 2011), 98

[13] Al-Qur’an Al-Karim (Terjemahan), Q.S. al-Maidah [5]: 41.

[14] http://zullihi.blogspot.com/2010/01/israiliyat-dalam-tafsir.html, Sabtu, 14 Maret 2015.

[15] http://marzukamartillo.blogspot.com/2014/07/hukum-meriwayatkan-israiliyat.html?m=1, Sabtu, 14 Maret 2015.

[16] Muhammad Husein adz-Dzahabi, al- Isrâ’îliyyah fi@ al-Tafsi@r wa al-Hadīts, juz I cetakan ke-III (Kairo, Maktabah Wahbah, 1986) 43.

[17] http://zullihi.blogspot.com/2010/01/israiliyat-dalam-tafsir.html, Sabtu, 14 Maret 2015.

[18] Dikutip dari: http:// marzukamartillo.blogspot.com/2015/14/05/hukum-meriwayatkan-Isrâ’îliyyah.html

[19] Dikutif darihttp://zullihi.blogspot.com/2010/01/israiliyat-dalam-tafsir.htm

[20] Dikutip dari http:// marzukamartillo.blogspot.com/2015/14/05/hukum-meriwayatkan-Isrâ’îliyyah.html

[21]Ibid. hlm.46

 

Daftar Pustaka

Al-Dahabi,  Muhammad Husayn, al-Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadith, Juz I Cet-III (al-Qa>hirah, Maktabah Wahbah, 1986).

Al-Qattan,  Manna’,  terj.  Mifdal  ‘Abd  al-Rahman,  ‘Ulum  al-Hadith,  Cet-I (Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2005).

Bahaf, Zaenal Muti’in, Ulumul Hadits, (Banten, Dhea-Nova Press, 2011).

Shalahuddin, Agus, Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung, Pustaka Setia, 2009).

http://marzukamartillo.blogspot.com/2014/07/hukum-meriwayatkanisrailiyat.html?m=1 (Sabtu, 14 Maret 2015).

http://onlyalthof.wordpress.com/2012/03/25/israiliyat-dan-hadits-hadits-maudhudalam-buku-buku-tafsir (Sabtu, 14 Maret 2015).

http://risnadewara.blogspot.com (Sabtu, 14 Maret 2015).

http://zullihi.blogspot.com/2010/01/israiliyat-dalam-tafsir.html  (Sabtu,  14  Maret

2015).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s