Klasifikasi al-Dakhil dalam Tafsir Al-Quran

Pemakalah: Jamilah – Namiedia Filda

Al-Dakhil berdasarkan pengertian bahasa diambil dari kata al-Dakhil, dalam tafsir berarti suatu aib dan kerusakan yang tersembunyi dan hakikatnya samar yang disisipkan di dalam tafsir al-Quran. Akibat  kesamaran tersebut, usaha untuk mengetahui dan mengungkapkannya membutuhkan suatu  penelitian.  Ibrahim Khalifah dan Hasyim Nayil menulis pengertian al-Dakhil sebagai berikut: Berdasarkan kandungan makna kebahasaan, pengertian al-Dakhil dalam tafsir adalah suatu kecacatan dan kesalahan yang tidak diungkapkan secara jelas dan terdapat di sela-sela tafsir al-Quran. Akibat kerahasiaan (kesamaran)  aib tersebut, maka usaha untuk mengungkapkannya membutuhkan suatu pemikiran yang serius.

Sedangkan definisi  al-Dakhil  dalam  tafsir  menurut  istilah adalah  penafsiran  Al-Quran  dengan riwayat  (al-Ma’tsur)  yang  tidak  sahih,  atau  penafsiran  Al-Quran  dengan  riwayat sahih tetapi tidak memenuhi syarat-syarat untuk diterima (ghair maqbul), atau juga penafsiran Al-Quran dengan nalar yang salah.

Pengertian  al-Dakhil  yang  diungkapkan  oleh  Sayyid  Mursy  Ibrahim  al-Buyumy  seperti  yang  dikutip oleh  Ibrahim  Nayil  adalah  semua  penafsiran  yang didasarkan pada khabar dan riwayat-riwayat yang dha’if apalagi maudhu’ dan setiap penafsiran yang dihasilkan tanpa terpenuhinya syarat-syarat penafsiran.[1]

A. Al-Dakhil dalam Tafsi r bi Al-Ma’thur (Al-Dakhil al-Naqli)

Menurut  Ibrahim Khalifah dan Ibrahim Nayil, ada sembilan  bentuk penafsiran  yang termasuk ke  dalam jenis al-Dakhil al-Naqli, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan hadis yang tidak dapat dijadikan hujjah. Di  antara hadis  yang tidak dapat  dijadikan  hujjah adalah  Hadis  Maudhu’  dan  Hadis  Dhaif,  terlebih  lagi  jika kedhaifan hadis tersebut  disebabkan oleh ketidakadilan perawi;  menafsirkan al-Qur’an dengan  pendapat sahabat yang tidak valid, seperti menafsirkan al-Qur’an dengan Hadis Mauquf yang dipalsukan atas nama sahabat atau sanad hadis tersebut dhaif; menafsirkan al-Qur’an dengan  pendapat  sahabat  yang  matannya mengenai masalah-masalah yang berada di luar ruang lingkup nalar, sedang  sahabat  yang mengutarakannya adalah sahabat yang dikenal sebagai  sahabat  yang sering menjadikan  cerita  Israiliyat sebagai sumber informasi dan periwayatan. Pendapat sahabat seperti ini dikelompokkan  dalam al-Dakhil al-Naqli dengan dua  syarat, yaitu: pertama, tidak adanya ayat Al-Quran atau hadis sahih yang sesuai atau senada dengan riwayat tersebut, dan  kedua, riwayat Israiliyat tersebut bertentangan dengan Al-Quran dan hadis  sahih. Sebaliknya, jika riwayat tersebut sesuai dengan Al-Quran atau dengan hadis sahih maka penafsiran dengan riwayat tersebut termasuk ke dalam Al-ashil al-Naqli; menafsirkan Al-Quran dengan pendapat sahabat yang kontradiktif dengan pendapat sahabat yang lain, sedang pertentangan tersebut sangat kontras dan  tidak  dapat  dikompromikan  atau  ditarjih;  menafsirkan  Al-Quran  dengan  pendapat tabi’in yang tidak  valid, seperti menafsirkan Al-Quran dengan Hadis Maqthu’ yang dipalsukan atas nama tabi’in atau sanad hadis  tersebut dhaif; menafsirkan Al-Quran dengan  Hadis  Maqthu’  yang  matannya  bersumber  pada  riwayat  Israiliyyat; menafsirkan Al-Quran dengan riwayat yang bertentangan dengan  salah satu  bentuk Al-ashil  al-Naqli  dari  ke-empat  bentuk  Al-ashi l  al-Naqli  yang  pertama di atas, sedangkan kontradiksinya sangat kontras dan tidak  dapat  dikompromikan; menafsirkan Al-Quran dengan riwayat dari salah satu bentuk Al-ashil al-Naqli ketiga terakhir  yang  bertentangan dengan nalar; menafsirkan Al-Quran dengan riwayat yang bertentangan dengan penafsiran yang lebih kuat dari salah satu bentuk  Al-ashil al-Naqli yang disebutkan di atas.[2]

Dari kesembilan bentuk Al-Ashil al-Naqli di atas, kami merincinya menjadi 7 klasifikasi.  Klasifikasi  inilah  yang  menjadi  instrumen  al-Dakhil  dalam  tafsir  bi  alMa’tsur.

1. Hadis Maudhu’

Hadis Maudhu’ adalah hadis yang apabila sebab kecacatan pada perawi  itu disebabkan  oleh  kedustaan  terhadap  Rasulullah  saw.  maka  hadis  tersebut  disebut Hadith  Maudhu’.  Maudhu’  menurut  bahasa  artinya  sesuatu  yang  diletakkan sedangkan,  menurut  istilah  h}adith  maudhu’  adalah  sesuatu  yang  diciptakan  dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah saw. secara dusta.[3]

Imam Nawawi mengatakan Hadis Maudhu’ (palsu) adalah hadis yang direkayasa, dibuat-buat, dan hadis dhaif yang paling buruk. Meriwayatkannya adalah haram ketika mengetahui kepalsuannya untuk  keperluan  apapun  kecuali  disertai dengan  penjelasan. Isi hadis  maudhu’  tidaklah  selalu  buruk  atau  bertentangan dengan ketentuan umum ajaran Islam. Hal itu dapat dimengerti bahwa sebagian dari tujuan  pembuatan  hadis  maudhu’  adalah  untuk kepentingan dakwah  dan  ajakan hidup  yang  zuhud.  Walaupun  demikian haram hukumnya meriwayatkan hadis maudhu’ kecuali dengan penjelasan kepalsuannya.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.‛ (HR. Muslim).

Ada dua bentuk hadis maudhu’ yaitu pertama, perkataan itu berasal  dari pemalsu  kemudian  disandarkan kepada Rasulullah  saw. sahabat maupun tabi’in. Kedua,  pemalsu  mengambil  perkataan  itu dari sebagian sahabat, tabi’in, sufi, ahli hikmah, orang zuhud atau Israiliyyat dan kemudian disandarkan  kepada  Rasulullah saw.

Contoh:

أحب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما, وأبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما

Perkataan ini berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib, bukan h}adith Rasulullah SAW. [4]

2. Hadis Dho’if

Secara bahasa dho’if adalah lawan dari kuat sedangkan secara istilah, hadis dho’if  adalah  hadis  yang  di  dalamnya tidak didapati  syarat  hadis sahih  dan tidak pula didapati syarat hadis hasan. Contoh:  sebuah  hadis yang mengatakan,‛barangsiapa yang sholat 6 rakaat setelah shalat  Maghrib dan tidak  berbicara  sedikitpun di antara sholat  tersebut maka, baginya sebanding dengan pahala ibadah selama 12 tahun.‛ Diriwayatkan oleh Umar bin Rasyid dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in dan Al-Daruqudni mengatakan bahwa Umar ini adalah dhoif. Imam Ahmad  juga  berkata‚ hadisnya  tidak  bernilai  sama  sekali.‛  Bukhari berkata,‛hadis  yang  munkar  dan  dhoif  jiddan.‛  Ibnu  Hibban  berkata,‛tidak  halal menyebut  hadis  ini  kecuali  untuk  maksud  mencatatnya,  karena  dia  (Umar) memalsukan  hadis  atas  nama  Malik  dan  Ibnu  Abi  Dzi’b  dan  selain  keduanya  dari orang-orang yang tsiqah (terpercaya).

3. Israiliyat

Muhammad Husayn al-Dzahabi menyatakan bahwa lafal Israiliyyat secara tekstual menunjukkan kepada cerita atau berita-berita yang berasal dari Yahudi atau Bani Israil, meskipun demikian lafal Israiliyyat digunakan pula penyebutannya kepada berita-berita dan cerita zaman dahulu yang berasal dari selain Yahudi baik itu Nasrani, Majusi, dan selainnya.[5]

Beliau juga mengemukakan dua pengertian Israiliyat, yaitu kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam tafsir dan hadits, yang asal periwayatannya kembali kepada sumber Yahudi, Nasrani, atau yang lain; dan sebagian ahli tafsir dan hadith memperluas lagi pengertian Israiliyat ini sehingga mencakup pula cerita-cerita yang sengaja diselundupkan  oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadith, yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.[6]

Menurut Amin Al-Khulli, kisah-kisah Israiliyat itu merupakan pembauran dari berbagai agama dan kepercayaan yang merembes masuk ke jazirah Arabia Islam karena memang sebagian kisah-kisah itu dibawa oleh orang-orang Yahudi yang sudah sejak dahulu kala berkelana ke arah timur menuju Babilonia dan sekitarnya serta ke arah barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negeri asal, mereka membawa pulang bermacam-macam berita keagamaan yang dijumpai di negeri-negeri yang mereka singgahi. Ketika para Ahli Kitab ini masuk Islam, mereka membawa pengetahuan keagamaan mereka dan memaparkan rincian kisah-kisah dalam kitab-kitab mereka ketika mendapati kisah-kisah kuno dalam Al-Qur’an.[7]

Para sahabat yang mencari referensi mutasya>biha>t seperti kisah-kisah Nabi dalam Al-Qur’an melalui pemaparan dari para Ahli Kitab ini tidak serta merta menerima penjelasan tersebut. Ada penjelasan yang mereka terima juga tetapi, juga ada yang mereka tidak terima dan tidak mendustakannya. Mereka berpedoman pada hadith Rasulullah SAW,

 لاتصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبواهم وقولوا آمنا بالله وما أنزا الينا وما أنزل اليكم

“janganlah kamu membenarkan (keterangan) Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya, tetapi katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami…” (HR. Bukhari).

بلغوا عنى ولو آية, وحدثوا عن بنى اسرائل ولا حرج, ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (أخرجه البخارى

Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat. Dan ceritakanlah dari Bani Israil karena yang demikian tidak di larang. Tetapi barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari).[8]

Israiliyyat yang tergolong ke dalam Al-Dakhi>l itu terbagi menjadi beberapa bagian. Al-Dzahabi mengkategorikannya menjadi 3 bagian yaitu pertama, yang sejalan dengan syari’at dan sahih; kedua, yang ditolak, bertentangan dengan syari’at dan juga tidak masuk akal dimana kategori ini tidak diterima kesahihan riwayatnya; ketiga, yang dibiarkan karena tidak termasuk kategori awal ataupun kedua.[9] Al-Dzahabi juga memberikan kategori lain dalam kitabnya Al-Israiliyt Fi Al-Tafsir Wa Al-Hadith dimana Israiliyat ini ditinjau dari berbagai segi, yaitu:

  • dari segi validitas sahih dan dha’if atau maudhu’ riwayat Israiliyat (Validitas sahihnya riwayat Israiliy), contoh:

Dalam tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari Ibn Jarir disebutkan bahwa “mengabarkan al-Mutsanna dari Utsman bin Umar dari Fulailah dari Hilal bin Ali dari Atha bin Yasar berkata: saya pernah bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Amr lalu kukatakan,”beritahukan kepadaku mengenai sifat Rasulullah SAW yang terdapat di dalam Taurat!” Ia menjawab,” والله انه لموصوف فى التوراة كصفة من القرأن. ياأيها النبى إنا أرسلناك شاهدا ومبشرا ونذيرا وخرا للأميين, أنت عبدى ورسولى, إسمك المتوكل ليس بفظ ولا غليظ baiklah, Demi Allah, beliau disifati di dalam Taurat sama dengan sifat beliau di dalam Al-Qur’an,“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan,” juga sebagai pelindung bagi kaum Ummiyyi>n (orang-orang yang tidak dapat membaca dan menulis). Engkau adalah hamba dan Rasul-Ku. Sebutanmu “al-Mutawakkil” (yang berserah diri), tidak berperangai jahat dan kasar, serta tidak diwafatkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla, hingga ia dapat menegakkan agama yang telah menyimpang dengan mengajak mereka mengucapkan,”bahwa tidak ada Illah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Allah semata.” Yang dengannya ia membuka hati yang tertutup, telinga yang tuli, dan mata yang buta.[10]

(Dha’if atau maudhu’), contoh:

Atsar yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad bin ‘Abdurrahman dari Abi Hatim Ar-Razi yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengenai kata (ق) di awal surah Qaf. Dia berkata bahwa atsar ini gharib dan tidak sahih, atsar ini termasuk khurafatnya Bani Israil. Nash atsar tersebut, yaitu:”telah berkata Ibnu Abi Hatim dari bapaknya, berkata ia,”saya mengbarkan dari Muhammad bin Isma’il al-Makhzūmi berkata kepada kami Laits bin Abi Salim dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas r.anh. berkata,”Allah Tabāraka wa Ta’āla telah menciptakan lautan samudera di luar bumi, lalu menciptakan gunung di luar lautan. Gunung itu merupakan bumi semisal bumi itu tujuh kali lalu menciptakan di luar lautan itu samudera, lalu menciptakan gunung di luar lautan itu yang demikian itu disebut “قاف” langit yang kedua berada di atasnya, sampai terbilang tujuh bumi, tujuh lautan, tujuh gunung dan tujuh langit. Ibnu ‘Abbas berkata, itu sesuai dengan firman Allah Ta’āla,”(( وَ الْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبحُر)). Q.S. Luqman : 27

Ibnu Katsir memberikan komentar lain selain komentar pertama,”isnad dari atsar ini terputus.” Dia berkata,”yaitu yang diriwayatan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas r.anh. dalam firman Allah yaitu ((ق)) adalah nama dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla. Dan yang ditegaskan dari Mujahid bahwa qaf itu adalah huruf dari huruf-huruf hijaiyah. Seperti firman Allah Ta’āla ((ص, ن, طس, ألم )) dsb. huruf-huruf ini menjadi permulaan bagi pembukaan.

  • Dari segi disepakati dan ditolak oleh syariat, terbagi menjadi tiga yaitu:

Pertama, disepakati karena sesuai dengan syariat; contoh:

Apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari berkata,”Abi Hilal dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abi Sa’id al-Khudri berkata bahwa Nabi SAW bersabda,”pada hari kiamat bumi menjadi satu tumpukan. Allah menghentikan tumpukan bimu itu dengan kuasa-Nya sebagaimana Dia menghentikan salah satu tumpukan dari Kitab yang diturunkn bagi penduduk surga.” Kemudian datang seorang laki-laki dari kaum Yahudi dan berkata,”Maha Pengasih memberkatimu, wahai Abi al-Qasim, ingatkah ketika aku mengabarkan kepadamu tentang penurunan penduduk surga pada hari kiamat?” Rasul menjawab,”iya.” Yahudi itu berkata,”bumi akan menjadi satu tumpukan—sebagaimana sabda Nabi SAW— maka Nabi melihat ke arah kami — lalu tertawa hingga nampak gusinya.”

Kedua, ditolak jika tidak sesuai dengan syariat; contoh:

Apa yang dinukil dari kisah Nabi Harun a.s. tentang Nabi Harun membuatkan kereta (sapi/lembu jantan) bagi Bani Israil untuk mengajak mereka beribadah mengikuti ajaran Nabi Harun. Kisah lainnya yang dinukil bahwa Allah mengosongkan semua amalan pada hari Sabtu dimana amal-amal akan diistirahatkan pada hari Sabtu. Kisah lainnya tentang Nabi Sulaiman dan para wanita yang sedang haid.

Ketiga, dibiarkan karena tidak menunjang syari’at dan juga tidak menentang syari’at,

  • Dari segi khabar yang diriwayatkan oleh orang Israil sendiri, terbagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, berhubungan dengan akidah; contoh: yang diriwayatkan oleh Bukhari mengenai perkataan seorang pendeta tentang dijadikannya bumi, langit, pohon, dan air dengan jari.

Kedua, berhubungan dengan hukum; contoh: tentang hukum rajm dalam Taurat

Ketiga, berhubungan dengan nasihat-nasihat atau peristiwa-peristiwa yang tidak sempurna kaitannya dengan akidah dan hukum, contoh: pembuatan kapal Nabi Nuh.[11]

4. Atsar Sahabat

Atsar menurut bahasa adalah sisa dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah ada dua pendapat pertama, ada yang mengatakan bahwa atsar itu sama dengan hadis, makna keduanya adalah sama. Kedua, ada yang berpendapat bahwa atsar berbeda dengan hadis, yaitu apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabi’in baik berupa ucapan dan perbuatan mereka.

5. Atsar Tabi’in

6. Penafsiran sahabat yang bertentangan dengan tujuan Al-Qur’an,

7. Penafsiran tabi’in yang bertentangan dengan tujuan Al-Qur’an

B. Ad-dakhil dalam Tafsir bi al-Ra’yi

Tafsir bi al-Ra’yi tafsir yang penjelasannya diambil berdasarkan ijtihad dan pemikiran mufasir yang telah menguasai bahasa Arab dan metodenya, dalil hukum yang ditunjukkan, serta problema penafsiran, seperti asbab al-nuzul, nasikh mansukh, dan sebagainya. Al-Farmawi mendefinisikan tafsir bil ra’yi sebagai penafsiran al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufasir tersebut mengetahui metode yang digunakan orang-orang Arab ketika berbicara dan ia pun mengetahui kosakata Arab beserta muatan artinya.[12]

Pada masa periode awal Islam, Ilmu Tafsir merupakan bagian dari Hadits, seiring berlalunya waktu serta bahasan di bidang Hadits yang semakin meluas, maka pada masa setelah Tabi’in pembahasan Ilmu Tafsir terpisah dari bahasan Hadits, ketika masa inilah mulai banyak lahir para Mufassir yang lebih mengendepankan akalnya dalam menafsirkan Al-Qur’an ketimbang menggunakan riwayat seperti halnya meriwayatkan Hadits, atau yang biasa dikenal dengan Tafsir bi Ar-Ra’yi. Dari sinilah kemudian secara perlahan masuknya Dakhil ke dalam Tafsir Al-Qur’an, bisa jadi ini disebabkan juga karena banyaknya kelompok-kelompok pecahan dalam Islam yang masing-masing mencari bukti, baik itu menggunakan Al-Kitab maupun As-Sunnah demi membenarkan kelompoknya masing-masing.[13]

Ada tujuh bentuk al Dakhil al-Ra’yi sesuai penyebabnya, yaitu:

  1. Al-Dakhil karena kesalahfahaman akibat kurang terpenuhinya syarat-syarat ijtihad meskipun penafsirannya ini didasari oleh niat yang baik.
  2. Al-Dakhil karena mengabaikan riwayat yang sahih dan mengabaikan makna dzahir ayat.
  3. Al-Dakhil secara tekstual; karena terlalu berpegang pada dzahir  ayat dan mengabaikan tuntutan nalar, padahal dzahir ayat tersebut bertentangan dengan nalar dan menuntut upaya ta’wil.
  4. Al-Dakhil karena faktor ekstrimitas pengungkapan makna-makna filosofis yang mendalam.
  5. Al-Dakhil karena faktor ekstrimitas pengungkapan kepelikan bahasa dan i’rab.
  6. Al-Dakhil karena faktor ekstrimitas pembuktian kemukjizatan al-Qur’an dalam berbagai disiplin ilmu sehingga mengungkapkan hal-hal baru seperti penemuan ilmiah yang tidak terkait dengan tujuan diturunkannya al-Qur’an.
  7. Al-Dakhil karena pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah dan upaya untuk merusak Islam, seperti penafsiran sesuai hawa nafsu dan kepentingan untuk mempertahankan faham golongan dan akidah yang sesat.[14]

a. Ilhad (berpaling) dari Muslim

Asal makna al-ilhad secara bahasa adalah menyimpang dan berpaling dari sesuatu. Imam Ibnu Katsir berkata, “Asal (makna) al-ilhad dalam bahasa Arab adalah berpaling dari tujuan, dan (berbuat) menyimpang, aniaya dan menyeleweng. Di antara (contoh penggunaannya) adalah (kata) al-lahd (liang lahad) dalam kuburan, (dinamakan demikian) karena liang lahad tersebut menyimpang dari pertengahan (lubang) kuburan ke arah kiblat.”[15]

Beberapa bentuk ilhad di antaranya, yaitu:

  • Mengingkari sebagian dari nama-nama-Nya atau mengingkari sifat-sifat dan hukum-hukum yang dikandung nama-nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu ta’thil (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala) dari kelompok Jahmiyah dan selain mereka.
  • Menjadikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serupa dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu tasybih (orang-orang yang menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk).
  • Menjadikan untuk berhala nama-nama yang diambil dari nama-nama Allah Ta’ala, sebagaimana perbuatan orang-orang musyrik yang mengambil nama untuk berhala mereka al-‘uzza dari nama Allah “al-‘Aziz” (Yang Maha Mulia dan Perkasa), demikian juga nama al-lata dari nama-Nya “al-Ilah” (Yang berhak disembah semata-mata), menurut salah satu pendapat.
  • Menyifati Allah Ta’ala dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan, padahal Allah Ta’ala Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat tersebut, seperti perkataan:

“tangan Allah terbelenggu..”[16]

b. Sikap terhadap ad-Dakhil

Mengetahui bagaimana mudahnya Al-Dakhil ini masuk ke dalam tafsir dan berbagai lini Islam maka, perlu perhatian lebih dalam menyikapinya. Rasulullah SAW menyikapi masuknya Al-Dakhil ini dengan beberapa sikap, yaitu:

  1. Nabi memperingatkan dan melarang para sahabat untuk meriwayatkan kisah-kisah Isra’illiyat yang datang dari ahlul kitab, dengan alasan mereka (para ahlul kitab) telah merubah isi kitab suci itu, serta menafsirkannya dengan mengikuti hawa nafsu mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari h}adith Jabir bin Abdillah, ketika itu Umar bin Khattab datang kepada Nabi dengan membawa lembaran kitab suci ahlul kitab kemudian membacakannya dihadapan Nabi, kemudian Rasul bersabda:

لاتسألوهم عن شئ فيخبروكم بحق فتكذبوا به، أو بباطل فتصدقوا به، والذي نفسي بيده

لو أن موسى حيا ما وسعه الا أن يتبعني

Ini berlaku ketika Rasulullah baru tiba di Madinah dan Islam belum menyebar keseluruh penjuru kota.

  1. Rasul mendiamkan ketika ada sahabatnya yang ingin meriwayatkan Isra’illiyat, kemudian beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dari hadits Abu Hurairah Ra:

لاتصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبواهم وقولوا آمنا بالله وما أنزا الينا وما أنزل اليكم

  1. Setelah agama Islam menyebar ke seluruh penjuru Madinah, dan keimanan kaum Muslimin pada waktu itu sudah semakin kokoh, maka Rasulullah pun memberikan izin kepada sahabatnya yang ingin mengambil atau meriwayatkan kisah-kisah Israilliyat dengan syarat kisah Isra’illiyat yang akan diriwayatkan harus benar. Dengan dalil h}adith yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Amru bin Ash:

بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني اسرائيل ولا حرج، ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Adapun para Sahabat dalam menyikapi hal ini, mereka memiliki syarat-syarat ketika ingin meriwayatkannya:

  1. Mereka meriwayatkan Isra’illiyat setelah mendapat izin dari Rasulullah, itupun dengan sangat hati-hati.
  2. Mereka menolak segala sesuatu yang menyangkut masalah aqidah dan juga syariat serta hukum Islam.
  3. Tidak meriwayatkan sesuatu yang telah dijelaskan oleh Nabi.
  4. Meninggalkannya jika sekiranya hal ini mengganggu waktu mereka dalam beribadah, serta kurang terlalu bermanfaat bagi mereka.
  5. Menolak segala perkataan ahlul kitab serta riwayat yang berasal dari mereka ketika bertentangan antara akal dan agama.[17]

 

[1] al-dakhil dalam tafsir mafatih al-ghaib.pdf

[2] https://aweygaul.wordpress.com/2012/08/09/kritik-metodologi-tafsir-studi-al-dakhil-dalamtafsir-mafatih-al-ghaib-karya-fakhruddin-al-razi/ diakses pada tanggal 27 Februari 2015

[3] Manna’ al-Qaththan, terj. Mifdhol Abdurrahman Lc. Ulum al-hadith, cetakan-1 (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), 149

[4]https://onlyalthof.wordpress.com yang diakses pada tanggal 3 Maret 2015 dalam artikel Israiliyat dan Hadits-hadits Maudhu’ dalam Buku-buku Tafsir yang ditulis oleh Ust. Asrizal Musthofa Lc.

[5]Muhammad Husayn al-Dhahabi, Al-Israiliya>t Fi> Al-Tafsi>r Wa Al-H}adi>th, juz I cetakan ke-III (Kairo, Maktabah Wahbah, 1986) 13.

[6]https://onlyalthof.wordpress.com yang diakses pada tanggal 3 Maret 2015 dalam artikel Israiliyat dan Hadits-hadits Maudhu’ dalam Buku-buku Tafsir yang ditulis oleh Ust. Asrizal Musthofa Lc.

[7]Ibid.

[8]Ibid.

[9]Muhammad Husayn al-Dhahabi,Al-Tafsi>r Wa Al-Mufassiru>n, juz I cetakan (Kairo, Da>r al-H}adith, 2005) 158-159

[10]‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Terj. M. Abdul Ghoffar, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 cetakan ke-I (Jakarta, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2008)  461

[11]Muhammad Husayn al-Dhahabi, Al-Israiliya>t Fi> Al-Tafsi>r Wa Al-H}adi>th, juz I cetakan ke-III (Kairo, Maktabah Wahbah, 1986) 36-42.

[12]al-dakhil-dalam-tafsir-mafatih-al-ghaib.pdf yang diakses pada tanggal 17 Februari 2015

[13]http://kajian-islah.blogspot.com/2009/04/dakhil-dalam-tafsir-al-quran.html dalam artikel yang ditulis oleh Imam Sururi yang diakses pada tanggal 25 Februari 2015

[14]al-dakhil-dalam-tafsir-mafatih-al-ghaib.pdf yang diakses pada tanggal 17 Februari 2015

[15]http://muslim.or.id/aqidah/penyimpangan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html dalam artikel Penyimpangan dalam Nama dan Sifat Allah di Masyarakat yang ditulis oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

yang diakses pada tanggal 06 Maret 2015

[16]http://muslim.or.id/aqidah/penyimpangan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html dalam artikel Penyimpangan dalam Nama dan Sifat Allah di Masyarakat yang diakses pada tanggal 06 Maret 2015 yang ditulis oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

[17]http://kajian-islah.blogspot.com/2009/04/dakhil-dalam-tafsir-al-quran.html dalam artikel yang ditulis oleh Imam Sururi yang diakses pada tanggal 25 Februari 2015

 

Daftar Pustaka

Al-Dhahabi, Muhammad Husayn.  Al-Isrāiliyyāt Fi  Al-Tafsīr Wa Al-Ḥadīth.  Kairo Maktabah Wahbah. 1986

Al-Dhahabi,  Muhammad  Husayn. Al-Tafsir  Wa  Al-Mufassirun.  Kairo:  Dar  al-Hadith, 2005.

Al-Qaththan,  Manna’.  Terj.  Mifdhol  Abdurrahman  Lc.  Ulum  al-Ḥadith.  Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2005

al-dakhil-dalam-tafsir-mafatih-al-ghaib.pdf

https://aweygaul.wordpress.com/2012/08/09/kritik-metodologi-tafsir-studi-al-dakhildalam-tafsir-mafatih-al-ghaib-karya-fakhruddin-al-razi/

https://dwisantosapambudi.blogspot.com/2012/11/israiliyyat-dalam-alquran.html

https://onlyalthof.wordpress.com

http://kajian-islah.blogspot.com/2009/04/dakhil-dalam-tafsir-al-quran.html

http://muslim.or.id/aqidah/penyimpangan-dalam-nama-dan-sifat-allah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s