Pengaruh al-Dakhil Terhadap Akidah Umat Islam

Pemakalah: Armawan – Harkaman

A. Pengaruh al-Dakhil Terhadap Akidah Umat Islam

  1. Tauhid (Keyakinan umat Islam terhadap Allah swt.)

Mempercayai Allah sebagai Tuhan Yang Esa adalah asas dari akidah Islam. Allah sebagai Tuhan semesata alam-menguasai alam dan seisinya. Demikianlah yang harus diyakini oleh setiap umat Islam. Apabila tidak meyakini hal tersebut, maka ia keluar dari tauhid sebagai prinsip dasar umat Islam, berarti ia termasuk orang yang musyrik. Lebih ekstrim dari itu, ia disebut sebagai orang mulhid (atheis)-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

Adapun yang betentangan dengan akidah, seperti kisah al-gharaniq. Diceritakan bahwa ketika Rasulullah membaca surah al-Najm ayat 1-20, Beliau memuji berhala; lata, uzzah, dan manat, karena ia kerasukan setan. Sehingga membuat kaum kafir ikut bersujud bersama ummat Islam.[1] Mengenai hal tersebut, kita harus menolaknya, karena sangat bertentangan akidah umat Islam.

Pada dasarnya, setiap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah swt. mempunyai misi yang sama, yaitu mengajak manusia kepada tauhid (beriman kepada Allah semata). Mereka itulah orang-orang yang tunduk dan patuh terhadap perintah Allah swt.

Kita juga bisa melihat upaya lain yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk merusak akidah umat islam. Misalnya cerita tentang Allah yang pernah lelah ketika menciptakan alam, bukankah cerita yang semacam ini akan mengakibatkan keyakinan kita terhadap ke-Mahakuasaan Allah luntur.[2] Tentunya, cerita tersebut bertentangan dengan apa yang tertulis di dalam al-Qur’an bahwa Allah pencipta segala sesuatu yang ada di langit dan bumi {QS. al-Baqarah (2): 29}, dan berkuasa atas segala sesuatu{QS.al-Baqarah (2): 282}. Karena termasuk perbuatan men-tajassum-kan Allah, sedangkan Allah sendiri tidak serupa dengan sesuatu.

 فاطِرُ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً وَ مِنَ الْأَنْعامِ أَزْواجاً يَذْرَؤُكُمْ فيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْ‏ءٌ وَ هُوَ السَّميعُ الْبَصير

 

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” {QS. al-Syu>ra (42): 11}

  1. Kemaksuman Nabi Muhammad saw.

Ulama kita sepakat bahwa Nabi saw. maksum (terjaga dari dosa). Analoginya, kita sama sekali tidak pernah mebayangkan bagaimana rasanya memakan bangkai tikus. Begitu juga dengan Nabi yang tidak pernah membayangkan-apa lagi terbesik dalam hatinya-untuk melakukan dosa. Karena memang tindakan dan perbuatan beliau selalu mendapat tuntunan dari Allah swt.

وَ ما يَنْطِقُ عَنِ الْهَوى‏ (3) إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحى‏ (4)

 “ Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” {QS. al-Najm (53): 3-4}

Adanya sisipan pada penafsiran mengenai suatu ayat tertentu dapat memicu timbulnya keraguan tentang keterjagaan Nabi saw. dari dosa. Hal ini dapat kita lihat pada cerita isra’iliyyat tentang Nabi saw. yang bertamu di rumah Zayd. Di kala itu Zayd tidak ada dan yang ada hanyalah Zainab-istri Zayd. Sesampai di sana, Nabi tergoda setelah melihat keindahan tubuh Zainab di balik tabir dan Nabi spontan memberi pujian kepada Allah swt. atas ciptaannya itu.[3]

Jika kemaksuman Nabi saw. dipertanyakan, maka akan berafiliasi juga kepada mempertanyakan kebenaran Nabi saw. Keharusan nabi maksum adalah konsekuensi logis yang harus disandarkan kepada seorang nabi. Karena wahyu diiturunkan kepadanya. Meragukan kebenaran Nabi berarti meragukan kebenaran bahwa Allah swt. sebagai Tuhan. Tentunya akan bertentangan dengan ayat berikut ini:

وَ إِلهُكُمْ إِلهٌ واحِدٌ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحيم‏

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” {{QS. al-Baqarah (2): 163}

Meragukan kenabian Muhammad saw., tentunya kita tidak akan meyakini ayat tersebut di atas, dan ini berarti tidak meyakini Allah swt. sebagai Tuhan yang Maha Esa-bahwa tiada Tuhan selain dirinya. Selain itu juga akan berdampak kepada keyakinan umat Islam terhadap rukun iman yang lain, di antaranya beriman kepada: malaikat, kitab-kitab Allah, hari kiamat, qad}a dan qadar, keadilan dan imamah.[4] Ini menunjukkan bahwa meyakini bahwa nabi Muhammad saw. itu maksum merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam ajaran Islam dan hal tersebut tidak bisa diitawar-tawar, apalagi diganggu-gugat.

B. Dampak al-Dakhil terhadap Akidah Umat Islam

Sebagian orang berpendapat bahwa adanya  al-dakhil memberikan khazanah penafsiran yang variatif dan tidak monoton. Hal ini disebabkan adanya manqulisasi periwayatan, perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi zaman yang menuntut kita terbuka untuk menafsirkan ayat al-Qur’an secara terbuka dan dinamis. Hal ini menjauhkan kita dari penafsiran yang kaku, sehingga al-Qur’an benar-benar salih likulli makan wa zaman (sesuai dengan setiap tempat dan waktu) tercipta.[5]

Pandangan tersebut di atas, mesti kita tinjau ulang. Mengingat al-dakhil mempunyai makna yang cenderung ke arah negatif. Oleh karena itu, al-dakhil fi al-tafsir tidak dapat dijadikan sebagai sumber penafsiran, dengan alasan yang kami sebutkan sebelumnya. Kita juga perlu tahu bahwa  faktor masuknya al-dakhil fi al-tafsir ada dua, yaitu pertama; Faktor Eksternal, ia berasal dari orang-orang yang memusuhi al-Qur’an, di antaranya orang-orang Yahudi, Nashrani, Orientalis (negatif) dan lain-lain, yang ingin merusak Islam dan mengotori ajaran Islam dengan hal-hal yang tidak layak. Mereka menyebar dan menyelipkan khurafat dan kebatilan-kebatilan kedalam al-Qur`an agar umat Islam merasa ragu dengan agamanya sendiri dari kitabnya.

Kedua; Faktor Internal, yaitu mereka yang mengaku bagian dari sekte Islam. Padahal mereka memiliki hubungan yang kuat dengan musuh Islam diatas. Sekte Islam itu hanya menjalankan strategi yang dirumuskan oleh musuh-musuh Islam. [6]

 KESIMPULAN

Al-dakhi>l fi al-tafsi>r merupakan segala bentuk susupan atau sisipan yang masuk ke dalam tafsir. Al-dakhi>l atau sisipan disini meliputi kisah-kisah isra’liyat, hadis maudhu’, hadis daif dan pendapat yang nyeleneh mengenai tafsir. Ada banyak dampak yang ditimbulkan oleh al-dakhil tersebut, diantaranya pada:

  1. Tauhid
  2. Kemaksuman Nabi saw.

Pada dasarnya, prinsip kerja al-dakhi>l adalah menyelinap dan membaur dengan tafsir, agar keberadaannya tidak teridentifikasi. Demikianlah sehingga banyak umat Islam yang tidak sadar bahwa apa yang ia dapatkan adalah suatu penafsiran yang dakhi>l. Tampaknya menjawab masalah-masalah yang ia hadapi. Misalnya mengenai warna anjing as{ha>bul kah{fi, jenis tongkat Nabi Musa as., dan lain-lain. Padahal sesunggunya menimbulkan masalah yang baru.

Perlu kita pahami bahwa kisah yang dituturkan di dalam al-Qur’an, tidak sedetail dengan kitab-kitab lainnya atau dengan kitab sejarah. Karena prinsip dasar al-Qur’an adalah mengedepankan ibrah, bagaimana pembacanya dapat mengambil pelajaran berupa hikmah darinya. Masuknya, al-dakhi>l dalam tafsir mempunyai misi bagaimana umat Islam melupakan tujuan utama diturunkannya al-Qur’an. Coba kita bayangkan, apa pentingnya mengetahui warna anjing as{ha>bul kah{fi. Sedangkan, bukan warna anjing tersebut yang ingin disampaikan oleh al-Qur’an. Tapi mengapa  as{ha>bul kah{fi lari dan bersembunyi ke dalam gua, itulah yang penting untuk kita ketahui. Sehingga nantinya kita dapat mengambil ibrah dari kisah tersebut.

Umat Islam sudah sepantasnya mewaspadai al-dakhi{l pada tafsir, agar akidah mereka tetap terjaga. Karena sadar atau tidak sadar al-dakhi>l dalam tafsir memiliki pengaruh yang besar terhadap akidah umat Islam.

________________________________________________________________

[1]Muhammad Husayn al-Dhahabi, Al-Isra’iliyya>t fi al-Tafsi>r wa al-H{>adi>ts, juz I, cetakan ke-3

[2]http://nuncenterkairo.blogspot.com/2012/11/mewaspadai-infiltrasi-asing-dalam.html

[3]Muhammad Husayn al-Dhahabi, Al-Isra’iliyya>t fi al-Tafsi>r wa al-H{>adi>ts, juz I, cetakan ke-3 (Kairo, Maktabah Wahbah, 1986), 14-15.

[4] Rukun Iman dalam perpektif sunni dan syi’ah, lihat: http://aqidatuna.com/tiga-pondasi-aqidah-islam/ dan http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/18/mempelajari-rahasia-ajaran-syiah-dari-sumber-aslinya-547879.html

[5]http://erwandigunawandly.blogspot.com/2014/05/ad-dakhil-implikasinya-terhadap-tafsir.html

[6]http://www.hasrof.com/2014/01/al-ashil-wa-dakhil-fi-tafsir.html

DAFTAR PUSTAKA

Al-Dhahabi, Muhammad Husayn. 1986. Al-Isra’iliyya>t fi al-Tafsi>r wa al-H{>adi>ts. Kairo: Maktabah Wahbah.

Al-Qur’an : http://www.alquran-digital.com.

http://nuncenterkairo.blogspot.com/2012/11/mewaspadai-infiltrasi-asing-dalam.html.

http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html.

http://erwandigunawandly.blogspot.com/2014/05/ad-dakhil-implikasinya-terhadap-tafsir.html.

http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html.

http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html.

http://masatox-education.blogspot.com/2012/01/bab-v-memahami-sumber-sumber-hukum.html.

http://saint-guerre.blogspot.com/2010/07/kebenaran-islam-pengaruh-israiliyyat.html.

http://erwandigunawandly.blogspot.com/2014/05/ad-dakhil-implikasinya-terhadap-tafsir.html.

http://www.hasrof.com/2014/01/al-ashil-wa-dakhil-fi-tafsir.html.

http://muslim.or.id/hadits/bahaya-dusta-atas-nama-nabi.html

http://aqidatuna.com/tiga-pondasi-aqidah-islam/ http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/18/mempelajari-rahasia-ajaran-syiah-dari-sumber-aslinya-547879.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s