Sumber-Sumber ad-Dakhil dalam Dimensi Sejarah Islam

Pemakalah: Ahmad Muti’ul Alim – Ahman Tanjung

A. Definisi dan Perkembangan ad-Dakhil

1. Pengertian ad-Dakhiil

Dalam bahasa Arab, kata al-Dakhil ini memiliki beberapa pengertian, diantaranya Fairuz Abadi dalam kitab kamusnya al-Muhit mengartikan kata al-Dakhil sebagai “sesuatu yang masuk ke dalam tubuh manusia ataupun akalnya berupa penyakit atau sesuatu yang jelek”. Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa al-Dakhil merupakan “suatu penyakit atau aib yang masuk ke dalam tubuh atau ke dalam makanan sehingga merusaknya”. Jum’ah Ali Abdul Qadir mengatakan makna al-Dakhil ialah “sesuatu yang sangat berbahaya dan menyelinap kepada lainnya dan tidak dapat disetujui pula jika ia datang secara tiba-tiba”.

Menurut para ahli bahasa bahwa al-Dakhil  adalah kalimat yang masuk dalam pembicaraan Arab dan dia bukan dari Arab, secara materi dia dapat diterima akan tetapi secara makna dia tertolak, rusak, cacat, tidak dapat dipercaya, dan lain-lain.

ad-Dakhil secara terminologi, menurut ulama tafsir yang didefinisikan oleh Dr. Ibrahim Khalifah ialah penafsiran terhadap al-Qur’an yang tidak memiliki sumber yang jelas dalam Islam, baik itu tafsir yang menggunakan riwayat-riwayat hadits yang lemah dan palsu, ataupun menafsirkannya dengan teori-teori sesat sang penafsir, baik itu karena lalai, disengaja, dengan tujuan-tujuan tertentu dan lain-lain.

Dari pengertian di atas menunjukkan sebuah jalan pemikiran kepada kita bahwa ad-Dakhil itu ialah sesuatu yang rusak, baik itu disebabkan karena kelalaian atau adanya unsur kesengajaan.

2. Sejarah Perkembangan ad-Dakhiil

Ada beberapa pandangan yang saya temukan mengenai sejarah munculnya al-Dakhil ini. Pra lahirnya Islam, masyarakat Arab adalah masyarakat yang memiliki hubungan cukup erat dengan bangsa Yahudi dan Nasrani lewat kebiasaan berdagang yang dilakukan oleh bangsa Quraish dua kali dalam setahun. Yakni pada musim dingin mereka melakukan perjalanan ke Yaman, dan pada musim panas ke Syam. Di samping mereka kaum Yahudi dan Nasrani berdagang, disela-sela itu pula mereka memanfaatkan kesempatan untuk menyebarkan pengetahuan yang mereka miliki dari kitab suci mereka kepada masyarakat Quraish yang belum banyak mengerti baca-tulis.

Tatkala Rasulullah Saw. mendeklarasikan hadirnya suatu agama baru (baca: Islam) yang bersumber dari Allah Swt., masyarakat Arab menemukan adanya beberapa persamaan antara apa yang dibawa oleh al-Qur’an dengan apa yang mereka peroleh dari kitab suci Yahudi dan Nasrani. Misalnya mengenai kisah-kisah para Nabi dimana kisah tersebut serupa atau bahkan sama dengan apa yang tertulis di kitab Taurat dan Injil. Hanya saja, metode yang digunakan dari kitab ini berbeda, al-Qur’an dalam menceritakan kisah-kisah tersebut hanya secara global, sedangkan dua kitab suci tersebut banyak menceritakan hal-hal kecil dan remeh secara terperinci dan detail. Seperti ukuran perahu Nabi Nuh dan jenis kayunya, warna anjing yang menemani Ashabul Kahfi di gua, dan lain sebagainya.

Berbicara soal riwayat israiliyyat dalam tafsir, tak lepas dari masuknya para Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) ke dalam Islam. Puncaknya terjadi pada masa pembunuhan Utsman bin Affan pada tahun 41 H, kaum Ahli Kitab yang masuk secara munafik mulai berani memasukkan ajaran-ajaran baru yang merusak kemurnian ajaran Islam dengan terang-terangan. Riwayat-riwayat Israiliyat dan hadits-hadits palsu mulai tersebar dengan mudah. Sehingga membuat masyarakat bingung dalam membedakan hadits yang original bersumber dari Rasulullah Saw. dengan hadits palsu yang diselundupkan oleh golongan munafik dan pembenci Islam. Hal inilah yang menjadi faktor munculnya dakhil dalam tataran riwayat (al-Dakhil fi al-Manqul).

Sementara itu, sejarah telah mencatat bahwa yang menjadi tonggak penggerak utama lahirnya al-Dakhil dalam tataran pemikiran (al-Dakhil fi ar-Ra’yi) dimulai ketika kaum muslimin terpecah menjadi beberapa sekte dan golongan, yang disebabkan karena kekacauan politik yang terjadi pada saat itu. Sekte dan golongan tersebut ialah, “Ahlu Sunnah, Mu’tazilah, Syi’ah, Murji’ah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah dan lain sebagainya”.

Dari sekte dan golongan yang bermunculan inilah cikal bakal al-Dakhi@l dalam tafsir. Setiap golongan menguatkan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan doktrin (sekte dan golongan) yang mereka pegang. Sehingga dari penafsiran mereka itu lahirlah pemahaman-pemahaman menyimpang yang jauh dari makna yang sebenarnya dari al-Qur’an.

Puncaknya, dakhil dan riwayat israiliyyat telah menjalar dibeberapa kitab tafsir, ketika para mufassir kurang teliti dalam meriwayatkan hadits, yakni ketika mereka meriwayatkan hadits tanpa mencantumkan perawinya, kecuali rawi yang A’la (perawi yang menerima langsung dari Nabi Muhammad Saw.). Dari problem ini memunculkan masalah yaitu bercampur baurnya riwayat shahih dan dhaif, ashil dan dakhil dalam tafsir.

Dari sinilah yang menjadi cikal bakal masuknya al-Dakhil dalam penafsiran-penafsiran al-Qur’an. Dibalik kepentingan golongan mereka, juga disebabkan karena adanya polemik yang terjadi antar umat pada saat itu. Sehingga dengan mudahnya, hal ini terjadi dan berkembang pesat.

B. Sumber-Sumber al-Dakhil fi Tafsir

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa al-Dakhil merupakan upaya menafsirkan al-Qur’an dengan segala hal yang cenderung bertentangan dengan tujuan dan makna teks al-Qur’an secara khusus dan Islam secara umum. Praktik ini sering kali mencampur-baurkan antara ajaran Islam dengan non-Islam, tidak memperhatikan tingkat keshahihan Hadits, dan tidak mengikuti syarat-syarat penafsiran, sehingga makna penafsiran kemungkinan besar akan menyimpang.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa al-Dakhil fi Tafsir terbagi menjadi 7 macam[1], namun secara garis besar, sumber-sumber al-Dakhil fi Tafsir hanya terdiri atas 2 macam, diantaranya:

  1. Menggunakan riwayat (bi al-riwayah)
  2. Menggunakan ijtihad akal (bi al-ra’yu)

Menggunakan Riwayat (bi al-riwayah)

Adapun sumber pertama ini, merupakan hasil ringkas dari beberapa jenis pembagian yang menurut kami terlalu berpanjang lebar. al-Dakhil fi Tafsir yang menggunakan riwayat terdiri dari dua macam, yaitu;

  1. Hadits

Hadits secara terminologi merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, atau pun ketetapan (taqrir)[2]. Pada zaman nabi, Hadits memegang peranan yang penting selain al-Qur’an, untuk menjelaskan berbagai perkara yang dihadapi oleh masyarakat. Ketika ada suatu persoalan, masyarakat akan meminta pendapat Rasulullah mengenai masalah yang terkait. Namun, perpecahan dalam internal Islam yang berujung pada pergolakan pemikiran serta politik, melahirkan ribuan bahkan ratusan ribu Hadits yang muncul sepeninggal rasulullah SAW. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari peranan Rasulullah yang telah disepakati sebagai patokan kebenaran oleh Islam yang masih muda pada saat itu, sehingga kepentingan politik mendorong setiap ulama’ untuk menciptakan Hadits yang seolah-olah disandarkan kepada Rasulullah. Ini pula lah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya klasifikasi Hadits yang kita kenal hingga saat ini, yaitu Hadits Shahih, Hasan, dan Dhaif. Klasifikasi tersebut dimunculkan agar umat Islam mampu membedakan Hadits mana yang benar-benar berasal dari Rasulullah, dan Hadits mana yang merupakan rekaan dari para musuh-musuh Islam.

Keterkaitan antara Hadits dan penafsiran pula mengakibatkan kekhawatiran tercemarnya tafsir-tafsir al-Qur’an akan Hadits-Hadits maudhu’ (palsu), yang berkembang seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan Hadits. Awal mula kemunculan Hadits-Hadits maudhu’ yaitu pada tahun 41 Hijriah, ketika orang-orang muslim berbeda dalam perpolitikan, berpecahnya mereka menjadi Syi’ah, Khawarij dan jumhur. Selain itu juga didapati para ahli-ahli bid’ah yang menyebarluaskan kebid’ahan mereka, dan orang-orang yang senantiasa condong terhadap hawa nafsu mereka, kemudian mereka masuk Islam dengan cara menyembunyikan kekafiran mereka yang bertujuan untuk menyesatkan orang-orang Muslim dan meletakkan riwayat-riwayat yang bathil[3].

Contoh penggunaan Hadits maudhu’ dalam penafsiran al-Qur’an adalah ketika sebagian riwayat memaknai surat al-Ahzab ayat 37

وَ إِذْ تَقُولُ لِلَّذِى أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَ اتَّقِ اللَّهَ وَ تخْفِى فىِ نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَ تخْشىَ النَّاسَ وَ اللَّهُ أَحَقُّ أَن تخْشَئهُ  فَلَمَّا قَضىَ‏ زَيْدٌ مِّنهَا وَطَرًا زَوَّجْنَكَهَا لِكَىْ لَا يَكُونَ عَلىَ الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فىِ أَزْوَاجِ أَدْعِيَائهِمْ إِذَا قَضَوْاْ مِنهُنَّ وَطَرًا  وَ كاَنَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Terdapat Hadits yang menyatakan bahwa ayat tersebut diturunkan ketika Nabi hendak menikahi Zainab binti Jahsy.[4] Diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi pergi ke rumah Zaid. Sesampainya di rumah Zaid, tersingkap tabir tirai rumahnya sehingga Rasulullah dapat melihat kecantikan istri Zaid (Zainab). Disebutkan bahwa tumbuh kecintaan dalam hati Rasulullah, hingga beliau mengucapkan ‘Subhanallah al-Adzim. Subhanallah Muqallib al-Qulub’. Ketika Zaid mengetahui hal ini, ia meminta Rasulullah untuk mengawini istrinya.

Menganalisa dan mencermati Hadits semacam ini, sulit dipercaya jika Rasulullah adalah pribadi seperti yang digambarkan di atas. Implikasi dari diyakininya penafsiran seperti ini adalah bahwa Nabi menggunakan posisinya untuk mendapatkan apa yang beliau kehendaki. Atau lebih buruk lagi bahwa beliau merusak rumah tangga orang lain. Naudzubillah. Riwayat semacam ini merupakan riwayat yang dha’if dan tidak berdasar serta tidak logis jika dirasionalisasikan. Apakah mungkin seorang Nabi yang mengemban misi kenabian masih memikirkan kepuasan yang lain (dalam tanda kutip) selain memikirkan bagaimana cara mendidik dan menanamkan nilai-nilai dan fondasi Islam yang kuat pada saat itu?

Contoh lainnya adalah penafsiran surat al-Fajr ayat 6-8

أَ لَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ . إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ . الَّتىِ لَمْ يخْلَقْ مِثْلُهَا فىِ الْبِلَدِ

Hadits yang sering dipakai untuk menafsirkan ayat ini adalah Hadits riwayat Tsa’labi dari jalur Ustman Ad-Dārimī, dari Abdullah bin Ṣalih, dari Abi Luhai’ah, dari Khalid bin Abi Imrān, dari Wahab bin Munabbih, dari Abdullah bin Qalābah. Hadits tersebut menceritakan secara detail gambaran tentang Raja ‘Ad, yaitu Syaddad bin ‘Ad, dan kota ‘Adn. Berawal ketika raja ‘Ad mendapatkan kabar mengenai gambaran surga, akhirnya ia memerintahkan kepada rakyatnya semua untuk membangun kota ‘Adn untuk menandingi surga[5].

Takhrīj yang dilakukan oleh Abdullah Al-Gumārī menyatakan bahwa Hadits tersebut adalah Maudhu’. Kemauḍhu’an terjadi karena faktor sanad dan matannya. Faktor sanad yaitu Ibnu Qilābah, sementara faktor matan karena isi kandungan Hadīts yang sangat detail dalam menggambarkan kota ‘Ad dengan Iram nya. Hingga seolah-olah rawi tersebut menyaksikannya sendiri[6].

  1. Kisah-Kisah Israiliyyat

Israililyyah berasal dari bahasa Ibrani, Isra yang berarti hamba atau pilihan, sedangkan il/el bermakna Allah. Oleh karena itu israil atau israel bermakna ‘hamba Tuhan’ atau ‘pilihan Tuhan’[7]. Menurut Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Isrâ’îliyyah adalah pengetahuan yang bersumber dari bani Israil, kitab dan pengetahuan mereka, atau dongeng dan kebohongan mereka. Sedangkan Ali al-Hasan menyebutkan bahwa Isrâ’îliyyah ini lebih spesifik menunjukkan corak keyahudian, disebabkan waktu itu aspek keyahudian tersebut sangat kental sehingga banyak terjadi penukilan dari mereka. Waktu itu jumlah mereka banyak dan tradisi mereka juga menonjol ketimbang orang-orang kristen. Mereka para kaum Yahudi juga banyak bergaul dengan kaum muslim. Sementara Dr. Zahabi dalam mendefinisikan Isrâ’îliyyah tidak menspesifikasikan Isrâ’îliyyah hanya perihal riwayat Yahudi saja. Namun beliau juga menggolongkan kepada Nasrani. Dari kedua sumber tersebutlah menjadi sebuah istilah yang disebut Isrâ’îliyyah. Hanya saja, yang lebih besar pengaruhnya dan yang lebih kental adalah nuansa Yahudinya ketimbang Nasrani[8]

Penafsiran menggunakan israiliyyat marak dilakukan pada masa awal Islam. Hal ini merupakan dampak atas interaksi yang dilakukan antara umat Islam dengan yahudi yang berlangsung dalam tempo waktu yang relatif lama. Interaksi semacam ini kemudian menimbulkan singgungan-singgungan yang menyebabkan para ahli kitab baik Yahudi maupun Nasrani menyusupkan cerita, ajaran atau aqidah mereka ke dalam kitab-kitab atau tafsir yang beredar sangat bebas pada saat itu.

Munculnya Isrâ’îliyyah kedalam ilmu tafsir juga melalui dua fase (period of time). Yang pertama adalah fase riwayah, yaitu para sahabat banyak menanyakan kepada para ahlul kitab tentang kisah-kisah umat terdahulu. Namun pada masa sahabat, riwayat-riwayat Isrâ’îliyyah itu masih belum banyak dan menyebar luas. Karna para sahabat sangat hat-hati dalam menanyakan suatu hal yang berkenaan penafsiran al-quran kepada ahlul kitab. Hingga kemudian pada masa tabiin semakin meluas hingga pada permasalahan-permasalahan fadilah, maw’idzoh, dan lain sebagainya yang bersumber dari cerita-cerita orang ahlul kitab walaupun ada yang tidak masuk akal dari cerita tersebut[9].

Sedangkan yang kedua yaitu pada fase Tadwin, pada awalnya Isrâ’îliyyah tidak banyak masuk kedalam Tafsir. Karena tafsir adalah sub bab dari ilmu hadis, maka riwayat-riwayat tentang tafsir sangat ketat dan di seleksi hingga sedikit sekali cela untuk masuknya cerita-cerita Isrâ’îliyyah kedalam ilmu tafsir. Namun setelah terjadi pemisahan menjadi disiplin ilmu tersendiri, sanad-sanad yang ada dihapus dan dihilangkan. Pada masa itulah masuknya cerita-cerita dan riwayat Isrâ’îliyyah kedalam ilmu tafsir bak jamur dimusim hujan . Pada masa tadwin inilah Isrâ’îliyyah memberikan pengaruh yang begitu besar dalam sejarah ilmu tafsir. Maka tidak heran jika Imam at-Tobary sebagai sesepuh di kalangan Mufasir sendiri masih banyak mengadopsi cerita-cerita Isrâ’îliyyah tanpa di beritakan tentang ke absahannya. Kemudian seperti tafsir Maqatil bin sulaiman, Lubâbû at-Ta’wil fi ma’anî at-Tanzil milik al-Khozin, ruhul ma’âny fi at-Tafsir al-Quranil adzim wa as-Sab’u al-Matsanî milik Alusy dan lain sebaginya.[10]

Dan yang lebih fatal lagi, ketika buku-buku tafsir -yang menggunakan system bil ma’tsur- banyak terdapat riwayat Isrâ’îliyyah di cetak tanpa di-tashi@h terlebih dahulu, telah beredar ke seluruh penjuru dunia. Sehingga sangat sulit sekali untuk menghilangkan riwayat-riwayat Isrâ’îliyyah tersebut. Jika yang membacanya adalah orang yang mengerti atau paham dalam bidang tafsir, mungkin masih bisa untuk menjelaskan dan mengkounter cerita-cerita Isrâ’îliyyah tersebut. Namun jika yang membacanya adalah orang awam, atau yang bukan di bidangnya, maka tak dapat dielakkan lagi jika terjadi subhat dan bid’ah yang beredar di masyarakat. Maka jangan heran bila dimasyarakat kita ada sebagian orang yang menyampaikan kisah atau menjelaskan sebuah ayat al-Qu’ran dengan kisah yang nyleneh dan kemudian menyimpulkan dari kisah tersebut sebuah hukum kemudian dipakai di masyarakat luas.[11]

Contoh penggunaan israiliyyah ketika menafsiran surat yang berkenaan dengan cerita Nabi Ayyub:

Qotadah ra. meriwayatkan, dia berkata, “Nabi Ayyub telah kehilangan harta dan keluarganya, dijasadnya terdapat banyak binatang, dia diuji selama 7 tahun lebih, beliau diasingkan di Sinagoge, lalu Allah mengganti seluruh ujian itu dengan pahala yang besar dan juga nikmat yang jauh lebih baik daripada sebelumnnya.[12]

Hasan Al-Bashri dan Qotadah berkata : “Nabi Ayyub diuji oleh Allah selama tujuh tahun lebih, beliau diasingkan di sinagogenya bani Isroil, bermacam-macam binatang hidup di badannya, maka Allah mengganti dari seluruh ujian itu pahala yang besar dan memujinya dengan sebaik-baiknya pujian”.[13]

Berkata Wahab bin Munabbah: “Nabi Ayyub mengalami musibah selami tiga tahun tidak kurang tidak lebih”. Berkata As-Sadi: Daging Nabi Ayyub digerogoti, tidak ada yang tersisa kecuali urat dan tulangnya.[14]

Ibnu Hatim meriwayatkkan dengan sanadnya dari Az-Zuhri dari Anas bin Malik bahwa Rosulullah bersabda: Sesungguhnya Nabi Ayyub diuji oleh Allah selama 18 tahun, maka teman-temman jauh dan dekatnya menjauhinya kecuali dua orang saja, mereka adalah teman khususnya. Keduanya memberi makan Nabi Ayyub dan memboyongnya. Maka berkata salah seorang diantara mereka. Apakah kamu tahu? Demi Allah sesungguhnya Ayyub telah berbuat dosa yang belum pernah dilakukan seorangpun di jagat raya ini. Maka sahabatnya itu berkata. Apakah itu? Ia menjawab : selama 18 tahun ia tidak Allah kasihi, maka Allah menyembuhkannya. Maka ketika ia menghadap Nabi Ayyub ia tidak sabar dan menyebutkannya hal itu. Maka Nabi Ayyub berkata : Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Selain Allah mengetahui sesungguhnya aku menyuruh dua orang yang sedang bertengkar. Maka keduanya mengingat Allah. Maka Aku kembali ke rumahku. Maka aku menyembunyikan dari mereka hawatir mereka akan mengingat Allah kecuali pada kebenaran.[15]

Ibnu katsir berkata: Hadits ini sampai kepada Nabi dengan predikat ghorib sekali. Sekalipun Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan : Hadits yang paling sohih mengenai kisah Nabi Ayyub adalah apa yang diriwayatkan oleh ibnu Abi Hatim dan ibnu Jarir. Dan disahkan oleh ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan sanad dari Anas bin Malik seperti Hadits di atas.[16]

Contoh lainnya terdapat dalam riwayat

“Sesungguhnya umur dunia itu adalah 7000 tahun, sedangkan aku diutus pada bagian akhirnya.” (diriwayatkan oleh Ibn Jauzi. Ibn ‘Atsir mengatakan : lafadznya dibuat-buat)[17]

Menurut Rasyid Ridha, Hadits yang menyebutkan mengenai umur dunia di atas merupakan Hadits yang dha’if. Beliau mengatakan bahwa Hadits-Hadits yang menyebutkan bahwa dunia berumur 7000 tahun itu diambil dari certa-cerita israiliyyah yang dibawa oleh orang-orang zindiq dari kalangan Yahudi dan Persia[18].

Penafsiran lainnya adalah tafsir al-Tsa’labî ketika menafsirkan Sûrah al-Kahfi: 10. Al-Dzahabî menilai penafsiran al-Tsa’labî terdapat kejanggalan dan deviasi. Hal itu disebabkan al-Tsa’labî bercerita panjang lebar, dimana periwayatannya berasal dari kisah isrâiliyyât.

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ…

“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung…”

Dengan mengutip cerita-cerita isrâiliyyât, al-Tsa’labî menjelaskan kisah mengenai ashâb al-Kahfi dari riwayat Wahab bin Munabbih. Tsa’labi menerangkan nama-nama ashâb al-Kahfi yaitu Miktsilimitsa, pemuda yang paling besar dan pemimpin mereka, Imlikha, yang paling tampan, rajin beribadah dan penuh semangat, Maktsitsa, Martus, Nawanus dan Kidastitanus. Sedangkan anjing mereka bernama Qitmir[19].

Menurut al-Dzahabî, Al-Tsa’labî mengutip riwayat dari Ka’ab, “Mereka menjumpai anjing yang sakit-sakitan di jalan membuntuti mereka. Mereka –ashabul kahfi- berkali-kali berusaha mengusir anjing tersebut. Kemudian anjing itu berdiri di atas kedua kakinya dan menengadahkan tangan ke langit seperti orang berdoa dengna mengatakan ‘kalian jangan takut pada saya. Saya adalah kekasih tercinta Allah. Tidurlah, saya akan menjagamu…”[20]

Tsa’labi melanjutkan kisah tersebut kemudian mengatakan: “Konon nabi Muhammad memohon untuk dipertemukan dengan pemuda-pemuda itu tetapi Allah menjawab ‘kamu tidak akan dapat menemui mereka di dunia ini. Utuslah empat orang sahabatmu yang terpilih menyampaikan risalahmu dan mengajak mereka untuk beriman’. Nabi bertanya pada jibril: ‘bagaimana cara mengutus mereka?’. Jibrib menjawab: ‘bentangkan pakaianmu dan suruhlah Abû Bakar, Umar, Utsmân dan Ali untuk duduk di empat ujungnya. Lalu undanglah hembusan angin yang dikuasai nabi Sulaiman. Allah akan menyuruh untuk mematuhimu’. Nabi pun melaksanakan perintah jibril tersebut. Maka datanglah hembusan angin yang kemudian membawa empat sahabat itu ke mulut gua. Batu yang menutup pintu gua terbuka. Lalu mereka disambut oleh anjing yang menggerak-gerakkan kepala dan mengerdipkan matanya begitu melihat ke empat sahabat yang datang[21].

Dengan isyarat kepala, anjing itu mempersilahkan masuk ke dalam gua. Mereka memasuki gua dan mengucap salam. Kemudian Allah mengembalikan ruh ke dalam jasad ashâb al-Kahfi itu. Mereka berdiri dan menjawab salam empat sahabat tersebut. Dan setelah itu mereka membalas salam nabi dan masuk Islam, kemudian menitipkan kembali salam kepada nabi. Setelah itu mereka kembali berbaring dan melanjutkan tidur mereka[22].

Riwayat-riwayat seperti yang telah disebutkan di atas, sekali lagi akan menghasilkan penafsiran yang rancu. Dan jika dibiarkan, maka bukan tidak mugkin jika nanti akan muncul penafsiran yang malah menyalahi maksud dan tujuan dari al-Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu 2 penafsiran dengan menggunakan riwayat ini perlu diperhatikan tingkat otentisitas serta kebenaran matannya. Karena bagaimana pun Hadits memiliki peran yang cukup besar dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang hanya memberikan penjelasan secara global.

  1. Sumber Kedua : Menggunakan Ijtihad Akal (bil ‘aqli)

Penafsiran menggunakan ijtihad akal menimbulkan banyak persepsi. Di satu pihak terdapat ulama yang menyatakan bahwa boleh menggunakan akal sebagai instrumen dalam menafsirkan al-Qur’an. Sebaliknya, terdapat pihak yang meyatakan bahwa akal tidak boleh ikut campur dalam penafsiran al-Qur’an. Bagaimanapun, manusia secara naluriah menggunakan akalnya untuk berpikir. Apa pun bentuk penafsiran, peran akal tentu tidak bisa dilepaskan. Baik penafsiran yang menggunakan riwayat (riwayah) atau menggunakan akal (ra’yu).

Akal secara otomatis berkembang sejalan dengan kehidupan manusia. Atas dasar inilah penafsiran yang menggunakan akal berperan untuk menafsirkan al-Qur’an sejalan dengan perkembangan zaman. Sehingga penafsiran al-Qur’an akan selalu up to date dan segar, sehingga mampu menjadi pedoman bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang terus berkembang. Namun tentu saja, akal tidak bekerja sendiri. Akal membutuhkan standar-standar khusus yang berfungsi agar akal tidak memberikan penafsiran secara bebas dalam artian tidak memiliki kaitan dengan al-Qur’an atau malah berlawanan dengan maksud dan tujuan al-Qur’an. Menafsirkan al-Qur’an dengan akal dan menyandarkan pikirannya hanya pada hal-hal yang sifatnya logis akan tetapi bertentangan dengan makna sesungguhnya merupakan sebuah kesalahan[23], karena tidak semua hal mampu dicerna dan ditangkap melalui proses rasionalisasi.

Dakhil diakibatkan karena pemutarbalikan logika dan pengabaian makna literal. Dakhil karena faktor ini salah satunya dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah dan sebagian filosof lainnya[24]

Memposisikan ayat al-Quran sebagai dasar pengesahan sesuatu yang belum pasti kebenarannya adalah suatu kesalahan. Teori-teori ilmiah masih bersifat sementara dan belum final. Al-Quran adalah kitab suci yang berisi hidayah terkadang mengisyaratkan beberapa bagian masalah ilmiah yang eksperimental lagi berwujud. Banyak orang menyikapi al-Quran secara tidak wajar. Mereka mengklaim bahwa al-Quran telah mencakup semua cabang disiplin ilmu yang telah dipelajari dan yang akan dipelajari manusia seperti ilmu fisika, matematika, logika dan semua keterampilan serta keahlian[25].

Contoh tafsir ilmi yang mengungkap aspek I’jaz al-Quran :

dan Dia-lah yang menurunkan air dari langit lalu dia hasilkan dengan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu..”  (Qs. Al-Baqarah : 22)

Dalam menafsirkan ayat ini Dr. Abdul Aziz Ismail menyatakan bahwa ayat ini mengindikasikan bahwa daging, ikan dan susus lebih bergizi dan utama daripada sayur-sayuran, gandum dan jagung. Keutamaannya tidak pada kandungan kadar proteinnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kemudian ia menulis ayat di atas dengan mengungkap kesimpulan ilmiah ini secara ringkas. Sekalipun kesimpulan ini sudah tertera dalam al-Quran namun kebenarannya baru terbukti beberapa tahun terakhir. Dzahabi mengomentari pendapat di atas sebagai berikut, ‘’saya heran tentang ungkapannya ‘Ayat di atas mengungkap kesimpulan ilmiah ini secara ringkas’[26].

[1]Nasr ‘Abd Ghafu>r, Aqsa>m al-Dakhi@l fi@ Tafsi@r (http://vb.tafsir.net/tafsir36072/#.VOINyy4h_Dc)

[2]Sayyid Abdul Maji@d al-Ghauri, ‘Ulu>m al-Hadi@ts wa Funu>nuhu, Juz 1 (Beirut, Da>r ibn Katsi@r, 2007), 16

[3]Dikutip dari http://noerelanwar.blogspot.com/2014/05/14_3464.html

[4]Dr. Abdul Qodir Muhammad Husein, Tamyi@z al-Dakhi@l fi@ tafsi@r al-Qur’a>n (Universitas Damaskus, 2013), 352

[5]Dikutip dari http://gusbirin.blogspot.com/2014/10/tradisi-kritik-dalam-tafsir-studi-ad.html

[6]Dikutip dari http://gusbirin.blogspot.com/2014/10/tradisi-kritik-dalam-tafsir-studi-ad.html

[7]Dr. Ramzi Ni’nah, Israiliyyat wa atsa>ruha fi@ kutubi tafsi>r, Cetakan ke I (Beirut, Da>r adh-Dhiya<’, 1970), 72

[8]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[9]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[10]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[11]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[12]Dikutip dari https://onlyalthof.wordpress.com/2011/04/06/madkhol-fi-addakhil/

[13]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[14]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[15]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[16]Dikutip dari http://hambawang.blogspot.com/2009/06/israiliyyah-dan-pengaruhnya-terhadap.html

[17]Dr. Ramzi Ni’nah, Israiliyyat wa atsa>ruha fi@ kutubi tafsi>r, Cetakan ke I (Beirut, Da>r adh-Dhiya<’, 1970), 202

[18]Dr. Ramzi Ni’nah, Israiliyyat wa atsa>ruha fi@ kutubi tafsi>r, Cetakan ke I (Beirut, Da>r adh-Dhiya<’, 1970), 202

[19]Dikutip dari http://alitopands.blogspot.com/2014/04/al-dakhil-fi-al-tafsir.html

[20]Dikutip dari http://alitopands.blogspot.com/2014/04/al-dakhil-fi-al-tafsir.html

[21]Dikutip dari http://alitopands.blogspot.com/2014/04/al-dakhil-fi-al-tafsir.html

[22]Dikutip dari http://alitopands.blogspot.com/2014/04/al-dakhil-fi-al-tafsir.html

[23]Dikutip dari http://erwandigunawandly.blogspot.com/2014/05/ad-dakhil-implikasinya-terhadap-tafsir.html

[24]Dikutip dari http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html

[25]Dikutip dari http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html

[26]Dikutip dari http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html

Daftar Pustaka

Sayyid Abdul  Majiid  al-Ghauri,  ‘Uluum al-Hadith  wa Funuunuhu, Juz 1(Beirut, Daaribn Katsiir, 2007).

Nasr ‘Abd Ghafuur, Aqsaam al-Dakhiil fii Tafsiir.

Abdul  Qodir  Muhammad  Husein,  Tamyiiz  al-Dakhiil  fii  tafsiir  al-Qur’an, (Universitas Damaskus, 2013).

Ramzi  Ni’nah,  Israiliyyat  wa  atsaaruha  fii  kutubi  tafsiir,  Cetakan  ke  I  (Beirut, Daar adh-Dhiyaa’, 1970).

Dikutip dari http://erwandigunawandly.blogspot.com/2014/05/ad-dakhil-implikasinya-terhadap-tafsir.html.

Dikutip dari http://muhammadrizalilyas.blogspot.com/2013/12/ad-dakhil.html.

Dikutip dari http://alitopands.blogspot.com/2014/04/al-dakhil-fi-al-tafsir.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s