Keadilan Tuhan, Qadha dan Qadar

Pemakalah: Deni Gunawan dan Namedia Filda

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kekuatan dan kelancaran pada diri penulis, untuk dapat menyelesaikan makalah Teologi ini. Dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan pada junjungan umat Islam di seluruh penjuru dunia, yaitu Nabi Muhammad Saw. keluarga, sahabat setianya, serta umatnya sampai akhir zaman.

Dengan penuh rasa syukur, alhamdulillah penulis ucapkan, karena makalah ini akhirnya dapat penulis selesaikan, ucapan terima kasih penulis kepada orang tua di rumah yang selalu mendoakan  penulis sehingga penulis selalu semangat dalam mengerjakan tugas ini, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat penulis sebut satu per satu, sehingga penulis bisa mengerjakan dan menyelesaikan makalah ini. Ucapan terimakasih juga kepada Pak Ahmad Subandi yang telah memberikan pemahaman kepada penulis dalam mengerjakan makalah ini.

Makalah ini merupakan tugas makalah dari Pak Ahmad Subandi dalam mata kuliah Teologi yang temanya “Keadilan Tuhan Serta Qadha dan Qadhar”. Di dalam makalah penulis ini, penulis menjelaskan tentang keadilan ilahi dari berbagai sudut pandang mazhab-mazhab pemikiran.

Penulis menyadari dalam makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan, namun dengan kekurangan-kekurangan itu semoga tidak memberikan dampak buruk bagi saya dan pembaca.Akhir kata, Semoga tulisan dalam makalah ini bermanfaat bagi penulis pribadi dan pembaca dalam memahami isu-isu “Keadilan Tuhan Serta Qadha dan Qadhar”. Sehingga paling tidak kita mengetahui sedikit tentang Keadilan Tuhan dari sisi ini. Sehingga ketika kita hendak memahami dan melakukan pedalaman tentang Keadilan Tuhan dari sisi ini, kita telah memiliki sedikit gambaran tentangnya.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keadilan Ilahi, qadha dan qadar merupakan salah satu tema penting dalam pembahasan teologi. Tidak ada satupun dari aliran mazhab teologi yang menolak tema-tema penting itu sebagai keyakinan dalam akidah Islam. Namun dalam menafsirkan tema-tema itulah mazhab kalam menemui perbedaan. Mereka mencari bentuk terbaik untuk menjelaskan hal tersebut sedapat mungkin agar dapat diterima dan menjadi bagunan teologi yang kokoh tanpa mencederai Kesempurnaan Tuhan dan kehendak bebas yang juga dimiliki manusia.

Memang begitu pelik pembahasan hal ini, setiap aliran kalam selalu beradu argumen (saling mengkritik) antara satu dengan yang lain dalam mazhab kalam. Tak jarang bahkan akibat hal ini pulalah umat Islam sering berkafilah-kafilah dan satu dengan yang lain saling mengkafirkan pemahaman yang berbeda dengannya. Yang pada gantinya banyak peristiwa kelam yang terjadi pada masa lalu dalam perjalanan sejarah umat Islam, yakni; banyak terjadi pengkafiran, peperangan akibat kesalahpahaman dan kecurigaan terhadap mazhab Islam yang lain yang membangun pondasi akidahnya.

Untuk itu dipandang perlu bagi penulis untuk umat muslim saat ini mempelajari tema-tema sentral ini dalam beberapa pandangan mazhab kalam. Agar kita dapat menyikapi setiap perbedaan yang ada, dan kita pula mengerti serta dapat menyatakan ketidaksepahaman kita terhadap pandangan yang dibangun dalam menjelaskan maksud-maksud teologis yang disampaikan oleh Allah melalui nabinya dan Al-Qur’an secara bijaksana.

Berbicara masalah keadilan Ilahi, qadha. dan qadar tentu kita tidak bisa lepaskan dari mazhab kalam yang besar yang sejak awal memang sudah eksis dan konsen membahas tema-tema ini, dalam hal keadilan Ilahi kita tidak bisa lepaskan dari mazhab al-Asy’ari, al-Mu’tazilah, dan Syiah. Kesemua mazhab dalam Islam ini memiliki pandangan yang berbeda dalam menjelaskan tema-tema teologis tersebut. Setiap mazhab itu membangun argumen mereka dengan mencoba membangun bangunan pendapat yang kokoh, dan mencoba untuk bisa menjelaskan setiap pertanyaan yang datang dari mazhab teologi yang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. Unik dan menarik, setiap mazhab kalam dalam menjelaskan tema-tema yang dalam akidah Islam sendiri merupakan memang manjadi hal yang sangat penting dan terus akan menjadi pembahasan teologis.

Tak jauh berbeda dengan masalah keadilan Ilahi, masalah qadha dan qadar juga memiliki bentuk penjelasannya yang beragam dari aliran mazhab kalam Islam. Tak berbeda dari tiga mazhab di atas yang membahas keadilan Ilahi, dalam masalah ini tiga mazhab tersebut juga masuk dan fokus membahas masalah ini, selain dari paham Qadariyah dan Jabariyah.

Untuk itu, dalam makalah ini nanti akan dijelaskan bagaimana setiap mazhab kalam membangun argumennya, dan bagaimana setiap mazhab kalam mampu menjelaskan setiap kritikan yang datang dari mazhab-mazhab lain yang memiliki perbedaan pandangan.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan Mu’tazilah tentang keadilan Ilahi?
  2. Bagaimana pandangan Asy’ariyah tentang keadilan Ilahi?
  3. Bagaimana pandangan Syiah tentang keadilan Ilahi?
  4. Bagaiman pandangan madzhab kalam di atas mengenai Qadha dan Qadar?

BAB II

PEMBAHASAN

A. KEADILAN TUHAN

  1. Mu’tazilah

Nama Mu’tazilah adalah suatu nama yang diberikan oleh orang selain dari golongan Mu’tazilah, karena orang-orang Mu’tazilah mengklaim dirinya dengan sebutan ahlut tauhid wal’adl. Mu’tazilah artinya berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. ( dalam Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, 2010: 77). Golongan Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Murji’ah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama kaum rasionalis Islam. (Harun Nasution, 2009: 40)

Golongan ini berpusat pada  peristiwa yang terjadi antara Watsil bin Atho serta temannya Amr bin Ubaid dan Hasan Al Basri di Bashrah. Watsil selalu mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan Hasan Al Basri di Mesjid Basrah. Pada suatu hari datang seorang bertanya mengenai pendapatnya tentang orang yang berdosa besar. Sebagai mana diketahui kaum Khawarij memandang mereka kafir, sedangkan Murji’ah memandang mereka mukmin. Ketika Hasan Al Basri masih berfikir, Watsil bin Atho mengeluarkan pendapatnya sendiri dengan mengatakan: “Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukan lah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi mengambil posisi diantara keduanya; tidak mukmin dan tidak pula kafir.” Kemudian ia berdiri dan menjauhkan diri dari Hasan Al Basri, lalu ia pergi ke tempat lain di mesjid, disana ia mengulangi pendapatnya kembali. Atas peristiwa ini Hasan Al Basri mengatakan:” Watsil bin Atha’ menjauhkan diri dari dari kita (i’tazala’ anna).” Dengan demikian ia serta teman-temannya, kata al-Syahrastani, disebut kaum Mu’tazilah. (dalam Harun Nasution, 2009: 40)

Disebut kaum qadariyyah karena : 1. Memandang manusia mempunyai daya yang besar dan bebas dalam perbuatan-perbuatannya yang berasal dari kata qadara yakni berkuasa, 2. Memandang nasib manusia telah ditentukan sejak azal , kata qadara disini berarti menentukan, yaitu ketentuan Tuhan atau nasib.

Manusia memiliki kebebasan dalam segala perbuatannya dan tindakannya. Karena kebebasan itulah manusia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, kalau perbuatan itu baik Tuhan memberi kebaikan dan kalau perbuatannya jelek atau salah Tuhan akan memberi siksaan, inilah yang mereka maksudkan keadilan.

Lebih jauhnya tentang keadilan ini, mereka berpendapat:

  1. Tuhan menguasai kebaikan serta tidak menghendaki keburukan.
  2. Manusia bebas berbuat dan kebebasan ini karena qudrat (kekuasaan) yang dijadikan Tuhan pada diri manusia.
  3. Makhluk diciptakan Tuhan atas dasar hikmah kebijaksanaan.
  4. Tuhan tidak melarang atas sesuatu kecuali terhadap yang dilarang dan tidak menyuruh kecuali yang disuruhnya.
  5. Kaum Mu’tazilah tidak mengakui bahwa manusia itu memiliki Qudrat dan Iradat tetapi Qudrat dan Iradat tersebut hanya merupakan pinjaman belaka.
  6. Manusia dapat dilarang atau dicegah untuk melakukan Qudrat dan Iradat.

Manusia diciptakan Tuhan dengan membawa kemerdekaan pribadi. Ia mempunyai daya untuk berbuat sesuatu dengan bebas. Perbuatan-perbuatan yang ia lakukan adalah kehendak dirinya dan bukan kehendak siapapun, termasuk Tuhan. Manusia dapat berbuat baik ataupun buruk adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri, karena ia mempunyai daya untuk itu. Sedangkan daya (istita’ah) terdapat dalam diri manusia sebelum ia melakukan suatu perbuatan. Sebagaimana diterangkan oleh Abdul Al Jabbar, bahwa yang dimaksud “Tuhan membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya” adalah bahwa Tuhan menciptakan daya di dalam diri manusia dan pada daya inilah tergantung wujud perbuatan itu, dan bukanlah yang dimaksud bahwa Tuhan melakukan perbuatan yang telah dibuat manusia.[1]

Melalui pemahaman mereka tentang kebebasan manusia ini mereka cenderung meninjau keadilan Tuhan dari segi rasio dan kepentingan manusia. Mu’tazilah berpendapat bahwa semua makhluk diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia. Manusia yang berakal, sempurna akalnya, jika melakukan sesuatu pasti memiliki tujuan dan kepentingan baik itu bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Tuhan pun memiliki tujuan dalam segala perbuatan-perbuatan-Nya tetapi, karena Tuhan Mahasuci dari sifat berbuat sesuatu untuk kepentingan sendiri maka perbuatan-perbuatan Tuhan itu untuk kepentingan makhluk-Nya.

Sebagaimana yang dikemukakakn ‘Abd al-Jabbar, keadilan erat hubungannya dengan hak. Keadilan diartikan memberi seseorang apa yang menjadi haknya. Kata “Tuhan adil” mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya itu baik, ia tidak bisa berbuat sesuatu yang buruk dan Ia tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap manusia. Oleh karena itu, Tuhan tidak berbuat zalim dalam memberi hukuman, tidak menghukum anak orang musyrik lantaran dosa orang tuanya, tidak menaruh beban yang tak dapat ditanggung manusia dan memberi upah bagi orang yang patuh pada-Nya dan memberi hukuman kepada orang yang menentang perintah-Nya.

Keadilan juga berarti “Tuhan berkewajiban melakukan yang terbaik bagi manusia” berarti Tuhan tidak membebani sesuatu yang tidak mampu dilaksanakan manusia, mengirim Rasul dan nabi-nabi sebagai manusia terbaik bagi manusia lainnya, dan pemberian daya bagi manusia.

Paham keadilan yang diusung kaum Mu’tazilah menganalogikan keadilan Tuhan layaknya keadilan dalam Kerajaan Konstitusional, yang mana kekuasaan dan pelaksanaan kekuasaannya dibatasi oleh hukum meski hukum itu buatan sendiri. Ia mengeluarkan hukum dan menjalankna hukum sesuai dengan hukum, tidak sewenang-wenang.

  1. Asy’ariyyah

Asy’ariyah adalah salah satu aliran dalam teologi yang namanya dinisbatkan kepada pendirinya, yaitu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari. Ia lahir di kota Basrah pada tahun 280 H/873 M dan merupakan keturunan sahabat besar nabi yang bernama Abu Musa Al-Asyari seorang delegasi pihak Ali r.a dalam peristiwa tahkim. (Drs. H. Muhammad Ahmad, 2009: 179)

Bagi Asy’ariyyah, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak. Dalam Al-Ibanah dituliskan Asy’ari bahwa Tuan tidak tunduk kepada siapa pun; di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya, berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dalam kerajaan-Nya dan tak seorang pun dapat mencela perbuatan-perbuatan-Nya. Al-Ghazali berpendapat bahwa Tuhan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, memberikan hukum menurut kehendak-Nya, menyiksa orang yang berbuat baik jika itu yang dikehendaki-Nya dan memberi upah kepada orang kafir jika Ia pun menghendakinya. Tuhan tidak terikat kepada apa pun, tidak terikat janji-janji, dan tidak pula terikat kepada norma-norma keadilan.

Mereka berkeyakinan bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, dalam arti sebab yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu. Mereka memang mengakui bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan menyebabkan kebaikan dan keuntungan dan Tuhan pun mengetahui kebaikan dan keuntungan itu tapi, pengetahuan maupun kebaikan dan keuntungan itu bukanlah pendorong Tuhan berbuat.

Asy’ariyah berpendapat bahwa Tuhan itu adil, tetapi Ia tidak mempunyai keharusan untuk menyiksa orang yang berbuat salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya Allah tidak mempunyai keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlak. Mereka mengartikan keadilan dengan “menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya, mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta mempergunakannya sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemilik”. Ini berarti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap mekhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak-Nya dalam kerajaan-Nya sekalipun menurut pandangan manusia perbuatan-Nya itu tidaklah adil.

Tuhan tidaklah salah jika memasukkan seluruh manusia ke dalam syurga dan tidaklah zalim jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. Perbuatan salah dan tidak adil adalah perbuatan yang melanggar hukum, oleh karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum, maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. Ia tidak bisa dikatakan bersifat tidak adil. Sependapat dengan hal ini, Al-Ghazali berpendapat bahwa ketidakadilan dapat timbul hanya jika seseorang melanggar hak orang lain dan jika seseorang harus berbuat sesuai dengan perintah dan kemudian melanggar perintah itu; tidaklah demikian hal-nya pada Tuhan.

Oleh karena kemutlakan kekuasaan yang dimiliki Tuhan, Ia dapat menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat, dapat menjatuhkan hukuman bagi orang mukmin, dan memasukkan orang kafir ke dalam surga. Dan ini tidaklah salah, Tuhan tetaplah adil. Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. Kata Al-Ghazali, Tuhan memberikan upah kepada manusia jika Ia menghendaki, memberi hukuman jika Ia menghendaki, bahkan menghancurkan manusia jika Ia berkehendak. Dan Tuhan tetaplah adil. Layaknya dalam Kerajaan Absolut, melakukan sesuatu sesuai kehendak mutlaknya, tidak terikat pada suatu kekuasaan kecuali, kekuasaannya sendiri.

  1. Syiah

Dalam aliran teologi dan filsafat syi’ah, persoalan keadilan dan tauhid telah dipecahkan secara lebih mendalam. Empat masalah yang sudah dibicarakan –keadilan, akal, kebebasan, dan hikmah– Syi’ah membela mazhab Mu’tazilah. Karenanya, mereka pun dipandang sebagai bagian dari kaum “Al-‘Adliyyah”, yakni termasuk yang mengakui keadilan ilahi. Hanya saja, kaum Syi’ah memaknai keempat konsep itu berbeda dengan kaum Mu’tazilah.

Dalam masalah kebebasan misalnya, Syi’ah tidak memaknainya dengan konsep tafwidh (pelimpahan wewenang) mutlak kepada manusia, sehingga bisa dipandang sebagai penafian atas kebebasan berkehendak Zat Al-Haqq dan penunjukan manusia, serta penyekutuannya dalam tugas-tugas Allah. Untuk pertama kalinya, berdasarkan ajaran para Imam suci yang dapat dipandang sebagai sumber inspirasi bagi mazhab Syi’ah, Syi’ah menafsirkan kebebasan itu dalam ungkapan yang terkenal dari imam-imam mereka yang berbunyi: “bukan jabr bukan juga tafwidh”. Tapi, pilihan tengah diantara dua ekstrem” (la jabr wala tafwidh, bal amrun bayna al-amrayn).

Syi’ah mendukung prinsip keadilan dalam konsep yang komperhensif, keadilan memperoleh posisinya yang tepat di sisi tauhid af’al atau tauhid Zat. Dengan begitu, keadilan memperoleh posisinya yang tepat di sisi tauhid. Memang benar apa yang dikatakan bahwa “keadilan dan tauhid adalah dua konsep ‘Alawi (berhubungan dengan ‘Ali bin Abi Thalib), sedangkan predestinasi (jabr) dan antropomorfisme (tasybih) adalah dua konsep umawi (berhubungan dengan Bani Umayah).”

Mazhab Syi’ah telah membuktikan kesejatian keadilan, otoritas akal, sosok manusia yang bebas memilih, dan sistem alam yang bijaksana tanpa harus sedikit pun menodai prinsip tauhid dalam Zat atau perbuatan Allah. Syi’ah menetapkan kebebasan manusia tanpa harus menjadikannya sebagai sekutu dalam “kerajaan Ilahi” dan tanpa harus menjadikan kehendak Tuhan terkalahkan atau terpasung oleh kehendak manusia. Demikian pula, Syi’ah mengakui qadha’ dan qadr ilahi tanpa harus mengubah manusia menjadi alat yang dioperasikan menuju qadha’ dan qadr tersebut.

Menyangkut persoalan tahuid atau keberagamaan sifat, Syi’ah memilih tauhid dalam sifat-sifat ilahi. Sekalipun sejalan dengan Mu’tazilah dan menentang Asy’ari’, Syi’ah berbeda dengan mu’tazilah yang menafikan (eksistensi mandiri) sifat-sifat ilahi dan terpaksa meyakini bahwa Zat mewakili segenap sifat-Nya (inabah). Kaum Syi’ah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah menyatu dan identik dengan Zat-nya. Pandangan ini merupakan marifat ilahi yang paling mendalam. Keadaan tauhid dalam perbuatan-perbuatan Allah, Syi’ah mendukung pendapat Asy’ari, tanpa terpaksa menolak hukum kausa-efek sebagaimana yang dilakukan oleh Asy’ari.

B. QADHA DAN QADAR

Qadha memiliki arti penetapan hukum, atau pemutusan dan penghakiman sesuatu. Qadhi adalah sebutan bagi seseorang yang bertugas atau bertindak menghakimi dan memutuskan perkara antara kedua orang yang bersengketa di muka pengadilan.[2] Di dalam Al-Qur’an sendiri kadang-kadang kata ini digunakan dan dinisbahkan pada Allah dan kadang-kadang kepada manusia. Yang berfungsi untuk memisahkan dua pokok bahasan dalam pembicaraan dan juga untuk memisahkan antara dua penciptaan di alam ini.[3]

Qadar berarti kadar dan ukuran tertentu[4], Al-Qur’an sering menggunakan kata tersebut untuk menunjukan arti ini.

Muthahari mengatakan bahwa kejadian-kejadian alam, ditinjau dari sudut keberadaannya  di bawah pengawasan dan kehendak Allah yang pasti itu bisa dikategorikan sebagai qadha Ilahi. Dan jika dilihat dari sudut sifatnya yang terbatas pada ukuran dan kadar tertentu serta kedudukannya dalam ruang dan waktu dapat dikategorikan sebagai qadar Ilahi.

Muthahari mengatakan bahwa semua kejadian alam secara umum haruslah termasuk di antara tiga kemungkinan atau hipotesis.

  • Semua kejadian tidak ada kaitannya sama sekali dengan masa lalu yang mendahuluinya, baik hal itu bersifat keterdahuluan dalam hal waktu atau yang lainnya, oleh karena itu eksistensinya tidak memiliki keterkaitan dengan segala yang mendahuluinya. Begitu juga dengan segala ciri khas atau karakteristiknya, dengan hipotesis ini —menurut Murthada Muthahari— qadha dan qadar  tidak memiliki arti lagi, setelah adanya penyangkalan, adanya keterkaitan antara eksistensi serta berbagai karakteristiknya yang berhubungan dengan waktu dan tempat, dengan masa lalu yang mendahuluinya. Berdasarkan teori ini maka konsekwensinya adalah teori sebab-akibat harus pula diingkari, dan sebagai resiko/gantinya maka teori atau faktor “kebetulan” harus diterima sebagai tafsiran adanya segala sesuatu.

Padahal kita mengetahui bahwa sebab-akibat atau kausalitas umum dan keterkaitan yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, sebagaimana setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lain yang mendahuluinya, merupakan sesuatu yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.

  • Hipotesis kedua adalah mengakui setiap kejadian itu memiliki suatu sebab yang mendahului, namun menolak adanya sistem sebab-akibat yang berlaku dalam setiap kejadian. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi itu langsung berasal dari sebab yang pertama dan utama, yakni Allah SWT. Hal ini berarti bahwa di alam ini tidak penyebab lain atau penyebab kecil melainkan hanya satu sebab, yakni Zat Ilahi, dari Dia lah muncul segala maujud secara langsung tanpa ada perantara. Di sini berarti Iradat-Nya berkaitan dengan setiap kejadian, secara sendiri-sendiri, terpisah dari iradat-Nya yang lain.[5]

Ini dapat diasumsikan seperti ini —Pandangan Muthahari— bahwa: Qadha berarti pengetahuan dan kehendak Ilahi berkenaan dengan terwujudnya suatu kemaujudan. Setiap kali, pengetahuan dan kehendak-Nya itu terpisah dari pengetahuan serta kehendak-Nya yang lain. Hal ini berarti memaksa kita untuk meyakini dan menerima bahwa tak ada sebab lain kecuali Allah. Dapat dikatakan bahwa segala sesuatunya telah ditentukan sebelumnya kejadian “ini” akan terjadi pada waktu yang “ini”, peristiwa tersebut pasti terjadi tanpa sebab lain yang mempengaruhinya, bahwa pengetahuan Allah sejak zaman azali (dari dahulu dan permulaan zaman) telah menetapkannya.

Dalam pandangan ini berarti semua perbuatan manusia termasuk dalam kategori ini. Ini berarti bahwa setiap tindakan dan kejadian yang berlangsung itu terjadi secara langsung tanpa perantara, dalam hal ini ditentukan langsung oleh qadha dan qadarnya (pengetahuan dan iradat-Nya).

Perbuatan serta daya manusia dalam pandangan ini dinafikan,  kalaupun tampak, itu hanyalah dari sisi lahiriah saja (imajinatif). Dan ini merupakan inti dari ajaran jabr  yang artinya nasib berkuasa penuh atas diri manusia. Pandangan ini baik secara praktis dan sosial, tertolak oleh logika dan batal sepenuhnya dari sudut pandang filosofis dan dalil-dalil intelektual. Sebab keterkaitan antara sebab-akibat dari semua kejadian tak mungkin di pungkiri.

Teori yang ketiga adalah teori yang menyatakan bahwa konsep dan sistem sebab-akibat umum berkuasa atas alam serta seluruh peristiwa dan kejadian di dalamnya. Dalam pandangan ini dikatakan bahwa setiap peristiwa memperoleh esensi wujudnya, bentuknya, karakteristiknya yang berkaitan dengan ruang dan bentuknya, karakteristiknya yang berkaitan dengan ruang dan waktu serta kekhasan wujudnya yang lainnya dari penyebab-penyebab yang mendahuluinya.[6] Begitupula bahwa ada ikatan yang kuat yang tak mungkin terlepas antara masa lalu, masa kini dan yang akan datang, dengan semua maujud dan sebab yang mendahuluinya. Dengan begitu, bahwa  nasib setiap maujud itu berada pada maujud yang lainnya. Dengan penjelasan bahwa penyebab yang telah mewajibkan kewujudannya dan memberinya kepastian dan keharusan serta seluruh karakteristik kewujudannya dan pada akhirnya penyebab tersebut diakibatkan oleh penyebab lainya dan begitulah untuk selanjutnya

C. JABARIYYAH DAN ASY’ARIYYAH

Dalam pandangan kaum Jabariyah yang dipelopori oleh Jahm bin Shafwan dikatakan bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai daya, kekuasaan, kemauan, dan pilihan. Perbuatan manusia tak lebih dari hanya sekadar keterpaksaan. Manusia tak ubahnya seperti robot yang menjalankan sistem dan program yang telah ditentukan oleh Tuhan, yang berarti perbuatan manusia itu majbur atau dipaksa Tuhan.

Menurut paham Jabariyah manusia dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama, semua itu adalah suatu paksaan (ijbar). Yang berimplikasi pada permasalahan pahala dan siksaan yang dikaitkan dengan takdir, baik itu perbuatan baik atau buruk yang dilakukan oleh manusia hanyalah merupakan takdir yang telah ditentukan baginya. Paham Jabariyah berkelanjutan pada aliran al-Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abu al-Hasan bin Isma’il al-Asy’ari. Paham ini menganggap manusia itu makhluk yang lemah dan lebih menekankan pada aspek ke-Mahakuasaan Tuhan. Hal ini berarti manusia tidak mempunyai daya dan kemampuan, sebab manusia lemah maka manusia mesti bergantung kepada kehendak Tuhan. Antara aliran Jabariyah dan Asy’ariyah memiliki pendirian yang sama yakni:

ماشاءالله أنيكون كان مالايشاءلايكون

Dalam menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan, al-Asy’ari memaknai konsep kasb (perolehan). Arti iktisab menurut al-Asy’ari adalah suatu yang terjadi dengan daya yang diciptakan,[7] dengan demikian menjadi perolehan (kasb) bagi manusia. Kasb ini disifatkan kepada manusia karena manusia tidak mengetahui perbuatan-perbuatannya sebelum terwujudnya perbuatan-perbuatan tersebut. Sedangkan penciptaan (khalq)  disifatkan kepada Tuhan karena Dia yang menciptakan dan Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan tersebut.[8]

Dalil yang digunakan oleh kelompok al-Asy’ariyah dalam masalah perbuatan manusia juga sama digunakan oleh kelompok Jabariyah, yaitu:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. As-Shaffat (37): 96)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Isan (76): 30)

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. (QS. al-Qashash (28): 68)

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfal (8): 17)

إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ  (23) وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah” (QS. Al-Kahfi (18): 23-24)

Dalam hal kehendak Tuhan al-Asy’ari berpendapat bahwa Tuhan menghendaki segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Dia menggunakan dalil surah al-Insan ayat 30 sebagai alasannya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Isan (76): 30)

Asy’ari mengartikan ayat di atas dengan “manusia tidak bisa menghendaki sesuatu kecuali jika Allah menghendaki manusia agar manusia itu melakukan perbuatan itu”[9] dan ini berarti bahwa kehendak manusia adalah juga merupakan kehendak Tuhan. Al-Gazhali sebagai seorang pengikut paham al-Asy’ariyah kasb dalam rumusan yang lain, ia mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang menciptakan perbuatan dan daya berbuat itu terletak pada manusia. Akan tetapi pada akhirnya ia tiba pada suatu kesimpulan yang sama dengan pendapat al-Asy’ariyah, sekalipun manusia mempunyai daya tetapi daya itu tidak mempunyai pengaruh karena ia diserupakan dengan lemah بِا لإعجازالأشباه  di sisi Tuhan Yang Maha Tinggi.[10]

Namun di sisi lain dalam hal ini terdapat perbedaan yang terjadi dalam pandangan al-Maturidi yang notabene merupakan penganut Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah  yang sama dengan al-Asy’ari, yakni pendapat al-Maturidi lebih moderat ketimbang pendapat dari al-Asy’ari.  Al-Maturidi berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk  menentukan perbuatannya sendiri serta bebas melakukan suatu perbuatan dengan daya yang telah diberikan kepadanya. Namun al-Maturidi tidak menjelaskan lebih jauh sebagaimana paham Mu’tazilah dan Jabariyah serta al-Asy’ariyah yang menjelaskan darimana asal daya tersebut.

Sementara itu dalam hal kehendak  al-Maturidi berpendapat bahwa kemauan manusialah yang menentukan penggunaan daya yang ada di dalam dirinya, apakah akan menggunakannya dalam hal yang baik atau buruk, oleh karena itu konsekwensinya adalah bahwa salah atau benarnya manusia dalam pilihan menggunakan daya, manusia tetap akan mendapat ganjaran.

Kemudian dalam hal kemauan (masyi’ah), al-Maturidi mengaitkannya dengan ridha atau kerelaan Tuhan,[11] ini berarti manusia melakukan perbuatan baik dan buruk itu menurut kehendak serta kemauan Tuhan itu sendiri, namun hal itu tidak selamanya menunjukan bahwa dengan kerelaan hati Tuhan, karena Tuhan tidak suka pada manusia yang berbuat jahat, dengan kata lain manusia berbuat baik atas kerelaan hati Tuhan.[12]

Konsep lain tentang perbuatan Tuhan ini ditawarkan oleh al-Bazdawi yang merupakan murid dari al-Maturidi yang kemudian memiliki konsep yang berbeda pada gurunya. Ia dianggap sebagai pendiri aliran al-Maturidiyah Bukhara yang memiliki corak lain dengan alairan al-Maturidiyah Samarkand yang dipelopori oleh al-Maturidi, walaupun pada nantinya ia sangat berhati-hati dalam soal perbuatan manusia daripada al-Maturidi sendiri.[13]

Al-Bazdawi sendiri berpendapat bahwa perbuatan Tuhan dengan maf’ul, sedangkan perbuatan manusia disebut dengan fi’il. Disebut maf’ul karena Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manuisia dan disebut fa’il karena manusia hanya melakukan perbuatan yang diciptakan.[14] Manusia dalam hal ini dipandang hanya melakukan perbuatan (fi’il), namun tak memiliki kemampuan apapun untuk mengadakannya (ijad). Dalam konteks ini al-Bazdawi memiliki pandangan yang sama dengan al-Maturidi yang menganggap perbuatan manusia dalam arti sebenarnya, namun berbeda dengan al-Asy’ari yang menganggap perbuatan manusia dalam arti tidak sebenarnya.

D. QADARIYYAH DAN MU’TAZILAH

Aliran yang dimotori oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi yang dalam teologi Isla aliran ini lebih bersifat moderat. Dalam ajaran Qadariyah pokok penting ajarannya adalah konsep tentang perbuatan manusia yang sangat berbeda dengan golongan Jabariyah. Al-Qadariyah mengemukakan pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih perbuatan-perbuatan mana yang akan dilakukannya, manusia bukanlah robot yang dikendalikan oleh Tuhan.

Suatu perbuatan mestilah terjadi menurut maksud dan motivasi (al-aqshad wa al-dawa’i) manusia itu sendiri. Dengan demikian ini berarti tidak akan terjadi suatu perbuatan —dalam pandangan ini— itu terjadi sebab keengganan (mani’)  yang ada pada diri manusia itu sendiri. Paham ini lebih mirip kedalam paham dari golongan al-Mu’tazilah —ini dijelaskan oleh M. Amin  Nurdin, Afifi Fauzi Abbas, Sejarah Pemikiran Islam; Teologi-Ilmu Kalam, Jakarta: Amzah, 2012, Cet.I— yang dipelopori oleh Abu al-Huzaifah Washil bin Atha’.[15] Dalam pandangan Mu’tazilah mereka menolak pandangan bahwa segala sesuatu itu telah ditetapkan sebelumnya (qadha’ dan qadar), seperti halnya pendapat dari kelompok al-Asy’ariyah. Mu’tazilah tidak jauh berbeda dengan Qadariyah yang menganggap bahwa perbuatan manusia memiliki maksud dan motivasi. Dan jika perbuatan itu tidak terjadi itu dikarenakan suatu keengganan manusia itu sendiri sebagai pelaku dan pemilik perbuatan itu sendiri dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan . Ini dapat dilihat pada pandangan Mu’tazilah yang menegaskan bahwa perbuatan manusia bukan ciptaan Tuhan yang didasarkan pada ajaran kedua dari lima dasar ajarannya, yakni, keadilan. Menurut Washil, bahwa jika Tuhan itu Mahadil maka tentu Dia akan memberi balasan yang setimpal dengan apa yang dilakukan manusia itu.

Sebagaimana kaum al-Asy’ari kelompok Mu’tazilah juga menggunakan argumen/dalil Al-Qur’an untuk memperkuat pendapat mereka, anatar lain:

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (QS. Al-Kahfi (18): 29)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَة ٌ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur, Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. (QS. al-Muddatsir (74): 37-38)

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa’ (4): 110-111)

Ayat-ayat tersebut disimpulkan oleh salah satu tokoh Mu’tazilah al-Jubba’i bahwa manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya, semua yang dilakukan manusia baik atau buruk adalah kehendak manusia sendiri bukan kehendak Tuhan. Ia menjelaskan bahwa daya (istitha’ah)  untuk mewujudkan suatu kehendak dan kemauan sudah ada dalam diri manusia sebelum ada atau terjadinya perbuatan itu. Mu’tazilah mengakui bahwa kebaikan dan keburukan adalah diciptakan Tuhan, namn yang melakukan perbuatan baik atau buruk itu adalah manusia.[16] Untuk itu adalah keliru bahwa ada yang mengatakan bahwa konsep perbuatan manusia menurut Mu’tazilah adalah meniadakan sama sekali hubungan antara manusia dan Tuhan. Di dalam paham Mu’tazilahtidak mengakui adanya dua daya yang mempunyai efek dalam mewujudkam perbuatan manusia.[17] Sehingga kesimpulannya adalah bahwa dalam pandangan Mu’tazilah daya yang mewujudkan perbuatan manusia adalah daya manusia itu sendiri, konsisten dengan pandangan al-Mu’tazilah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia adalah perbuatannya sendiri dalam arti sebenarnya.[18]

Dalam hal perbuatan baik dan buruk al-Mu’tazilah berbeda pendapat dengan al-Maturidi yang menisbatkan perbuatan-perbuatan manusia dengan ridha Tuhan. Al-Mu’tazilah dalam hal ini cenderung dan konsisten dengan konsep serta prinsipnya al-shalah wa al-ashlah, yaitu segala sesuatu yang diciptakan atau diadakan Tuhan mestilah untuk kemaslahatan manusia.[19]

Dengan demikian, menurut Mu’tazilah tidak mungkin Tuhan menciptakan perbuatan buruk karena hal tersebut bertentangan dengan ke-Mahasempurnaan-Nya. Tuhan memang menciptakan siksaan, tetapi itu untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia itu sendiri. Sebab, kalau siksaan tidak dilakukan dan pahala tidak diberikan kepada manusia sebagai imbalan dari perbuatan-perbuatannya, berarti Tuhan tidak menunaikan kewajiban-Nya, yakni al-Adalah.[20]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perbedaan adalah suatu keniscayaan, sebagaimana perbedaan yang terjadi dalam pandangan mazhab kalam dalam menjelaskan keadilan Ilahi, qadha dan qadar. Perbedaan ini muncul sebagai akibat dari cara pandang dan sudut epistemologi yang digunakan berbeda-beda satu dengan yang lain. Keadilan Ilahi sebagai tema penting dalam pembahasan teologi merupakan tema yang secara umum dan seluruh umat Islam menerima dan mengakui. Namun bagaimana keadilan Ilahi itu, di sinilah yang meyebabkan perbedaan dalam menjelaskan apa keadilan Ilahi itu dan bagaiman keadilan ilahi itu bagi Tuhan.

Dalam pandangan al-Asy’ari saja ia berpendapat bahwa Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak. Tuan tidak tunduk kepada siapa pun; di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya, berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dalam kerajaan-Nya dan tak seorang pun dapat mencela perbuatan-perbuatan-Nya. Sehingga penegrtiannya adalah bahwa semua perbuatan Tuhan itu adil, apa yang diputusakan Tuhan itulah keadilan Tuhan.

Namun hal ini mendapat tentangan dari kelompok Mu’tazliah yang menolak pandangan itu. Melalui pemahaman mereka tentang kebebasan manusia ini mereka cenderung meninjau keadilan Tuhan dari segi rasio dan kepentingan manusia. Mu’tazilah berpendapat bahwa semua makhluk diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia. Manusia yang berakal, sempurna akalnya, jika melakukan sesuatu pasti memiliki tujuan dan kepentingan baik itu bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Tuhan pun memiliki tujuan dalam segala perbuatan-perbuatan-Nya tetapi, karena Tuhan Mahasuci dari sifat berbuat sesuatu untuk kepentingan sendiri maka perbuatan-perbuatan Tuhan itu untuk kepentingan makhluk-Nya.

Bagitu juga masalah qada dan qadar sebagaimana yang telah dijelaskan di bagian bab sebelumnya, bahwa setiap mazhab memiliki pandangan yang beragam, namun begitu setiap mazhab kalam tetap berpedoman pada Al-Qur’an utama sebagai sumber penting dalam memulai pembahasan penting ini. Jadi terserah kita saat ini hendak memilih dan mengikuti keyakinan yang mana yang menurut kita lebih sesuai dengan keyakinan kita, namun tidak lantas dengan telah memilih salah satu dari keyakinan teologis yang ada kita mengesampingkan pemahaman yang lain, dengan bersikap fanatistik terhadap apa yang kita yakini.

Menjaga hubungan yang berbeda dengan saudara semuslim yang berbeda cara penafsiran dengan kita dan bersikap toleran terhadap setiap perbedaan yang ada adalah akan menjadi lebih bijak bagi kita sebagai umat Islam terlebih bagi kita pelajar muslim, untuk selalu tetap menjaga persatuan dan kesatuan umat.

B. Saran

Pemakalah menyarankan kepada pembaca budiman agar lebih merujuk lagi pada buku-buku yang membahas mengenai tema ini. Dengan begitu, wawasan yang kita miliki akan lebih luas.

[1](http://yatpi1ma.wordpress.com/2010/01/30/perbedaan-pandangan-antara-mutazilah-dan-asyariyah/#_ftn3)

[2] Lihat Murtadha Muthahari, Manusia Dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, Bandung: Muthahari Paperbacks, 2001, Hal. 20, Cet. I

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ini adalah argumen yang dikemukakan oleh Murtadha Muthahari, pejelasannya bisa dibaca secara jelas dalam bukunya edisi Indonesia Manusia Dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, 2001

[6] Ibid, hal. 22

[7] Nurdin,  M. Amin, Abbas, Afifi Fauzi, Sejarah Pemikiran Islam; Teologi-Ilmu Kalam, Jakarta: Amzah, 2012, Cet.I, hal. 237

[8] Ibid

[9] Ibid, hal 239 dalam Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, hal. 110-115

[10] Ibid, dalam Muhammad al-Ghazalli, al-Iqtisad fi al-I’tiqad, (Kairo: Muhammad Ali Shubai, 1962), hal. 51.

[11] Ibid, hal. 241, dalam Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, hal. 112-113.

[12] Ibid, hal. 241-242

[13] Ibid, hal. 243

[14] Ibid

[15] Ibid, hal. 245

[16] Ibid, hal.  246

[17] Ibid

[18] Ibid

[19] Ibid, hal. 247 dalam Abdul Jabbar al-Qadhi, Syarh al-Ushul al-Khamsah, hal. 153

[20] Ibid, hal. 247

DAFTAR PUSTAKA

Amin Nurdin, Afifi Fauzi Abbas. Sejarah Pemikiran Islam. 2012. Amzah: Jakarta

Muthahhari, Murtadha.  Keadilan Ilahi Asas Pandanga- Dunia Islam. 1992. Mizan: Bandung

Muthahhari, Murtadha. Manusia dan Takdirnya Antara Free Will dan Determinisme. 2001. Muthahhari Paperbacks: Bandung

Nasution, Harun. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. 1986. UI Press: Jakarta

Subhani, Ja’far. Al-Milal Wan-Nihal Studi Tematis Mazhab Kalam.1993. Al-Hadi: Pekalongan

Subhani, Ja’far. Memilih Takdir Allah Menurut Alquran & Sunnah. 1986. Pustaka Hidayah: Bandung