Khawarij dan Murji’ah

Pemakalah: Harkaman dan Afendi Cahya

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya  serta  pengetahuan  yang  telah  dititipkan  kepada  Manusia.  Karena  hanya  atas izin-Nyalah  kami  bisa  menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul “Khawarij dan Murji‟ah”.

Untuk  membahas  judul  yang  telah  kami  tentukan  itu,  banyak  hambatan yang  kami  dapatkan,  misalnya  mencari  referensi  yang  tepat  dan  hambatan  yang besar  yang  harus  dilewati  adalah  waktu  yang  terbatas  untuk  bisa  menulis.

Mengingat  hal  tersebut  cukup  berat.  Tapi  semua  itu  sudah  berlalu,  itu  karena doa‟a orangtua, bantuan teman, dan semangat perjuangan disuntikkan ke dalam jiwa  kami  oleh  dosen  pengampu.  Taak  lupa  kami  ucapkan  terima  kasih  kepada pihak  perpustakaan  yang  telah  bersedia  melayani  kami  dengan  ikhlas  ketika mencari referensi yang dibutuhkan.

Makalah  ini  ditulis  agar  bisa  menjadi  gerak  awal  bagi  para  calon-calon mujahid muslimin. Khususnya sebagai bahan diskusi ilmiah. Namun kami sangat sadar  akan  berbagai  kekurangan  yang  telah  perbuat,  mengingat  keilmuan  kami masih  rendah.  Sehingga  permohonan  maaf    tidak  lupa  kami  ucapkan  kepada  para segenap pembaca.

Kritik  dan  saran  kami  juga  harapakan,  semoga  kedepannya  karya  yang dihasilkan lebih baik dari yang sekarang. Aamiin.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Seringkali  ditemukan  orang  berbicara  tentang  suatu  golongan,  sedang  dia tidak  mengetahuinya  dengan  pasti  apa  yang  dibicarakannya  itu.  Kebanyakan berbicara  sangat  subjektif,  akibatnya  menimbulkan  pemahaman  yang  berbeda  di tengah-tengah  umat.  Oleh  karena  itu,  kita  mengklarifikasi  aliran-aliran  kalam dalam Islam.

Dalam hal ini ada satu aliaran kalam  yang pertama kali muncul di zaman sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah. Dan literature Islam yang mebahas asal kelompok itu adalah pecahan dari Ali bin Thalib.  Kelompok  ini  sangat  keras,  mereka  menanamkan  konsep  dosa  besar  dan setiap pelaku dosa besar halal darahnya.

Di  sisi  lain  ada  kelompok  yang  mencul  setelahnya,  yaitu  Murji‟ah, kelompok ini justru berlawanan konsep dengan yang ditawarkan khwarij. Mereka mengatakan  pelaku  dosa  besar  itu  tetap  dihukumi  sebagai  muslim  dan  darahnya tidak halal. Urusan surge dan neraka adalah urusan Tuhan.

Tentunya  terpecahnya  umat  atas  beberapa  aliran  kalam,  menimbulkan banyak  pertanyaan  dan  persoalan. Semua  ini  harus  dijawab  dengan  rasional, dengan  tidak  adanya  keterpihakan  kepada  satu  aliran,  harus  diselesaikan  dengan sesubjektif  mungkin.  Jika  sifat  fanatik  yang  digunakan  maka  tidak  akan  bisa menyelesaikan masalah.

Semoga  dengan  adanya  orang-orang  yang  masih  peduli  dengan  umat, membuat  cahaya  ilahi  tetap  terpancar  kepermukaan  bumi  ini  dan  semua  umat manusia  dapat  merasakan  hal  demikian.  Dengan  pemikiran  yang  sama  yaitu Islam.  Mereka  senang  tiasa  mengatakan  I’m  Muslim  (saya  Islam)  tidak memperkenalkan  cirikhas  kemazhaban,  tapi  keislamanlah  yang  ditampakkan secara kaffah.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan tersebut di atas, kami akan mencoba merumuskan sebuah titik permasalahan yang akan menjadi kajian utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Bagaimana sejarah kemunculan Khwarij dan Murji‟ah? Jelaskan!
  2. Sebutkan Sebutkan tokoh-tokoh dan pokok ajaran Khwarij dan Murji‟ah!

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan ditulisnya makalah ini adalah utuk memberikan sebuah bacaan yang  simpel kepada umat Islam, bagaimana  agar  dapat  memahami  aliran-aliran dalam Islam  khsususnya Khawarij dan Murji‟ah. Bagimana agar mampu mengklarifikasi dan memberikan penilaian kepada kelompok tersebut.

Di  sisi  lain  kami  mengingkan  sebuah  sikap  keterbukaan  dan  menanggalkan sikap  fanatik,  karena  telah  memahami  aliran-aliran  yang  ada  di  dalam  Islam. Setidaknya  melalui  tulisan  ini  dapat  memberikan  kontribusi  penting  untuk  umat Islam.

D. Manfaat Penulisan

Orang  yang  mengerti  tentang  sekte-sekte  dengan  baik  yang  ada  di  dalam Isalm,  tentunya  sangat  memberikan  pengaruh  positif.  Kerena  tidak  mudah menyalahkan  orang  lain  dan  tidak  fanatik,  yang  menganggap  bahwa kelompoknyalah yang paling benar di antara kelompok yang lain.

Dengan  demikian  dapat  menciptakan  pribadi  yang  benar-benar  Islami, mempunyai jiwa jihad di jalan Allah, dan selalu bersuha untuk memajukan Islam. Tidak  pernah  berhenti  belajar,  untuk  kepentingan  bangsa,  negara  dan  khususnya untuk kepentingan umat Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

Khawarij

A. Sejarah Perkembangan Khawarij

Setelah  wafatnya  Nabi  Muhammad  Saw.,  terjadi  perpecahan  di  antara kaumnya yang  mengklaim  setiap  golongan  merekalah  yang  berhak  menjadi pemimpin  pengganti  Nabi.  Dan  hal  ini  terjadi  hingga  masa  kekhalifahan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib. Di mana saat itu terdapat gencatan dari Muawiyah gubernur Damaskus dan keluarga dekat bagi Sayyidiina Utsman ibn Affan. Selain itu  juga,  Thalhah  dan  Zubair  yang  ikut  serta  tidak  mengakui  kekhalifahan Sayyidana Ali.

Ketidakpengakuan mereka terhadap Ali inilah  yang  kemudian memunculkan  pertempuran.  Pertempuran ini tepatnya di Shiffin hingga disebut sebagai perang Shiffin. Dalam pertempuran di antara keduanya ini, tentara Ali ibn Abi Thalib dapat mendesak tentara Muawiyah, hingga bisa dikatakan kemenangan bagi Ali ibn Abi  Thalib berada selangkah didepan mata. Namun, Amar bin Ash (tangan kanan) Muawiyah  yang  terkenal  licik  ini membuat  tipu  daya  dengan mengangkat al-Qur‟an sebagai tanda damai. Sehingga pasukan Ali ibn Abi Thalib berhenti dan  menanggalkan senjata, sehingga barisan Ali menarik diri dari peperangan itu. Dan mereka merespons seruan Amar ibn Ash.

Sayyidina Ali ibn Abi Thalib berkata: “Kalian telah melakukan tindakan yang  melemahkan  kekuatan  Islam,  mengurangi  kekuatan  Islam, serta mewariskan  kelemahan  dan  kehinaan.  Ketika  kalian  berhasil  dan  musuh-musuh kalian  khawatir  terkalahkan  karena  perang  itu  telah  menghantam  mereka  dan mereka  merasa  sakit  akibat  luka-luka,  maka  mereka  mengangkat  al-Quran, menyeru  kalian untuk memperhatikan sesuatu yang dapat meredakan  (serangan) kalian  atas  mereka  dan  mengakhiri  perang  antara  kalian  dan  mereka,  serta menimbulkan  rasa  takut  mati.  Itu  hanya  tipu  daya  dan  trik.  Apa  yang  kalian lakukan  ?  kalian  menuruti  keinginan  mereka,  dan  mengikuti  tipu  daya  mereka. Demi  allah,  setelah  kalian  tak  mengikuti  pandanganku  dan  tak  memilki  ketetapan hati  (setelah tak mengikuti) komitmenku, aku tak melihat kalian akan memiliki petunjuk.”[1]

Kemudian  ajakan  arbitrase  itu  dijawab  oleh  sebagian  pasukannya  yang mengusulkan  Abu  Musa  untuk  tahkim.  Dan  dalam  hal  ini  Sayyidina  Ali  setuju karena  sebagian  pasukannya  berambisi  tetap  setuju. Sayyidina  Ali  berkata  “Demi Allah aku tidak setuju melakukan ini dan aku tidak mau kalian juga setuju. Namun demikian , kalian tetap saja setuju. Akupun terpaksa setuju. Karena telah setuju , maka tidak pantas bagiku mencabut setelah setuju, dan tak layak berubah setelah  menerima.  Berarti  aku  melawan  Allah  jika  aku  melanggar  kesepakatan yang telah dibuat ini, berarti jua aku melanggar kitab-Nya jika aku membatalkan secara  sepihak.  Karena  itu,  perangilah  siapa  saja  yang  melanggar  perintah Allah.”[2]

Dalam  arbitrase  itu,  terjadi  kesepakatan  antara  dua  utusan  ini.  Abu  Musa dan  Amr  ibn  Ash  untuk  menurunkan  keduanya  dan  menyerahkan  kepada  umat. Akan  tetapi  Amar  ibn  Ash  mengumumkan  sebaliknya,  bahwa  ia  dan  Abu  Musa sepakat  untuk  menjatuhkan  kepemimpinan  atau  kekhalifahan  Sayyidina  Ali  dan mengangkat  Muawiyah.  Sayyidina  Ali  di  saat  itu  berada  dalam  kondisi  sangat ditekan  oleh  banyak  hal,  pertama  terdapat  sebagian  kelompok  dari  tentara  beliau yang  merespon  seruan  tangan  kanan  Muawiyah  untuk  memperhatikan  al-Qur‟an.

Dan  juga  ada    kelompok  yang  pada  pertamanya  mereka  juga  yang  mendorong untuk  arbitrase  yang  kemudian    menolak  itu,  keluar  dari  barisan  Sayyidina  Ali  – sekitar 4000 tentara pendapat lain 1200 tentara. Dan juga dikatakan bahwa mereka yang  keluar  dari  pasukan  Sayyidina  Ali  ini  merasa  tidak  puas  atas  gencatan senjata yang disepakati Sayyidina Ali dan Muawiyah.[3]

Mereka  bersemboyan  bahwa  tiada  hukum  kecuali  dari  Allah,  sehingga arbitrase  sebagai  jalan  untuk  menyelesaikan  persengketaan  tentang  khilafah dengan  Muawiyah  ibn  Abi  Sofyan  ,  dan  timbullah    klaim  mereka  yang mengatakan Sayyidina Ali telah menyimpang dari agama, menganggap Sayyidina Ali telah berdosa  dan murtad, dan wajib untuk di bunuh. Dan kaum khawarij  ini memutuskan  untuk  membunuh,  baik  itu  dari  Sayyidina  Ali  ataupun  dari Muawiyah.  Karena,  mereka  mempunyai  selogan  bahwa  mansuia  tidaklah  berhak menghukumi  sesutupun  kecuali  Allah.  Maka  menurut  mereka  Sayyidina  Ali ataupun Muawiyah sama saja.

Mereka  dinamakan  Khawarij  karena  keluar  dari  pasukan  Ali  ibn  Abi Thalib. Dan selain itu, mereka menamakan diri mereka sebagai orang yang keluar dari  rumah  lari  kepada  Allah  dan  rasulnya-  dalam  surat  an-Nisa  ayat  100,  dan mereka  memandang  surat  ini  sebagai  landasan  bahwa  merekalah  yang mengabdikan diri mereka hanya untuk mengabdi pada Allah. Selanjutnya mereka menyebut  diri  mereka  Syurah,  dari  kata  yasri  sesuai  dengan  ayat  207  surat  al-Baqarah.  Dengan  pendapat  mereka  bahwa  mereka  menjual  diri  mereka  demi keridhaan  Allah.  Ada  juga  nama  lain  diberikan  pada  mereka  yaitu  haruriah,  dari kata  harura.  Di  tempat  inilah  mereka  sejumlah  12000  orang  pendapat  lain  4000 orang keluar dari barisan Sayyidina Ali, dan mengangkat Abdullah bin Wahb al-Rasyidi sebagai imam mereka.

  1. Pokok Ajaran Khawarij

Ada  beberapa  hal  yang  menjadi  poin  penting  daripada  golongan  ini, khsusnya pada persoalan kepemimpinan (imamah). Oleh karena itu, kami akan menguraikan  prinsip-prinsip  dasar  Khawarij.  Adapun  prinsip-prinsip  dasar tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, pemilihan  khalifah  tidak  berlaku  kecuali  dengan  demokratis  dan benar  yang  diikuti  oleh  seluruh  ummat  islam,  dan  bukan  hanya  dipilih  oleh  satu golongan  saja.  Dan  kepemimpinan  itu  berlanjut  selama  ia  masih  hidup  dan menegakkan  keadilan,  menjalankan  syariat,  menjauhi  segala  yang  dilarang  oleh aturan Islam. Dan jika melanggar maka dia wajib di pecat atau dibunuh.

Kedua,  dalam  kekhalifahan  bukan  hanya  pada  mereka  bangsa  Arab  saja (Quraiys),  melainkan  Ajam  (non-arab)  juga  punya  hak  dalam  kepemimpinan. Bahkan  mereka  kaum  Khawarij  lebih  mengutamakan  orang  Ajam  dalam  hal  ini, atas  dasar  mereka  yang  mengatakan  ,  agar  tiadanya  sebuah  fanatisme  dan pengkhususan. Sehinngga mereka mengangkat Abdullah ibn Abi Wahb al-Rasyidi sebagai imam walaupun bukan dari Quraiys.

Ketiga,  sekte  nadjat  berkeyakinan  bahwa  eksistensi  seorang  imam  itu yajuz (boleh) adanya, bukan wajib syar‟i. bagi mereka imam tidak diperlukan lagi jika masyarakat melakukan yang baik dan menjauhi yang buruk. Dan keberadaan imam adakalanya dibutuhkan disaat kesejahteraan mulai tidak terwujud lagi.

Keempat,  mereka  juga  sepakat  tentang  pelaku  dosa,  tidak  ada  beda  antara dosa  kecil  atau  besar, dan  juga  kesalahan  dalam  pendapat  itu  merupakan  dosa. Landasan itu karena hal-hal itu dapat menimbulkan permasalahan dan perbedaan kebenaran dalam  pandangan. Dan ini adalah salah satu prinsip mereka yang kemudian berani mengkafirkan Sayydina Ali, hingga keluar dari barisannya.

Dan prinsip-prinsip dasar mereka itulah yang membuat mereka keluar dari jumhur  muslimin.  Dan  setiap  orang  yang  tidak  sepakat  dengan  prinsip  ini dianngap  musyrik.  Dan  atas  hal  ini  mereka  mempunyai  hujjah  (alasan  dan  bukti kuat).  Ibn  Abi  al-Hadid dalam bukunya “Syarhu Nahji al-Balaghah”, yang mana dalil-dalil ini menunjukan  pemikiran  mereka,  kaum  khawarij  salah  satunya adalah:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang  sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban  haji  ini), maka sesungguhnya Allah maha kaya dari semesta alam.“ ( Q.s, Ali Imran: 97).  Tafsir  mereka:  meninggalkan  haji  adalah kafir,  karena  meninggalkan  haji  adalah  dosa,  dan  setiap  orang  yang  dosa  adalah kafir.

B. Kelompok-kelompok, Ajaran Pokok dan Tokoh-tokoh Khawarij

  1. Al-Muhakkimah

Golongan  Khawarij  asli  dan  terdiri  dari  pengikut-pengikut  Sayyidina  Ali, dan  kelompok  inilah  disebut  al-  Khawarij  al-Muhakkimah.  Bagi  mereka Sayyidina  Ali,  Muawiyah  dan  dua  utusan  di  dua  belah  pihak,  dan  semua  yang setuju  atas  arbitrase  itu  kafir.  Hingga  berlanjut  hukum  kafir  ini,  yang  mereka luaskan  maknanya  sehingga  termasuk  kedalamnya  tipe  orang  yang  berbuat  dosa besar adalah kafir.

Orang  khawarij  dari  kelompok  ini  bernama  Zulkhuwairisah  dan  yang kedua  adalah  Zultsadiyah.  Mereka    juga  yang  menciptakan  dua bid‟ah yaitu:

Pertama, tentang imamah yang menurutnya selain dari Qurayspun boleh menjadi pengganti setelah Nabi. Dan mereka  yang diangkat adalah orang-orang  yang adil dan  jikalau  melanggar  wajib  di  bunuh.  Kedua,  Sayyidina  Ali  menurut  mereka telah banyak melakukan kekeliruan.

  1. Al-Azariqah

Setelah golongan al-Muhakkimah hancur, muncullah golongan yang  dapat menyusun barisan baru dan kuat lagi besar. Mereka berkuasa di diperbatasan Iraq dan  Iran. Nama ini diambil dari Nafi‟ ibn al-Azraq (seorang pemberontak  atas pemerintahan Sayyidina Ali) yang memilki pengikut 20 ribu orang.

Ajaran yang di ajarkan al-khawarij yang dipelpori oleh Abu Rayid Nafi‟ ibn al-Azraq ini adalah :

Pertama,  mereka  mengkafirkan  Ali  ibn  Abi  Thalib.  Dalam  hal  ini  juga mereka membenarkan tindakan Abdul Rahman ibn Muljam yang telah membunuh Sayyidina Ali.

Kedua,  berdasarkan  prinsip  ini  Azariqah  mengkafirkan  Utsman,  Thalhah, Zubair,  Aisyah,  Abdullah  ibn  Abbas,  dan  kaum  muslimin  yang  tidak  sependapat dengan mereka, adalah kafir dan pasti masuk neraka serta kekal didalamnya.

  1. An-Najadaat al-‘Aziriah

Kelompok  ini  adalah  kelompok  yang mengikuti  pemikiran  seorang  yang bernama Najdah ibn Amir al-Hanafi yang dkenal sebagai Ashim yang menetap di Yaman.  Najdah  ibn  amir  al-Hanafi  inilah  sebagai  tokoh  dari  kaum  khawarij  ini, yang kemudian melahirkan sebuah ajaran, bahwa ajaran agama itu ada dua yaitu:

Pertama, mengenal Allah Swt, para Rasul, haram membunuh sesame muslim,  mengikuti secara umum apa yang diturunkan Allah. Wajib setiap orang mengenalnya, dan kejahilan menurut mereka bukan sebagai landasan untuk tidak mau mengenalnya.

Kedua,  mereka  juga  mengatakan  bahwa  kemungkinan  saja  mujtahid  itu tersalah alam menetapkan hukum sebelum adanya bukti yang kuat.

  1. Al-Baihasiah

Abu  Baihas  al-Haisyam  ibn Jabir  salah  seorang  dari  suku  Bani  Saad Dhubai‟ah,  merupakan tokoh dalam kelompok ini sehingga dinamakan al-Baihasiah. Ia  mengkafirkan Ibrahim dan Ma‟mun dikarenakan berbeda pendapat dengannya tentang perjualan budak wanita.

Ia  memaparkan  sebuah  ajaran  bahwa  seseorang  belum  dikatakan  muslim kecuali  ia  telah  mengenal Allah dengan  yakin,  mengenal  Rasul,  dan  mengetahui apa yang dibawa para Rasul, kepemimpinan hanya ditangan Allah bukan ditangan orang yang menjadi musuh-musuh Allah.

Dan sebagian besar dari kelompok ini mengatakan bahwa: ilmu pengetahuan dan  perbuatan adalah iman. Dan adapun  al-Baihas sendiri  berkata  bahwa:  Iman menurutnya adalah pengetahuan terhadap yang benar dan bathil, sedangkan pengetahuan  bukan  termasuk  ucapan  dan  perbuatan, karena itu katanya “ iman adalah pengakuan hati dan pengetahuan bukan hanya salah satu dari keduanya”.

  1. Al-Ajaridah

Kelompok  ini  dipimpin  oleh  Abd  al-Karim  „Araj  yang  isi  ajarannya  sama mirip dengan ajara an-Najdiah. Ada yang mengatakan bahwa ia termasuk sahabat dekat  Baihas.  Menurut  kelompok  ini  bahwa  tidak  boleh  mengatakan  kafir  atau muslim  kepada  seorang  anak  muslim  sampai  usianya  baligh.  Sedangkan  anak orang kafir bersama orang tuanya masuk kedalam neraka.

Kelompok ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:

Pertama,  ash-Shalthiah  yang  mengikuti  ajaran-ajaran  yang  diajarkan Utsman ibn Abi Shalt, yang sependapat dengan apa yang dikatakan kelompok al-Jaridah tadi.

Kedua, al-Maimuniyyah yang mengikuti ajaran Maimun ibn Khalid. Yang mempunyai pandangan ajaran bahwa  baik dan buruk itu berasal dari manusia.

Ketiga,  kelompok  al-Hamziyyah  yang  berdasarkan  ajaran  hamzah  ibn Adrak.  Kelompok  ini  sependapat  dengan  al-Maimunah  tentang  qodar,  namun berbeda  pendapat  dengan  muslim  atau  kafir  yang  ditentukan  pada  seorang  anak yang baru lahir.

  1. At-Tsa‟alibah

Pendiri kelompok ini adalah Tsa‟alibah ibn Amir,  menurutnya  tidak  ada yang  mengikat  antara  orang  tua  dengan  anaknya,  baik  anak  itu  menjadi  patuh terhadap  agama  atau  tidak,  sampai  anak  itu  mencapai  dewasa  telah  sampai dakwah agama padanya. Dan tentunya hal ini bertentangan dengan al-Jaridah, dan Tsa‟alibah juga berkata bahwa jika seorang anak itu menerima ajaran agama maka ia muslim, jika sebaliknya maka ia kafir.

  1. Al-Ibadhiyah

Al-Ibadhiyah  adalah  kelompok  yang  dipimpin  oleh  orang  yang  bernama Abdullah  ibn  Ibadh  yang  memberontak  terhadap  pemerintaha  khalifah  Marwan ibn Muhammad.

Menurut  kelompok  ini  Negara  yang  dihuni  ummat  Islam  yang  tidak sependapat dengan mereka masih dianggap negara berketuhanan, kecuali benteng kepala  negara  termasuk  Daru  al-Harbi.  Dan  orang  yang  melakukan  dosa  masih dianggap ahlu tauhid tetapi bukan mukmin.

Mereka  juga  mengatakan  bahwa  semua  hukum  Allah  itu  berlaku  umum, karena tidak diterangkan secara khusus kepada kelompok mana. Dan juga bahwa mukjizat yang ada pada Rasul bukanlah tanda kerasulan.

  1. As-Shufriyyah az-Ziyadiyyah

Kelompok  ini  dipelopori  oleh  orang  yang  bernama  Zayad  ibn  Ashfar,  yang mana pemikirannya berbeda dengan perkembangan pemkiran Khawarij yang lain.

Kelompok  ini  tidak  mengkafirkan  orang  yang  ikut  perang  selama  masih seagama  dan  satu  akidah.  Mereka  mengakui  adanya  hukum  rajam,  dalam peperangan  tidak  boleh  membunuh  anak  orang  musyrik  dan  tidak  mengatakan anak  orang  musyrik  kekal  didalam  neraka,  menurut  mereka  taqiyah  tidak diperbolehkan dalam perkataan tapi boleh dalam perbuatan.

Tidak  ada  perbuatan  yang  dikategorikan  dosa  besar  tanpa  ada  hukumannya seperti  meninggalkan  perang  ,  shalat,  dan  orang  yang  seperti  itu  dikatakan  kafir karena perbuatannya.

Murji’ah

A. Sejarah Perkembangan Murji’ah

Tindakan  pengkafiran  terhadap  Ali  bi  Abi  Thalib,  Muawiyah  bin  Abi Sofyan,  Amr  bin  Ash,  Abu  Musa  al-Asy‟ari  yang dilakukan oleh  kalangan Khawarij, mengundang sikap kekhawatiran di tengah umat Islam. Khususnya para ulama.

Munculnya  Murji‟ah  sangat erat kaitannya dengan  Khawarij, dimana golongan  yang  dipimpin  oleh  Ghilan  al-Dimasyai  berusaha  bersikap  netral. Golongan  tidak  sepaham  dengan  Khwarij  yang  mengkafirkan  para  sahabat tersebut.[4]

Khawarij  yang  menaruh  rasa  hormat  kepada  dua  khalifah  pertama,  yaitu Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab, tetapi membenci Ali ibn Abi Thalib dan  Utsman  ibn  Affan  yang  sebenarnya  bertentangan  dengan  pemahaman  kaum muslimin pada umumnya. Sebagaimana dijelaskan di atas Murji‟ah menentang apa yang dipahami oleh kelompok Khawarij dengan dalil bahwa meraka tidak bisa menyelesaikan kemusykilan tersebut.

Murji‟ah kemudian berusaha menyelesaikan dengan sebuah prinsip qawl al-Irja:  Mendahulukan  perkara  Abu  Bakar  dan  Umar  dan  menangguhkan  urusan selalainnya hingga hari kiamat kelak.[5] Hal ini sesuai dengan makna dari kelompok Murji‟ah itu sendiri, dimana akar katanya yaitu Irja’ yang berarti penangguhan.

B. Pokok Ajaran Murji’ah

Pokok ajaran dari golongan ini adalah:

  1. Orang Muslim yang melakukan dosa besar tidak  boleh  dihukumi  dengan  hukuman  dunia,  sehingga  masuk  surga  atau neraka  tidak  bisa  ditentukan,  karena  di  akhiratlah  nanti  yang  menjadi
  2. Golongan ini memandang orang yang beriman tidak merusak iman ketika berbuat maksiat. Sama halnya dengan ketaatan bagi orang yang kafir. Iman diartikan sebagai pengetahuan tentang Allah secara mutlak dan kafir adalah ketidaktahuan tentang Allah secara mutlak. Oleh karena orang Murji‟ah menganggap iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.[6]

Oleh  karena  itu  dapat  disimpulkan  bahwa  golongan  ini  mengganggap antara  iman  dan  amal  tidak    ada  hubungannya.  Atau  lebih  tepatnya  amal  tidak termasuk dalam keimanan, dengan demikian orang yang beriman tidak melakukan dosa besar, sebagaimana imannya para Malaikat dan para Nabi. Hal sesuai dengan semboyan mereka yang makruf: Mendahukukan iman dengan menagguhkan amal.

C. Kelompok-kelompok, Ajaran Pokok dan Tokoh-tokoh Murji’ah

Golongan Murji‟ah terbagi menjadi empat golongan besar , yaitu Murji‟ah al-Khawarij, Murji‟ah al-Qadariyah, Murji‟ah Jabariyah dan Murji‟ah Murni. Namun pada kami hanya akan membahas Murji‟ah Murni saja. Yaitu sebagai berikut:

  1. Al-Yunusiyyah

Kelompok ini adalah kelompok yang mengikuti ajaran Yunus ibn Aun an-Numairi. Pemimpin  al-Yunusiyyah  berpendapat  bahwa  iman  adalah  pengenalan kepada  Allah  dengan  mentaatinya,  meninggalkan  keinginan,  menyerahkan  diri kepada-Nya  dengan  menafikan  rencana  pribadi,  dan  mencintai-Nya  dengan sepenuh  hati.    Demikian  inilah  orang    yang  beriman  apabilah  berhasil menghimpun  hal-hal  tersebut.  Adapun  perbuatan  taat  tidak  disebutkan  karena tidak  merusak  keimnan  walalaupun  ditinggalkan.  Tentunya  tidak  mendapatkan siksa selama iman mereka masih kuat dan mantap.

Kelompok ini juga berpandangan bahwa Iblis itu adalah makhluk yang arif billahi, dihukumi kafir hanya saja kerana ketakaburannya. “Ia  enggan  dan  takabur  dan  adalah  ia  termasuk  golongan  orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Baqarah: 34)

  1. Al-Ubaidiyyah

Ubaid  al-Muktaib  adalah  pendiri  dari  kelompok  ini,  karena  para pengikutnya  menisbatkan  padanya,  dengan  mengikuti  ajaran-ajaran Ubaid.

Beberapa  pokok  ajarannya  adalah  tentang  syirik,  bahwa  pelaku  syirik  akan diampuni  dosanya  oleh  Allah.  Selama  ada  katauhidan  pada  seseorang  lantas meninggal  dunia,  maka  dia  tidak  binasa  oleh  kejahatan  dan  dosa  besar. Diriwayatkan  oleh Al-Yaman dan disandarkan kepada„‟Ubai  dan  para pengikutnya,  bahwa  Allah  tidak  (dibatasi)  kitab  Allah  dan  tidak  bersifat,  maka dari  itu  agama  diapahmi  bukan  dari  Allah.  Selain  itu  Allah  diapahami  berwujud seperti bentuk manusia. Dengan dalil:

Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dalam bentuk Yang Maha Pengasih”

  1. Al-Ghasaniyyah

Kelompok  yang  dipimpin  oleh  Ghassan  al-Kafi,  berpandangan  bahwa iman  adalah  pengetahuan  kepada  Allah  dan  Rasul,  mengakui  dengan  lisan  akan kebenaran  yang  diturunkan  oleh  Allah,  namun  secara  global  tidak  perlu  secara rinci.  Juga  menganggapo  bahwa  iman  itu  bersifat  statis,  artinya  tidak  bertambah dan  tidak  berkurang.  Apabilah  seseorang  berkat  “Aku  tahu  bahwa  Allah mengharamkan babi, namun aku tidak tahu babi mana yang diharamkan” atau seseorang yang mengatakan”Aku tahu bahwa Allah memerintahkan kita untuk menunaikan ibadah haji di Ka‟bah, namun aku tidak tahu Ka‟nah mana yang dimaksud oleh Allah”. Orang tersebut masih dikatakan beriman.

Ghassan  pernah  meriwayatkan  dari  Abu  Hanifah  termasuk  adalah  orang Murji‟ah, dengan alasan bahwa Abu Hanifah pernah mengatakan bahwa iman adalah tashdiq dengan hati bahwa ia tidak bertambah dan tidak berkurang. Ucapan tersebut diartikan bahwa Abu Hanifah telah menangguhkan perbuatan dari iman, walau  dietahui  juga  Abu  Hanifah  telah  mengajak  orang-orang  untuk  bekerja  dan berusaha.  Demikian  ini  menjadi  bantahan  atas  ketidak  mungkinan  hgal  tersebut.

Mungkin  saja hal ini juga kerena saat itu, Mu‟tazilah menganggapkelompok selalin dirinya adalah Murji‟ah.

  1. Ats-Tsaubadiyyah

Ajaran  ats-Tsaubadiyyah  mengikuti  Abu  Tasaubah  al-Murji‟  yang berpendapat  bahwa  iman  adalah  pengenalan  dan  pengakuan  lidah  kepada  Allah, Rasul dan kepada semua perbuatan yang menurut akal tidak boleh dikerjakan dan perbuatan yang menurut akal boleh dikerjakan termasuk iman. Iman lebih dahulu dari  amal.  Beberapa  penundaan  amal  dari  iman  relevan  dengan  apa  yang  telah dipahami  oleh  kelompok  Ynussiyyah  dan  Ubaidiyyah.  Ia  berpednapat  bahwa orang  yang  melakukan  dosa  besar  tidak  dikatakn  kafir,  karena  ketaantan  dan kemaskisatan bukan inti iman sehingga hilang karenanya.

Adapun tokoh-tokoh yang mendukung tsauban ini adalah Marwan Ghailan Ibn  Marwan  al-Damisqi,  Abu  Tsamar,  Muwis  ibn  Umran,  Al-Fadhal-Raqasyi, Muhammad ibn Syu‟aib, al-„Arabi, dan Shaleh Qubbah. Tidak  ada  pelaku  dosa  besar  yang  kekal  di  dalam  neraka,  apabilah  sudah mendapat siksaan maka akan dikeluarkan dari neraka. Seperti itulah yang dinukil dari Bisyar ibn Gayath al-Muraisi.

Keyakinan  lainnya  yang  diapahami  oleh  Ghailan  yang  beragapan  bahwa sumber  keburukan  adalah  manusia.  Dalam  persoalan  imamah  boleh  siapa  saja, asalkan mengamalkan al-Qur‟an dan Sunnah dengan baik, tidak hanya dari kaum Quraisy  saja,  kesahihannya  sendiri  tergantung  dari  kesepakat  umat  secara  ijmak.

Walau  terdapat  keganjalan,  karena  mereka  beranggapan  bahwa  ada  kesepatan umat yang lebuh baik menjadi imam adalah dari suku Quraisy. Karena alsan inilah kelompok  Anshar  mengatakan,  bagi  kami  seorang  pemimpin  dan  seorang pemimpin bagimu.  Sebenarnya  kelompok  ini  menghimpun  tiga  pokok  ajaran, yaitu Qadariyah, Mu‟tazilah dan Khwarij.

Dan  dikatakan  penganut  Murji‟ah  yang  pertama  adalah  al-Hasan  ibn Muhammad ibn „Ali ibn Abi Tahlib. Ia menulis beberapa surat tentang penuduhan iman yang mana didalmnya seperti dengan pemahaman Murji‟ah Yunusiyyah dan

Ubaidiyyah. Ia berpendapat bahwa orang  yang melakukan dosa besar tidak dapat dikatakan  kafir,  karena  ketaatan.  Dan  kemaksiatan  bukan  inti  iman  sehingga dikatakn iman hilang karenanya.

  1. Al-Tuminiyyah

Al-Tuminiyyah  adalah  kelompok  yang  berkiblat  kepada  Abu  Muaz  At-Tumini yang mentakan iman adalah terpelihara dari kekufuran, iman adalah nama perbuatan  yang  apabilkah  ditinggalkan  akan  menjadi  kafir,  demikian  juga  kalau satu  petbuatan  saja  ditinggalkan  menjadi  kafir.  Karena  itu  tidak  boleh  beriman kepada sebagian saja dan kafir pada sebagian.

Sama  halnya  dengan  kelompok  sebelumnya,  yang  beranggapan  bahwa unsur iman adalah makrifat tashdiq, mahabah, ikhlas dan mengakui melalui lisan terhadap  apa  yang  disampaikan  Rasul.  Katanya:  Mereka  yang  meninggalakan shalat  dan  puasa  dengan  niat  menqhada  tidak  dikatakan  kafir.  Siapa  yang membunuh  Nabi  atau  memukulnya  ia  tidak  termasuk  kafir,  kafir  bukan  karena membunuh  atau  karena  memukul  tapi  karena  menghina,  memusuhi  mereka  dan membenci mereka.

Rawandi  dan  Bisyar  ibn  al-Muraisi  cenderung  kepada  pendapat  di  atas, bahwa  iman  itu  adalah  tashdiq  dengan  hati  dan  lisan,  kekafiran  itu  sendiri dikarena  oleh  perbuatan  keras  kapala  dan  ingkar.    Adapun  orang  yang menyemabh matahari, bukan, dan sebagainya, tidak teransuk perbuatan kafir tapi hanya merupakan tanda kekafirran.

  1. As-Shalihiyyah

Kelompok ini adalah kelompok  yang terakhir  yang akan dibicarakan. As Shalihiyyah merupakan nama yang dinisbatkan  kepada Shalih ibn „Umar ash Shalihi,  karena  para  pengikutnya  berkiblat  kepada  dirinya.  Ash-Shalihi, Muhammad Ibn Syu‟aib, Abu Syamar dan Ghailan,  semuanya  adalah  pengikut Qadariyah dan Murji‟ah. Kelompok ini sendiri digolongkan kedalam Murji‟ah Murni,  karena  mereka  mempunyai  pendapat  yang  berbeda  dengan  kelompok Murji‟ah lain.

Mari  lihat  pendapat  ash-Shalihi  yang  mengatakan  bahwa  iman  adalah semata-mata pengenalan kepada Allah dan mengakui Allah sebagai pencipta alam semesta.  Ini  mengindikasikan  bahwa  kekafiran  itu  adalah  ketidaktahuan  (jahil) terhadap  Allah.  Orang  yang  mengatakan  bahwa  Tuhan  itu  tiga,  menurutnya, bukanlah kafir tetapi ucapan itu tidak akan keluar kecuali dari mulut orang kafir.

Makrifah sendiri diartikan sebagai kecintaan dan ketundukan kepada Allah. Iman tumbuh dari pemberitaan Rasul dan menurut ukuran akal mungkin wajib beriman kepada Allah tapi tidak kepada Rasul. Menurutnya  shalat  bukanlah  ibadah  ,  kecuali  dari  orang-orang  yang beriman kepada Allah, karena ia telah mengenal-Nya. Dan iman menurutnya hanya terdiri  dari  satu  unsur  yang  tidak  bertambah  dan  tidak  berkurang,  demikian  juga kafir tidak bertambah dan tidak berkurang.

Menurut  Abu  Syamar  al-Murji‟ al-Qadari  iman  adalah  makrifat  tentang Allah,  cinta  dan  tunduk  kepadanya,  ini  dibuktikan  dengan  pengakuan  lisan, dengan  menyatakan  bahwa  Allah  itu  Maha  Esa,  setelah  adanya  berita  dari  Nabi ikrar  dengan  lisan  termasuk  inti  dari  pada  iman  dan  syarat  di  dalam  unsur  iman ialah  mengenal  keadilan  Allah,  serta  memberikan  pengakuan  bahwa  baik  dan buruk bukan dari Allah.

Ghilan  yang  dikenal  sebagai  penganut  Mutrji‟ah  dan  Qadariyah memberiakn makna  yang sama tentang, iman masih pada seputar, makrifat, cinta dan  ketundukan  kepada  Allah.  Adapun  makrifat  yang  pertama  adalah  bersumber dari  naluri  manusia  yang  merupakan  sebuah  fitrah,  seperti  pengetahuan  bahwa alam semesta ada penciptanya.Makrifat ini tidak termasuk kedalam iman, karena tidak lahir dari kesadaran. Dan makrifat yang kedua, yaitu diperoleh dari dalil dan disebut sebagai iman.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Khawarij yang keluar dari kelompok Ali ibn Abi Thalib membuat barisan sendiri.  Mereka  mengkafirkan  Sayyidina  Ali  dan  Mu’awiyah  dengan  alasan bahwa  mereka  berdua  tidak  berpegang  kepada  hukum  Allah.  Sehinnga  mereka dinilai sebagai pelaku dosa besar dan pelaku dosa besar tentunya darahnya halal.

Dengan  dasar  inilah  kemudian  kelompok  Khawarij  berusaha  untuk  membunuh kedua orang tesebut. Tidak  lama  setelah  Khawarij  muncul  lagi  golongan  yang  bernama Murji‟ah, kelompok yang bersuha bersifat netral. Dengan menawarkan sebuah konsep penangguhan. Mereka menangguhkan amal dari iman. Jadi Sayyidina Ali dan Mu‟awiyah  tidak  bisa  diputusakn  dengan  hukum  dunia,  namun  nanti  di akhirat kelak.

Perbedaan yang sangat mendasar di anatara Khawarij dan Murji‟ah adalah pada  persoalan  iman  dan  amal.  Khawarij  beranggapan  bahwa  amal  merupakan bagian dari iman. Sedangkan Murji‟ah beranggapan  bahwa  amal  bukan  bagian daripada iman. Dan tidak merusak imanan hanya karena amal seseorang.

B. Saran

Mengingat  hal  ini  hanya  sebatas  pengantar  tentang  memahami  aliran Khawarij dan Murji‟ah, dan kami tidak bisa memberikan kebenaran 100% . Oleh karena  teruslah  mengkaji  kedua  aliran  tersebut.  Kami  hanya  menuliskan  garis-garis besarnya  saja.  Silahkan  anda  merujuk  kepada  buku-buku  yang  membahas secara spesifik dan komperehensif. Sehingga semakin menambahkan wawasan dan pengetahuan.

Berharap  agar  para  pembaca  dapat  memperoleh  manfaat,  sembari mencicipi cahaya ilahi  yang akan menuntun kita kepada-Nya. Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon maaf atas segala kekurangannya.

[1] Dalam kitab Tarikh Al-kamil. Jil. 3. Hal. 322; Bihar al-Anwar. Jil. 8. Hal. 592

[2] Tarikh Thabari. Jil. 5. Hal. 59 ; Tarikh al-Kamil. Jil. 3. Hal. 322; Bihar al-Anwar. Jil. 8.

Hal. 593

[3] Asy-Syahrastani. Al-Milal wa al-Nihal. (Surabaya, PT Bina Ilmu). Hal. 101.

[4] Harkaman01.wordpress.com/ makalah/ metodologistudiislam/ aliranaliran

pemikiraniislam.

[5] Ja‟far Subhani. Al-Milal wan-Nihal “Studi Tematis Mazhab Kalam”. (Pekalongan,

Penerbi al-Hadi: 1997). Hal.47

[6] Harkaman01.wordpress.com. Op.Cit.

DAFTAR PUSTAKA

Asy-Syahrastani. Al-Milal wa al-Nihal. Surabaya: PT Bina Ilmu

Harkaman01.wordpress.com/ makalah/ metodologistudiislam/ aliranaliran pemikiraniislam.

Subhani, Ja‟far. 1997. Al-Milal wan-Nihal “Studi Tematis Mazhab Kalam”.  Pekalongan: Penerbit al-Hadi.

Tarikh Al-kamil. Jil. 3.; Bihar al-Anwar. Jil. 8.

Tarikh Thabari. Jil. 5.; Tarikh al-Kamil. Jil. 3.; Bihar al-Anwar. Jil. 8.