Muktazilah

Pemakalah: Nenden Pupu dan Saiful Anwar

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang cahaya-Nya memancarka kesetiap hati Hamba-hambanya, dan segala kenikmatan yang selalu tercurahkan kepada kita, sehingga kita hidup dalam sebuah kenikmatan yang begitu luar biasa yang tak tiada taranya.

Tak lupa Shalawat beriring salam atas teladan para umat islam hingga akhir nanti dan sang revolusoner dunia yakni nabi Muhammad saw. yang dimana beliau telah membawa kita dari zaman jahil menuju zaman yang tahu mana yang benar, mana yang menjerumuskan dan mana yang sesuai dengan syariat yang di ajarkan, sehingga menuju jalan terang- benerang yakni addinul aslam.

Dan tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kami yang selalu mendoakan kami hingga sampai saat ini, tak lupa pula kami ucapkan kepada Bapak Ahmad Subandi yang telah membimbing kami dalam pembelajaran di mata kuliah Ilmu Kalam.

Pada penyusunan makalah kami ini kurang dari sempurna, sehingga kami meminta saran dan kritiknya dalam penyusunan makalah kami selanjutnya.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Diantara persoalan yang dihadapi umat islam setelah bersinggungan dengan kebudayaan dan tradisi bangsa-bangsa non-Arab dalam maslah teologi adalah “maslah khilafah”, masalah perbuatan manusia dan masalah peniadaan sifat-sifat Allah. dari sinilah aliran-aliran mulai muncul untuk menanggapi seputar persoalan-persoalan tersebut.

Masalah khilafah yang awalnya muncul sebagai masalah politik, kemudian lambat laun menjadi berubah menjadi masalah teologi, artinya apakah orang mukmin yang telah berbuat dosa besar masih bisa dibenarkan untuk menjadi khilafah atau harus diperangi. Lebih kerasnya lagi dibunuh karena telah menjadi kafir. Kemudian masalah perbuatan  manusia menimbulkan pertanyaan, apakah manusia bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan karena itu adalah kehendak mereka atau perbuatan itu merupakan paksaan yang sudah diberikan kepada Tuhan melalui perbuatan mereka. Selanjutnya masalah sifat-sifat Tuhan, apakah Tuhan memilki Sifat-sifat yang terpisah dari Dzatnya atau sifat itu sendiri adalah esensi dari Dzat Tuhan itu sendiri.

Ketiga masalah pokok ini menjadi pembicaraan yang panjang dan tak kunjung terselesaikan. Kaum Muktazilah yang dipelopori oleh Washil ibn Atha dan Amr ibn Ubaid datang dengan menyodorkan konsep-konsep pemikiran mereka dari persoalan di atas dengan metode yang baru. Dalam kasus orang mukmin yang melakukan dosa besar, mereka berdua berpendapat bahwa orang tersebut tidaklah kafir dan tidaklah mukmin, akan tetapi mereka berdua ada diantara kedua posisi tersebut. Atau yang lebih mereka kenal dengan (al-Manzilah bain al-Manzilatain).

Konsep mereka berdua diatas banyak yang menentangkan sebagai konsep yang baru dalam kalangan umat islam. Apalagi konsep mereka berdua ini sangat ditentang oleh Guru Washil yakni Hasan al-Bashri dan sebagian besar pengikutnya. Karena pemikiran Washil ini, ia harus memisahkan diri dari majelisnya dan membangun teologi baru. Sehingga dalam makalah ini kami akan mengangkat mengenai teologi muktazilah dan apa saja yang memuat dalam ajarannya.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan diatas kami akan membahas dan mencoba merumuskan masalah yang akan mejadi kajian kami, yakni diantaranya :

  1. Bagaimana Sejarah perkembangan Muktazilah?
  2. Siapa saja Tokoh-tokoh Muktazilah ajaran yang dibawa?
  3. Sebutkan ajaran yang ada dalam Muktazilah?

C. Tujuan

Adapun dalam tujuan penulisan makalah kami ini adalah sebagai bacaan yang mudah dan bisa dipahami untuk para pembaca, serta menjadi acuan jika memang menjadi sebuah keperluan bagi para pembaca. Begiju juga, supaya lebih benar-benar memahami teologi Muktazilah itu sendiri. Serta bisa menyimpulkan dan menanggapi konsep pemikirannya bagi para pembaca.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Muktazilah

Sudah jadi hal yang lumrah setiap permasalahan disebabkan oleh faktor politik, begitupula dalam Islam persoalan yang timbul pertama-tama didasari oleh faktor politik yang lambat laun berujung pada permasalahan teologis.

Dalam sejarah Islam ditemukan banyak permasalahan yang berawal dari faktor politik dan berujung pada persoalan teologi. Pada fase pertama perkembangan Islam, Nabi Muhammad mulai menyiarkan ajaran Islam yang beliau terima dari Allah, dipertengahan abad ke-6 M atau bisa dibilang sampai Hijrahnya Nabi.

Pada waktu wafatnya Nabi Muhammad masyarakat Madinah pada sibung memikirkan pengganti beliau untuk memimpin Negara, hingga pemakaman Nabi hanya orang-orang tertentu yang mengurusnya.  Sejarah meriwayatkan bahwa yang dipilih masyarakat untuk menjadi khalifah adalah Abu Bakar setelah itu kekhalifahan digantikan oleh Umar Ibn al-Khatab dan dilanjutkan oleh Utsman bin Affan. Utsman adalah salah satu dari golongan pedagang Quraisy yang kaya, keluarganya terdiri dari orang Aristokrat Mekkah  dan dengan pengalaman dagang mereka memiliki pengetahuan mengenai administrasi yang cukup  sehingga pengetahuan ini bisa bermanfaat  dalam memimpin administrasi daerah-daerah di luar semenanjung Arabia yang bertambah banyak masuk ke Islam. Dalam sejarah juga diceritakan bahwasannya Utsman tak mampu menentang ambisi keluarganya, sehingga ia mengangkat kaum keluarganya untuk menjadi gubernur,  walhasil  gubernur yang diangkat oleh Umar Ibn Khattab, khalifah yang terkenal sebagai orang kuat dan tak memikirkan kepentingan keluarganya telah ia jatuhkan.

Tindakan ini sangat merugikan baik buat Utsman sendiri maupun buat kaum muslimin, karena sahabat-sahabat Nabi yang awalnya menyongkong Utsman kini berbalik reaksi bahkan timbul perassaan-perasaan tidak senang dikarenakan Umar Ibn Al-‘As yang digantikan oleh Abdullah Ibn-Sa’ad Ibn Abi Sarh sebagai Gubernur Mesir, hal ini memicu lima ratus pemberontak berkumpul dan bergerak ke Madinah dan berujung pada pembunuhan Utsman.

Setelah Utsman wafat Ali menjadi penggantinya, tidak lama dari itu khalifah Ali mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin menjadi khalifah, terutama dari Zubeir dan Talhah, namun tantangan ini dapat dipatahkan Khalifa Ali pada pertumpuran yang terjadi di Irak tahun 656 M. Tantangan tidak berhenti disitu karena tantangan kedua muncul dari Mu’awiyah Gubernur Damaskus dan keluarga yang dekat bagi Utsman, mereka tidak mau mengakui Khalifah Ali sebagai khalifah. Ia menuntut kepada Ali untuk menghukum pembunuh khalifah Utsman bahkan ia juga menuduh khalifah Ali ikut campur dalam pembunuhan Utsman. Sedangkan pembunuh Utsman adalah salah seorang pemuka pemberontak-pemberontak Mesir yang bernama Muhammad Ibn Abi Bakar yang merupakan anak angkat Ali Ibn Abi Thalib, dan Ali tidak mengambil tindakan tindakan terhadap pemberontak itu.

Kejadian ini mengakibatkan terjadinya pertempuran di Siffin akan tetapi tangan kanan Mu’awiyyah, Amr Ibn al-As yang terkenal licik, ia meminta berdamai dengan mengangkat Al-Qur’an ke atas. Qurra’ yang ada di pihak Ali mendesak agar Ali menerima perdamaian, dengan demikian dicarilah peerdamaian dengan mengadakan arbitrase.[1]  Menurut yang kami dapat, persoalan inilah yang mengakibatkan adanya tiga aliran teologi dalam Islam yakni aliran Khawarij yang mengatakan orang yang berdosa besar adalah kafir, yang kedua adalah aliran Murji’ah mengatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir, yang ketiga adalah aliran Mu’tazilah ia tidak menerima pendapat kedua-duanya, karena menurut aliran ini orang yang berdosa bukan kafir dan bukan pula mukmin akan tetapi orang seperti itu mereka mengambil posisi ditengah keduanya mukmin dan kafir yang dalam bahasa Arabnya dikenal almanzilah bain al-minzilitain (posisi di antara dua posisi). Dalam kesempatan ini kami akan membahas Mu’tazilah secara mendalam.

Kaum Mu’tazilah disebut juga kaum rasionalis Islam karena Kaum Mu’tazilah membawa persoalan-persoalan teologis yang bersifat filosofis. munculnya aliran Mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi  Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena  pediri Muktazilah ini ialah Washil Ibn Atha, yang memisahkan diri dari majelis Al-hasan Al-Bashri dikarenakan ada pertanyaan  tentang orang yang melakukan dosa besar, apakah dia orang yang beriman atau orang yang kafir. Atas jawaban dari Washil Ibn Atha yang mengatakan bahwa orang melakukan dosa besar bukanlah orang yang beriman atau orang yang kafir, melainkan orang yang munafik. Dari sinilah terjadi pergesekan hubungan antara keduanya yang berakibat Washil Ibn Atha memisahkan diri dengan membuat kelompok sendiri dan saat itu pula penamaan Muktazilah bermula dari perkataan Al-hasan Al-Bashri “i’tazalana Washil”(Washil berpisah dari kita). Adapun menurut Al-Qadhi abdul Jabbar, penamaan Mu’tazilah bermula dari Amr Ibn Ubaid ketika berdiskusi dengan Washil Ibn Atha tentang seseorang yang melakukan perbuatan dosa besar tersebut.

Kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah).[2]

Sejarah lain mengatakan bahwa Mu’tazilah secara tekhnis dapat menujukan pada dua golongan. Pada golongan pertama dikatakan sebagai golongan yang muncul sebagai respon politik murni, dikarenakan golongan ini tumbuh karena adanya sifat netral dari pertikaian dalam perang Jamal antara pihak Imam Ali dengan pihak Aisyah, Tolhah dan Zubair. Dari sinilah dikatakan bahwa pihak yang lepas atau terkait dari pertikaian tersebut dengan kaum Mu’tazilah sesuai dengan perkataan Gubernur Mesir Qois Ibn Sa’ad selaku Gubernur dari Ali Ibn Abi Thalib.

Sedangkan golongan kedua  muncul disebabkan sebagai respon atas perselisihan antara Khawarij dan Murji’ah sebagai tanggapan mengenai pemberian setatus kafir kepada seorang mukmin apabila ia melakukan dosa besar.

B. Tokoh-Tokoh Muktazilah

Mazhab Muktazilah didirikan di Bashrah, lalu menyebar dengan cepat keseluruh Irak. Adapun perkembangnnya muktazailah banyak mempengaruhi para tokoh-tokoh Khalifah Umayyah seperti Yazid bin al-Walid dan Marwan bin Muhammad. Kemudian pada Abbasiyah aliran ini terbagi menjadi dua bagian yaitu dari Bashrah dan dari Baghdad. Masing-masing aliran ini memimpin dan memiliki pemikiran yang berbeda. Namun secara mendasar Bashrah memiliki keluasan berpikir secara merdeka dari pada Baghdad. Adapun pemuka-pemuka penting Muktazilah masing-masing:

Aliran Bashrah

  1. Al-Washilah

Didirikan oleh Abu Huzaifah Washil ibn Atha Al-Gazzal al-Altsag (80-131), dimana Washil ini adalah murid dari Hasan Bashri. Kepiawaiyannya sangat terkenal pada saat itu, terutama dari segi pola pikir. Sehingga pada saat keluar dari majelis Hasan Bashri, dia begitu dengan cepat memperoleh pengikut pada saat itu. Dimana ajarannya mengemban empat pokok yang diantaranya :

Pertama,dari pokok pertama ini Washil menolak adanya sifat-sifat Allah yang secara umum telah terangkum dalam lima dasar pemahaman muktazilah yang telah disebutkan diatas. Namun para ulama salaf berbeda pendapat mengenai pendapat Washil ini, karena sifat-sifat tersebut telah disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah.

Kedua, dalam ajaran pokok ini, dengan jelas Washil menolak adanya takdir. Karena menurutnya jika Allah maha adil, maka tidak mungkin segala sesuatu baik dalam kezaliman dan keburukan terlimpahkan kepada Allah. Akibatnya ketika semua itu terlimpahkan kepada-Nya maka sungguh mustahil jika perbuatan tersebut terlimpahkan kepada manusia, dan manusia pula yang harus menerima dari ganjaran perbuatan yang dilakukan.

Ketiga, Washil menjelaskan tentang manzilataini (berada pada dua tempat). Pokok ketiga ini menjelaskan disaat tanggapan Hasan Bashri mengenai dosa besar yang sekaligus memulai memisahkan diri dari majelis Hasan Bashar. Dalam argumen ketika ini, Washil menjelaskan bahwa diakhirat hanya ada dua kelompok : penghuni surga dan penghuni neraka.

Keempat, dalam ulasan pokok yang terakhir ini dijelaskan, saat terjadi perang Jamal dan perang Shiffin tidak bisa dibenarkan anatara kedua belah pihak yang saling menyalahkan begitu pula dalam penyaksiannya, walaupun ada yang benar diantara salah satunya.

  1. Amr bin Ubaid

Amr merupakan salah satu pemuka pendiri Muktazilah, ia memiliki hubungan erat dengan Washil, karena ia adalah Iparnya. Tetapi adanya perbedaan pengetahuan seperti yang diungkapkan oleh istri Washil, bahwa ia meiliki perbedaan pengetahuan dengan Washil seperti langit dan bumi.

Amr memandang bahwa semua golongan yang berperang dalam perang jamal tidak bisa dinyatakan pihak mana yang bersalah, akan tetapi diantara mereka pasti ada yang salah. Karena menurutnya pihak yang terlibat dalam perang jamal seperti Ali, Thalhah, Zubair dan Aisyah merupakan orang-orang sangat berjasa dalam perkembangan islam baik sumbangsih harta dan jiwa mereka. Sehingga Amr dan Washil lebih menyerahkan masalah ini kepada Allah .

  1. Abu Huzail Allaf

Ia adalah pemimpin yang sangat berjasa pada masa, karena ia berhasil mamasukkan prinsip-prinsip Filsafat kedalam ajaran-ajaran Muktazilah. Ia juga hidup di zaman Abbasiyah dan sekaligus pernah menjadi guru khalifah al-Ma’mun. ia berhasil mengislamkan konsep pemikiran filsafat yunani tersebut kedalam ajaran Muktazilah.

  1. Al- Nazzam

Ia merupakan murid Huzail yang sangat terkenal dengan rasional dan cerdik. Dalam pemahamannya ia tidak mempercayai tentang tahayyul. Karena ia selalu mempergunakan akal pikirannya tenang. Dengan demikian ia berpendapat bahwa manusia tidak dapat melihat jin yang susunanannya berbeda dengan manusia.

Nazzam sangat sedikit mempercayai hadist, ia hanya memepercayai hadist mutawatir saja. Namun sangat kuat memepercayai ayat-ayat Quran. Akan tetapi ia sangat dibenci oleh para kalangan muhaddisin karena sikapnya yang hanya mempercayai sidikit hadist tersebut. Begitu juga ia berpendapat bahwa mukjizat al-Quran terletak pada berita-berita gaibnya. Adapun mengenai bentuk dan susunannya ia menganggap manusia bisa membuatnya asalkan tidak allah tidak menghalanginya.[3]

Ia juga berpendapat bahwa hakikat manusia itu adalah jiwanya, bukan badannya. Badan hanyalah alat saja menurutnya, dimana jiwa itu adalah penjara bagi jiwa. Apabila jiwa bisa lepas dari badan, maka ia akan kembali ke alam.[4]

  1. Al-Jahiz

Ia adalah murid adari al-Nazzam sekaligus sangat banyak menguasai disiplin ilmu seperti sastra, teologi, filsafat asing, geografi, dan ilmu jiwa. Sehingga ia sangat pandai dalam berkhutbah dan membela ajaran-ajaran Muktazilah.

Pendapatnya mengenai perbuatan dan pengetahuan manusia. Ia berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan dalam berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri, sedangkan pengetahuan bukanlah bagian dari perbuatan manusia, karena pengetahuan merupakan bagian dari indra yang darinya penalaran bisa didapat. Ia juga hanya memepercayai hadist mutawatir saja dalam pandangannya.

  1. Al-Jabba’i

Pendapat yang terkenal dalam konsep pemikirannya adalah bahwa allah mangetahui, berkuasa, dan lain sebagainya adalah hisup melalui esensinya. Kemudian juga akal bisa mengetahui yang baik dan yang buruk , walaupun tanpa bantuan wahyu

Aliran Baghdad

  1. Bisyr bin al-Mu’tamar

Ia merupakan murid Washil di Bashrah. Setelah berguru dengannya ia berpindah ke Baghdad dan mengembangkan ajarannya disana. Pendapat yang penting mengenai perbuatan manusia adalah apabila seorang anak kecil melakukan dosa besar, maka ia terlepas dari hokum Allah. Karena jika Dia menghukumnya berarti Allah sudah berlaku zalim terhadapnya dan sangat tidak pantas jika hal demikian dilakukan-Nya. Adapun tentang dosa besar ia berpendapat bahwa apabila seorang mukmin melakukan dosa besar kemudian ia melakukannya lagi, maka ia akan mendapatkan siksa. Namun jika ia bila ia sudah bertobat dan tidak mengulanginya, maka tobatnya dapat menghapus dosanya.

  1. Abu Musa al-Murdar

Pemimpin yang sangat ektrim di Baghda, sekaligus yang paling berani dan tidak segan mengatakan kafir kepada orang yang mengatakan bahwa allah bisa dilihat dengan mata kita. Begitu juga bagi orang yang menyandarkan perbuatan itu dari Allah dan datangnya dari-Nya. Serta orang memberikan sifat-sifat kepada Allah seperti layaknya yang dimilki oleh Manusia. Semua itu adalah kafir. Manurut Ahmad Amin, Murdarlah yang pertama kali mengeluarkan fitnah khalq al-Quran dan juga menyatakan bahwa manusia mampu meniru al-Quran dan gaya bahasanya.

  1. Sumanah bin al-Asyrah

Ia sangat berjasa pada perkembangan Muktazilah di Zaman Abbasiyah yaitu Khalifah al-Ma’mun. Malalui kepandaiannya dalam berargumen Ma’mun selalu menuruti apa yang ia sampaikan karena  kepandaiannya dalam berargumen. Ia juga berpendapat bahwa orang fasiq akan didera di neraka jika mereka tidak bertaubat.

  1. Ahmad bin Du’ad

Ia adalah seorang yang berpendirian yang kuat, sampai-sampai al-Ma’mun berwasiat kepada anaknya untuk menjadikan Ahmad bin Du’ad sebagai wazir. Dari ia juga para khalifah-khalifah menyetujui diadakannya al-minah khalq al-Quran, yang kemudian berakibat bencana bagi Muktazilah itu sendiri. Serta menjadikan mazhab Muktazilah sebagai mazhab yang resmi di Negara malah menjadi mazhab yang dijauhi oleh orang-orang karena para pemuka-pemukanya.[5]

C. Al-Ushul al-Khamsah

Dalam perkembangannya, para pengikut Muktazilah memiliki lima ajaran pokok yang disebut al-Ushul al-Khamsah : Lima Ajaran Dasar Teologi Muktazilah. Kelima ajaran ini tertuang yakni akan terpaparkan dibawah ini:

  1. At-Tauhid (pengesaan Tuhan)

At-Tauhid ini merupakan prinsip utama dan inti sari dalam konsep pemahan muktazilah. Walaupun sebenarnya dalam berbagai mazhab teologis memegang konsep yang sama dalam dokrin ini. Namun dalam kajian konsep pemahamannya, Muktazailah lebih spesifik dalam mengartikannya.

Menurutnya Tuhan haruslah suci dari untuk memurnikan keesan Tuhan (tanzih), dimana Muktazilah menolak konsep tuhan memilki sifat-sifat, penggambaran fisik tuhan (antrofomorfisme/tajassum) dan yuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Muktazilah berasumsi tuhan Maha Esa, yang tidak ada satu pun yang dapat menyerupainya.

Dialah Maha Melihat, Maha mendengar, Maha Mengetahui dan lain sebagainya yang diperuntukkan kepada-Nya. Semua yang terbilang itu menurut mereka bukanlah sifat pada Allah, akan tatapi itu merupakan bagian yang melekat yang disebut dengan dzatnya, bukan sifatnya. karena jika menjastifikasi itu adalah sifat tuhan, maka ia memiliki dua yang qadim pada diri-Nya. Seperti yang diungkapkan oleh Washil ibn Atha’ dalam bukunya Asy-Shahrastani berkata “siapa yang mengatakan sifat yang qadim berarti telah menduakan tuhan”. Atas ketidak terimaan konsep penduaan Tuhan ini, mereka menganggap inilah perbuatan Syirik.

Doktrin tauhid Muktazilah lebih lanjut mejelaskan bahwa tidak ada yang bisa menyamai Tuhan. Begitu juga sebaliknya bahwa tidak ada yang bisa menyerupainya dengan makhluknya. Karena tuhan merupakan immateri yang sangat tidak pantas diserupakan dengan konsep materi. Penolakan terhadap penyerupan atau lebih dikenal dengan tajassum/antrofomorfisme mereka ambil dari pernyataan ayat yang berbunyi “…tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia……….” (Q.S. Asy-Syuara :142). Muktazilah sendiri memberi takwil dengan ayat yang berhungan dalam penggambaran kejisiman Tuhan, yaitu dengan memalingkan kata-kata tersebut dengan kata yang lain sehingga hilanh kejisiman pada tuhan tersebut.

Sungguh tidak dapat dipungkiri bahwa Muktazilah sudah terkena pengaruh filsafat Yunani, akan tetapi tidak dapat menjadikannya sebagai pengikut buta Hellenisme. Namun atas usaha mereka dalam memperdalam pemahaman helenetik ini, mereka mampu mematikan serangan yang ditujukan kepada para penentangnya.[6]

  1. Al-Adl (keadilan Tuhan)

Ajaran dasar yang kedua yakni al-Adl yang berarti Tuhan Mahaadil. Kata adil ini sendiri dimaksudkan bahwa inilah antribut yang sangat pantas untuk mejelaskan dalam penunjukan kesempurnaan-Nya. Tidak mungkin jika Dia dikatakan tidaklah adil atas kesempurnaan yang telah dimilikinya. Karena ketidakadilan tidak sejalan dengan kemahabijaksaan Tuhan. Ajaran ini bertujuan untuk menempatkan tuhan dengan seadil-adil terhadap makhluknya di alam semesta ini. Dalam konsep pemahannya ini mereka beranggapan bahwa Tuhan dipandang adil jika Dia berbuat baik (ash-Shalah) dan yang terbaik (al-Ashlah), dan bukanlah yang tidak baik. Begitu juga Tuhan itu adil jika tidak melanggar janji-Nya, sehingga dengan demikian tuhan terikat dengan jinji-Nya.

Dalam ajaran tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, yang diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Perbutan manusia

Menurut Muktazilah berasumsi bahwa manusia bebas melakukan dan menciptakan apapun sesuai dengan kehendaknya yang terlepas dengan kehendak Tuhan dan kekuasaan-nya. Perbuatan manusia tersebut, bebas dengan benar-benar sebebasnya dalam menentukan pilihan perbuatannya, entah itu baik ataupun buruk. Akan tetapi perlu diketahui, bahwa konsepsi Muktazilah beranggapan Tuhan itu hanya menyuruh yang baik, tidaklah ada cangkupan buruk dalam kehendak-Nya. Adapun perintah Tuhan pastilah baik dan bukanlah buruk sesuai dengan konsekuensi lohis dengan keadilan Tuhan. Bahwa jika manusia berbuat baik maka akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya, begitu juga dengan kejahatan yang diakan dibalas dengan keburukan.

  • Perbuatan baik dan Buruk

Kewajiban dalam berbuat baik, merupakan keharusan yang harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai dengan perintah-Nya. Karena tidak mungkin Tuhan menghendaki keburukan yang sangat bertentangan dengan kemahabijaksanaan-Nya. Sehingga berbuat baik dan terbaik (ash-Shalah wa al-ashlah) sudah menjadi keapstian yang harus diperbuat manusia. [7]

  • Mengutus Rasul

Mengutus rasul merupakan kewajiban Tuhan kepada Manusia karena beberapa hal sebagai berikut :

  • Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak mungkin terwujud, keuali dengan mengutus Rasul kepada mereka.
  • Al-Quran juga secara tegas menjelaskan bahwa kewajiban tuhan adalah memberikan belas kasih terhadap hambanya sesuai dengan surah ash-syu’ara’ :29.
  1. al-wa’d wa al-Wa’id (janji dan ancaman)

Pada ajaran yang ketiga ini sangat erat hungannya dengan ajaran yang kedua. Karena perbutan Tuhan terikat  dan dibatasi dengan jani-Nya. Janji Tuhan untuk memberi balsan terhadap yang berbuat baik dan menyiksa dengan ancaman api neraka terhadap yang durhaka kepada-Nya, begitu juga tuhan akan memberi ampunan bagi setiap manusia yang bertobat.

Ajaran yang ketika ini, tidak memberi peluang terhadap Tuhan selain hanya dengan janji-Nya. Yakni balasan bagi yang berbuat baik dan menyiksa bagi yang berbuat kejahatan. Dalam konsep dimaksukkannya manusia ke dalam neraka bagi yang durhaka kepada-Nya adalah bagi yang kejahatan yang termasuk dalam dosa besar. Sedangkan dosa kecil akan mendapat pengampunan terhadap-Nya.

  1. Al-Manzilah bain al-Manzilatain

Ajaran yang keempat inilah yang menyebabkan lahirnya kalangan/mazhab Muktazilah dalam versi Washil ibn Atha’. Ajaran berbica mengenai status orang yang beriman yang melakukan dosa besar. Seperti yang sudah tercatat dalam sejarah bahwa oaring mukmin yang melakuakn perbuatan dosa besar adalah sebagai orang kafir, bahkan musyrik. Menurut murjiah orang tersebut mukmin dan dosanya diserahkan kepada tuhan. Namun Washil ibn Atha beranggapan berbeda dari keduanya bahwa oarng tersebut berada dalam dua posisi (al-Manzilah Bain al-Manzilatain). Karena ajaran inilah Washil pada dan ‘Amr bin Ubaid memisahkan diri dari majelis Hasan al-Basyri.

Menurut Izutsu (1914-1993) dengan mengutip ibn Hazm (w. 456 H) menguraikan pandangan Muktazilah sebagai berikut “orang yang melakukan dosa besar disebut fasiq. Ia bukan mukmin, bukan kafir dan bukan pula munafik (hiporkit).”[8] Konsep Muktazilah sendiri dimaksudkan bahwa pelaku disa besar tidak dapat dikatakan sebagi orang yang mukmin secara mutlak. Karena iman menuntut manusia akan kepatuhan kepada Tuhan. Tidak hanya pengakuan dan pembenaran saja. Orang tidak dapat dikatakan kafir secara mutlak jika orang tersebut mempercayai kepada Tuhan, Rasul-Nya dan mengerjakan pekerjaan yang baik. Akan tetapi jika meninggal sebelum bertobat, maka ia akan menetap di neraka kekal di dalamnya sesuai janji Tuhan bahwa di akhirat hanya ada dua pilihan yakni surge dan neraka.[9] Namun untuk orang fasiq akan dimaksukkan ke neraka, tapi siksaan lebih ringan dari pada orang yang kafir

  1. Al-Amr bin al-Ma’ruf wa an-Nahy’an al-Mungkar

Ajaran yang terakhir ini mengajak manusia untuk berbuat baik dan melarang keburukan. Konsep ajaran ini lebih memihakkan pada kebaikandan kebenaran. Karena pengakuan keimanan seseorang harus dibuktikan dengan baik serta menjauhi perbuatan yang jahat.

Al-Amr bin al-Ma’ruf wa an-Nahy’an al-Mungkar bukanlah konsep ajaran yang semena-mena dan menunggali atas konsep ini. Namun karena atas banyak penemuan ayat-ayat yang sering dujumpai dalam al-Quran. Kata ma’ruf adalah kebaikan dan keburukan yang kata ini sudah diakui oleh masyrakat. Adapun mungkar  adalah kebalikan dari ma’ruf yakni sesuatu yang tidak dikenal, tidak diterima, dan buruk. Perbedaan dari ajaran yang terakhir ini dengan mazhab yang lain ialah apabila dalam penerapannya tidak bisa dilaksanakan, maka tindakan kekerasan boleh dilakukan untuk  mewujudkan ajaran tersebut.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kemunculan Muktazilah itu tidak terlalu berbeda dengan aliran-aliran sebelumnya seperti Khawarij dan Murjiah. Karena kemunculan aliran ini diawali factor politik yang berujung kepada teologi. Secara garis besar kemunculan aliran ini datang sebagai respon atas pertanyaan seputar pelaku dosa besar.

Dalam hal ini Muktazilah memiliki konsep pemikiran yang berbeda dengan aliran sebelumnya, yang mana Muktazilah menolak pendapat keduanya seputar pelaku dosa Besar. Karena ia beranggapan bahwa pelaku dosa Besar tersebut tidaklah kafir maupun mukmin sebagai statusnya. Akan tetapi Muktazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti sebagai palaku dosa besar. Namun ia menyebutnya dengan “manzilah bain an-Manzilatain”.

Dalam perkembangannya, Muktazilah sendiri dibawa oleh Washil ibn Atha dan Amr ibn Ubaid. Dimana kalangan ini lebih cendrung pada rasional yang diambil dari konsep pemahaman filsafat Yunani kedalam konsep islam.

B. Saran

Pemakalah menyarankan kepada pembaca budiman, agar lebih merujuk kembali pada buku-buku yang membahas tema ini. Dengan begitu, dapat menambah wawasan kita pada teman ini. Semoga bermanfaat dan kita semakin bijak dalam menyikapi perbedaan yang telah lama menjalar di tubuh ISLAM.

[1] Pelimpahan kekuasaan

[2] http://www.almanhaj.or.id/content/1985/slash/0

[3] M. Amin Nurdin dan Afif Fauzi Abbas. Sejarah pemikiran islam. Hal 68-69

[4] M. Amin Nurdin dan Afif Fauzi Abbas. Sejarah pemikiran islam. Hal 70-71

[5] M. Amin Nurdin dan Afif Fauzi Abbas. Sejarah pemikiran islam. Hal 72-73

[6] Abdur razak dan Rosihin Anwar. Ilmu Kalam. Hal 102

[7]  Abdur razak dan Rosihin Anwar. Ilmu Kalam. Hal 104

[8] Toshiko Izutsu, kosep kepercayaan dalam teologi islam. Terjemahan agus fahri Husain, dkk, tiara wacana, Yogyakarta 1994. Hal 53

[9] Abdur razak dan Rosihin Anwar. Ilmu Kalam. Hal 106

DAFTAR PUSTAKA

Amin Nurdin, Afif Fauzi Abbas. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta. Amzah.2012

 Al-Syahrastani, Abdul Karim. Al-milal wa Al-Nihal. Surabaya: PT. Bina Ilmu

Nasution, Harun. Teologi Islam. Jakarta: UIP.2002

Rozak Abdul, Rosihin Anwar. Ilmu Kalam. Bandung ; Pustaka Setia. 2012