Perbandingan Madzhab Kalam mengenai Kalamullah

Pemakalah: Endang Nurfitriah dan Hikmah Khusnul Khotimah

KATA PENGANTAR

Segala Pujian senantiasa terucap dan tertuju hanya kepada Sang Haqq yang MahaAgung dan MahaBijaksana yang senantiasa pula memberikan anugerah yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Shalawat, salam dan keberkahan tertuju untuk Muhammad Saw. Penyapai kabar gembira dan kebahagiaan atas alam semesta, kepada keluargnya serta sahabat-sahabatnya yang setia.

Ucapan terimakasih kami untuk Dosen Pengampu Ust. Ahmad Subandi yang dalam proses pembelajaran mata kuliah ini, selalu memberikan hal-hal baru tentang Islam khususnya dalam kajian teologi ini. Tak lupa kami utarakan rasa terimakasih kepada sahabat-sahabat sekalian yang pada saat diskusi nanti dengan penuh semangat dengan segala hal baru pula yang sahabat-sahabat berikan dalam mewarnai ruang diskusi sehingga memberikan kekhasan dan sebagai penyempurna dalam materi makalah kami. Terimakasih…

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu persoalan besar yang menjadi pembicaraan Ilmu kalam adalah masalah Ketuhanan. Sehingga, pembahasan kalam Allah menjadi suatu objek yang diperbincangkan dalam pembahasan ilmu kalam karena memang Kalam Allah menjadi suatu bagian pula dalam pembahasan Ketuhanan. Masalah yang diperbincangkan ini melahirkan pandangan yang berbeda-beda dari beberapa aliran teologi. Adapun madzhab atau aliran kalam yang secara khusus membahas dan mengembangkan paham kalam Allah ialah Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Dengan berbagai argumentasi yang berbeda-beda, tentu setiap madzhab kalam memiliki alasan-alasan dalam mempertahankan argumennya tersebut.

Pembahasan mengenai kalam Allah bermula dari paham Mu’tazilah yang ingin membersihkan keyakinan masyarakat yang sudah bercampur dengan paham syirik dan mengembalikannya kepada paham tauhid yang murni sesuai dengan tuntunan al-Qur’an. Untuk membersihkan paham syirik yang telah merebah dalam keyakinan masyarakat, sehingga terkenal dengan hal yang disebut al-Mihnah, yaitu suatu lembaran hitam yag tidak dapat dilupakan dalam sejarah pemikiran Islam yang terjadi pada masa pemerintahan al-Ma’mun dari Bani Abbas.[1]

Paham yang berkembang diwaktu itu adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan ia qadim sehingga pandangan ini direspon oleh paham Mu’tazilah sebagai paham yang syirik. Berawal dari paham Mu’tazilah, kemudian lahirlah paham al-Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai reaksi pemahaman terhadap Mu’tazilah dan melahirkan pandangan baru. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, terlihat bahwa Asy’ari yang dulunya adalah tokoh Mu’tazilah, meninggalkan aliran itu dan mendirikan aliran baru yang disebut aliran Asy’ariyah.

Dengan demikian, jika kita telisik masing-masing pandangan madzhab kalam mengenai kalam Allah, tentu kita dapat ketahui perbedaan atau perbandingannya secara jelas. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pandangan diantara masing-masing madzhab kalam khususnya dalam hal kalam Allah, maka dalam pembahasan makalah inilah, penulis akan mencoba menguraikannya secara lebih detail bagaimana pandangan kalam Allah dalam masing-masing perspektif madzhab kalam.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan masing-masing madzhab kalam yakni Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah mengenai kalam Allah?
  2. Jelaskan perbandingannya secara rinci diantara masing-masing madzhab kalam mengenai kalam Allah?

C. Tujuan

Dalam makalah ini, penulis mencoba untuk menguraikan secara detail mengenai pembahasan kalam Allah dalam masing-masing pandangan madzhab kalam. Dengan demikian kita dapat mengetahui perbandingan diantara pandangan pada masing-masing aliran mengenai kalam Allah

D. Manfaat

Penulis berharap dengan adanya pembahasan mengenai perbandingan kalam Allah ini, dapat menjadikan pengenalan dan penambah wawasan pengetahuan bagi para pembaca serta mampu menyikapi pandangan tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Mu’tazilah

Al-Mu’tazilah mempunyai paham bahwa al-Qur’an itu ciptaan Allah yang tersusun dari huruf, suara, dan kalimat. Oleh karena itu, paham Mu’tazilah mengatakan bahwa kalau al-Qur’an terdiri dari kata-kata, sedang kata-kata itu baru, maka al-Qur’an itu pasti baru atau tidak kekal. Qadim al-Qur’an dalam pandangan al-Mu’tazilah membawa kepada paham syirik. Syirik adalah satu dosa besar yang tidak diampuni. Tidak ada yang qadim selain Allah, hanya dzat Allah yang boleh qadim. Selain itu, kaum Mu’tazilah juga menyatakan bahwa sabda Allah bukanlah sifat tetapi perbuatan Tuhan. Dengan demikian al-Qur’an bersifat baharu dan diciptakan Tuhan. Al-Qur’an tersusun dari bagian-bagian berupa ayat dan surat, ayat yang satu mendahului yang lain dan surat yang satu mendahului yang lain pula. Adanya sifat terdahulu dan sifat yang datang kemudian, membuat sesuatu itu tidak bisa bersifat qadim, yaitu tak bermula, karena yang tak bermula tak didahului oleh apa pun. [2]Menurut pandangan Mu’tazilah, pendapat mereka tersebut berdasarkan dalil yakni surah Al-Anbiya: 2, Al-Hijr: 9, Hud: 1, dan Az-Zumar: 23. Dengan demikian, antara paham al-Mu’tazilah dan paham ulama-ulama tradisional terjadi pertentangan yang tidak dapat dikompromikan. Pertentangan itu berkelanjutan dan tidak dapat diselesaikan secara lunak, tetapi diselesaikan dengan keras, yakni dengan cara yang disebut al-mihnah.[3]

Paham selanjutnya, Mu’tazilah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Pandangan ini muncul atas konsekuensi dari paham tauhid yakni Tuhan betul-betul Maha Esa, Dia adalah qadim, dan tidak ada yang qadim selain Dia. Oleh sebab itu, al-Mu’tazilah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk dan tidak qadim. Al-Qur’an yang dimaksud disini adalah al-Qur’an yang dibaca, yang terdiri dari huruf dan suara yang dapat didengar. Dengan demikian jelaslah, kaum Mu’tazilah sendiri mengakui bahwa al-Qur’an tersusun tidak bisa bersifat kekal dalam arti qadim.

B. Asy’ariyyah

Kaum yang berpegang keras bahwa Sabda adalah sifat, dan sebagai sifat Tuhan mestilah kekal. Dari pendapat tersebut, mereka memberi definisi lain terhadap sabda. Sabda bagi mereka adalah arti atau makna abstrak dan tidak tersusun. Sabda bukanlah apa yang tersusun dari huruf dan suara. Sabda yang sebenarnya ialah apa yang terletak dibalik yang tersusun itu. Sabda yang tersusun dari huruf dan kata-kata bukanlah sabda Tuhan.[4] Dalam arti huruf, kata, ayat dan surat yang ditulis dan yang kita baca disebut al-Quran yang bersifat baharu serta diciptakan, dan bukanlah sabda. Sedangkan al-Qur’an dalam arti atau makna abstrak barulah disebut sabda Tuhan dan bersifat kekal.

Dengan demikian, al-Qur’an menurut paham Asy’ariyah adalah kekal, qadim, dan tidak diciptakan. Asy’ariyah berpegang teguh pada pernyataan bahwa al-Qur’an bukan makhluk. Sebab segala sesuatu tercipta, setelah Allah berfirman kun (jadilah), segala sesuatu pun terjadi. Maka, penjelasan ini mengisyaratkan bahwa al-Qur’an dalam paham mereka bukan yang tersusun dari huruf dan suara, tetapi yang terdapat di baliknya. Ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan dalil oleh Asy’ari adalah surah Ar-Rum: 25, surah Al-‘Araf: 54, surah Yasin: 82, surah Al-Kahf: 109, dan surah Al-Mu’min: 16.

Mengenai pendapat bahwa al-Qur’an itu tidak diciptakan berdasarkan atas firman Allah Swt dalam surah al-Nahl: 40:

إِنَّمَا قَوْلُنُاَ لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (٤٠)

Menurut Asy’ari, kata kun (jadilah) merupakan kata yang digunakan dalam setiap penciptaan. Jika kata kun diciptakan, tentu untuk menciptakan kata kun itu diperlukan kun yang lain sehingga menciptakan rentetan kata kun yang tidak berkesudahan (tasalsul). Hal ini tentu tidak mungkin. Kata kun tidak diciptakan. Karena itu, al-Qur’an tidak mungkin diciptakan dan bersifat kekal.  Al-Asy’ariyah menentang bagi mereka yang memberikan arti mengenai kata kun yakni “ Tuhan menciptakan suatu keadaan ada” juga bagi mereka yang berpandangan “Tuhan menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada”. Karena, apabila argument yang dibawa seperti itu menandakan bahwa Tuhan tidak menghendaki apa-apa.[5]

Selanjutnya, Asy’ari berpendapat bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah yang bersifat qadim. Menurut mereka, orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk berarti menyamakan Tuhan dengan patung yang tidak mempunyai kalam dan tidak bisa bertutur kata. Sebagaimana jawaban Nabi Ibrahim as dalam surah al-Anbiya ayat 63 yang menunjukkan bahwa jika berhala-berhala itu tidak dapat berbicara, tentu mereka bisa diakui sebagai Tuhan.

Argument kaum Asy’ariyah diatas tersebut ditolak oleh kaum Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah keadaan dipisah tidaklah menunjukkan perlainan jenis. Sebagaimana keadaan amr dan khalq dipisahkan tidak mengartikan bahwa amr dan khalq berlainan jenis dengan kata lain amr dan khalq adalah sejenis. Oleh karena itu, amr atau sabda Tuhan adalah diciptakan dan tidak kekal. Mengenai kun, menurut Mu’tazilah kun adalah kata yang tersusun dari huruf-huruf dan ia mesti bersifat baharu. Kun menurut mereka tidak mempunyai efek, karena kalau ia mempunyai efek ia harus menimbulkan efek, baik Tuhan ataupun manusia yang mengucapkannya. Efek dalam arti menghasilkan sesuatu dan umat Islam selalu mengucapkan kun tetapi tidak menghasilkan sesuatu. Jadi, bukanlah kun yang menciptakan sesuatu sehingga tak perlu timbul infinite regress.[6]

C. Al-Maturidiyah

Kalam Allah bagi Maturidiyah sama dengan Asy’ari. Kalam Tuhan menurut pemikiran kalam al-Maturidiy antara lain: kalam Tuhan bukan makhluk dan hakikat kalam itu sendiri tidak dapat didengar kecuali majazi (kiasan) artinya dibalik tersusun itu adalah kekal. Adapun yang tersusun yang disebut al-Qur’an bukanlah sabda Tuhan, tapi merupakan tanda dari sabda Tuhan.

  1. Kalam Tuhan adalah makna yang ada pada dzatnya

Paham al-Maturidiy mengatakan bahwa kalam Tuhan bukan berupa huruf-huruf atau kalimat, bukan pula berupa suara dan tidak dapat didengar suaranya. Kalam Tuhan bersifat qadim dan tidak diciptakan, kekal, satu dan tidak terbagi, bukan bahasa Arab atau Syiria tetapi diolah ucapkan manusia dalam ekspresi yang berlainan. Abu al-Mu’in al-Nasafi, pendukung utama madzhab Maturidiyah dalam kitabnya Tahsinah al-Adillah menerangkan bahwa:

“Umat Islam berbeda pendapat tentang Kalam Tuhan. Apakah ia qadim ataukah hadis? Ahl-haq berpendapat bahwasanya Kalam Tuhan Yang Mahaluhur adalah sifat-Nya yang azali, bukan dari jenis huruf ataupun ataupun suara. Ia adalah sifat yang berdiri pada dzat-Nya. Sebuah sifat yang menafikan keadaan diam (sukut), bahaya perbuatan kekanak-kanakan, bisu dan sebagainya. Dengan sifat-Nya itu, Dia memerintah, melarang, dan memberi berita. …” 

Tokoh al-Maturidiy lainnya yang bernama Imam al-Bayadi, memberikan penjelasan dalam kitab Isyarat al-Maram, bahwasanya Kalam Tuhan tidak seperti kalam manusia. Dalam hal ini, ia menolak beberapa pendapat diantaranya: pendapat Mu’tazilah yang menafikan kalam itu sendiri, pendapat al-Hasyawiyah yang menyatakan bahwa Kalam Tuhan besifat lafdzi dan qadim, juga pendapat al-Karamiyah yang menyatakan bahwa Kalam Tuhan bersifat lafdzi dan hadis (baru), berdiri pada dzat Tuhan.

  1. Kalam Tuhan Bukan Makhluk

Al-Matruidiy menolak pendapat Mu’tazilah dan paham-paham lainnya yang menyatakan bahwa Kalam Tuhan adalah makhluk dan bersifat hadis. Menurut Maturidiy, Kalam Tuhan adalah sifat qadimah dan makna yang berdiri pada dzat Tuhan sehingga jelaslah bahwa ia bukanlah makhluk yang bersifat hadis.

Mengenai qadimnya al-Qur’an, al-Maturidiy mengambil dalil ditantangnya orang-orang Arab (para pujangganya) untuk menandingi al-Qur’an sebagai kalam Allah dan hujjah-Nya, dibuktikan dalam dua segi argumen:

  1. Terbukti ketidakmampuan orang-orang Arab membuat semisal al-Qur’an, apalagi menandinginya.
  2. Semua yang dibacakan dari al-Qur’an tidak disampaikan melalui ayat-ayat kecuali disana akal dapat menyaksikan keterbatasan makhluk memahami hikmah yang terkandung didalamnya.

3. Hakikat Kalam Tidak Dapat di Dengar Kecuali Majazi

Al-Maturidiy menjelaskan bahwa dalam kenyataan, kalam tidak dapat didengar kecuali secara majazi (kiasan). Apa yang didengar, pada dasarnya adalah suara yang kemudian bisa dipahami dari kalam dan ucapan. Berarti menunjukkan makna majazinya dan bukan makna hakikinya. Kalam bila didengar melalui suara yang menggerakkan bagian anggota badan dari orang yang mengucapkan kalam itu sendiri.

Al-Maturidiy dalam hal ini membedakan antara kalam (ucapan) dan qira’ah (bacaan). Berbeda dengan Mu’tazilah yang menyatakan bahwa qira’ah adalah kalam. Perbedaan antara kalam dan qira’ah mnurut maturidi itu didasarkan pada qidamnya kalam dan barunya qira’ah. Sekaligus memberi petunjuk bahwa qira’ah itu bukanlah “yang dibaca”, melainkan hikayah tentang al-Qur’an. Dengan demikian, maka jelaskah bahwa al-Qur’an yang riil (bisa dibaca) adalah hikayah tentang Kalam Tuhan dan hakikatnya kalamnya, tidak dapat didengar kecuali secara majazi.[7]

Menurut Maturidiy, kalam Allah itu terbagi dua, yaitu sebagai berikut:

  1. Kalam al-Nafsi, yang ada pada dzat Tuhan, kalam ini bersifat qadim, ia bukan termasuk jenis kalam manusia yang tersusun dari huruf dan bunyi. Kalam al-Nafsi menjadi sifat Tuhan sejak zaman azali. Tidak diketahui hakikatnya, tak dapat didengar atau dibaca kecuali dengan perantara.
  2. Kalam al-Lafzi, yaitu kalam yang tersusun dari huruf dan suara, kalam ini adalah jenis kalam manusia yang tentu saja bersifat baru.[8]

Mengenai definisi sabda Tuhan, Maturidiy memiliki pandangan sama terhadap Asy’ari yaitu dalam arti atau makna yang abstrak dan tidak tersusun. Sabda bukan huruf, bukan suara, jadi hanya dalam arti kiasan, artinya dibalik tersusun itu adalah kekal. Adapun yang tersusun yang disebut al-Qur’an bukanlah sabda Tuhan, tapi merupakan tanda dari sabda Tuhan. [9]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dengan demikian, dapat diberi sebuah kesimpulan bahwa dari ketiga aliran mazhab diatas telah terjadi sebuah perbedaan definisi sejak awal mengenai apa itu Kalam Tuhan. Mu’tazilah lebih memandang pada al-Qur’an secara dhahiri (fisik) sehingga sebagai sebuah kewajaran juga sebagai konsekuensi dari pemberian batasan terhadap Allah yang tidak bersifat maka Kalam Tuhan adalah Huduts. Sedang Asy’ariyah pemberian pembatasan terhadap kalam Tuhan yakni Kekal dan tidak tersusun yang tentunya batasan Asy’ariyah terhadap kalam meliputi sesuatu hak yang abstrak.   – Sudah berbeda dengan Mu’tazilah- . Batasan yang diberikan Asy’ariyah oleh Maturidhi direspon baik dan sepakat bahwa Kalam Tuhan itu satu hal yang qadim buakan mahluk serta hanya dapat ditangkap/dipahami secara majazi ( sebagai tanda-tanda dari Kalam Tuhan.

B. Saran

Pemakalah menyarankan kepada pembaca budiman agar lebih merujuk lagi pada buku-buku yang membahas mengenai tema ini. Dengan begitu, wawasan yang kita miliki akan lebih luas.

[1] M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam, (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 85.

[2] Harun Nasution., Teologi Islam, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 143

[3] M. Amin Nurdin, Op. cit., hlm. 86

[4] Harun Nasution, Op. cit., hlm. 144

[5] Aminudin, Op. Cit., hal 105

[6] Harun Nasution, Op. cit., hlm. 145

[7] Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mnasur Al-Maturidiy, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010, hal. 42

[8] M. amin Nurdin, Op. cit., hlm. 144.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Nurdin, M. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: Amzah. 2011.

Nasution, Harun. Teologi Islam. Jakarta: UI Press. 1986.

Al-Barsany, Noer Iskandar. Pemikiran Kalam Imam Abu Mnasur Al-Maturidiy. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2010.

Rozak, Abdul & Rosihon Anwan. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia. 2012.