Perspektif Madzhab Kalam Mengenai Dosa Besar

Pemakalah: Hasan Akbar Fathullah dan Muhammad Hazir Rahim

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam perguliran panjang sejarah pemikiran Islam, teologi atau ilmu kalam merupakan cabang ilmu tertua yang lahir dari rahimnya. Berbagai pemikiran kritis dan dalam mewarnai dinamika perkembangan pemikiran tersebut. Karenanya, sebagaimana yang telah dipahami, dari perkembangan cabang ilmu ini, lahirlah berbagai kelompok (madzahib) terkait pemikiran spesifik dan khas mereka menyikapi isu-isu agama yang fundamental. Bahkan, jika perlu ditelusuri lebih jauh dalam perspektif sosial-politik yang praktis, tidak bisa tidak, teologi adalah warna dominan yang menyelimuti sikap beragama umat muslim.

Maka, analisa terhadap pemikiran teologi sepanjang sejarah islam merupakan hal yang cukup mendesak guna memperjelas isu-isu agama yang sejak dulu hingga saat ini masih tampak keruh. Bila tampak jelas, karena perbedaan tajam dari setiap kelompok pemikiran, secara subjektif, isu tersebut pun seolah tak kenal usang dan kunjung jelas. Di sisi lain, terdapat upaya untuk memperjelas kekeruhan dan menemukan kata ‘sepakat’ di antara mazhab pemikiran, yaitu pendekatan antar mazhab (taqrib al-Madzahib), namun sayangnya, ia juga tidak lebih luas dari upaya menutup diri dalam berdialog dan bergandengan tangan menyelami lautan ilmu dan menggali mutiara yang terkandung dalam Islam.

Oleh karena itu, dengan niat menjernihkan suasana yang kian keruh dalam persoalan teologik, di ruang yang sempit ini, dengan serba keterbatasan, penulis berupaya mengambil posisi atau peran untuk minimal memberi sumbangan teoritik bebentuk makalah terkait persoalan di atas. Dari sekian banyak isu teologik, dalam makalah singkat ini, penulis pun mengkhususkan diri menyinggung satu isu integral saja yang menjadi perdebatan penting di tengah para teolog Islam, yaitu DOSA BESAR.

Pertanyaan seputar dosa tentu pertanyaan umum yang niscaya mengemuka bagi manusia, karena manusia memiliki akal. Maksudnya, akal manusia dengan ciri khasnya –menggali, mempertanyakan, dan menyimpulkan– melazimkannya menganalisa dosa; baik dosa sebagaimana dosa (eksistensi dosa), maupun cara seseorang bisa dianggap berdosa, hingga akibat dari perbuatan dosa tersebut. Namun, pembahasan spesifik mengenai hal tersebut tidak akan dipaparkan di sini, pembaca dapat merujuknya di berbagai referensi teologi, filsafat, bahkan mistisisme. Di sini, penulis hanya memaparkan dosa dalam perspektif teologis yang notabene inheren dalam perujukannya terhadap teks atau ayat suci serta hadits.

Maka, alurnya adalah yang awalnya dosa berangkat dari dorongan umum akal telah berubah arah untuk merujuk pada dalil syar’i. Alhasil, al-Qur’an sebagai wahyu pun memainkan peran penting sebagai sumber utama keabsahan interpretasi. Meski disepakati sebagai sumber utama, tetapi sebagaimana yang akan dipaparkan kemudian, al-Qur’an justru hanya menjadi sebab sekunder perdebatan teologi. Yang menjadi sebab primer perdebatan teologi adalah situasi politik umat Islam, khususnya pasca wafatnya Nabi dan di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib r.a.

Berangkat dari itu semua, kemudian lahirlah beberapa kelompok yang menggabungkan diri dalam ‘satu kepercayaan’, ditandai dengan lahirnya khawarij, diikuti dengan murjiah, lalu mu’tazilah dan ortodoks (asy’ari dan ma’turidi). Oleh karena itu, pada makalah ini, akan penulis paparkan pandangan mazhab kalam tersebut, termasuk di dalamnya juga, pandangan Syiah dan Hasan al-Bashri terkait dosa besar. Berikut garis besar pembahasan makalah ini:

B.     Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pembahasan dosa besar mengemuka?
  2. Apa itu dosa besar dan siapa yang merupakan pendosa besar?
  3. Bagaimana kedudukan pelaku dosa besar?

BAB II

PEMBAHASAN

Pengantar Pembahasan

Sebagaimana yang telah disebutkan pada latar belakang, mengemukanya isu teologi dan terbaginya umat ke dalam beberapa kelompok, bukanlah disebabkan secara primer dari perbedaan interpretasi terhadap ayat al-Qur’an atau hadits, namun lebih kepada perbedaan pendirian politik. Sejalan dengan isu-isu yang lahir dari perdebatan tersebut, begitupun dengan isu dosa besar, ia mengemuka dengan sangat tajam disebabkan perbedaan pendirian politik. Adalah kelompok khawarij yang awalnya mendeklarasikan pandangan mereka dengan sangat ekplisit terkait dosa besar yang akan dibahas pada sub-bab khusus mengenai pandangan mereka. Kemudian sebagai anti-tesa, kelompok murji’ah juga memiliki pandangan khas yang lebih teoritik terkait dosa besar, begitupun Mu’tazilah, kaum ortodoks, dan Syiah serta Hasan al-Bahsri.

Sebagai pengantar, perlu kiranya dipahami bahwa perlu dilakukan kajian komprehensif dalam menganalisa pemikiran kalam terkait dosa besar. Isu-isu yang terkait erat dengannya tidak bisa diabaikan agar pembahasan menjadi jelas, seperti konsep iman dan kufr serta takfir. Mengenai konsep iman, tak bisa dipungkiri bahwa ia adalah substansi agama, baik untuk menjelaskan esensi maupun eksistensinya. Di samping itu, pembahasan mengenainya merupakan titik awal yang menandakan dimulainya perdebatan pemikiran teologi.[1]

Kemudian sebagai konsep pembanding, istilah penting dalam pembahasan teologi lainnya lahir, yaitu kufr yang merupakan dampak langsung dari pemisahan kelompok khawarij. Dari sanalah peredebatan melelahkan seputar dosa besar secara otomatis mengemuka. Dosa besar merupakan turunan pembahasan iman dan kufr. Dengan kata lain, sekema teoritik yang dapat ditarik darinya adalah konsep iman dan kufr mendasari pembahasan dosa besar. Selanjutnya, sebagai turunan kongkret, berturut-turut lahirlah istilah takfir (praktek mengkafirkan), kemudian murtakib al-Kabirah (pendosa besar). Dalam level inilah, seseorang akan mempertanyakan, bagaimana kedudukan muslim yang melakukan dosa besar?

Pembahasan mengenai hal ini sebetulnya telah disinggung dan ditekankan bahkan sejak masa Nabi Saw., hal demikian dapat terlacak pada hadits beliau Saw. Namun, ia menjadi lebih tajam ketika pada praktek sosial-politiknya, didapati umat muslim saling berdebat bahkan menumpahkan darah disebabkan persoalan ini. Konsep iman dan kufr memang perlu untuk dijelaskan sejelas-jelasnya agar sejarah kelam dan kejam umat muslim tidak terulang.

Untuk itu, demi langsung menuju pada objek kajian, yaitu dosa besar, penulis tidak menjelaskan konsep iman dan kufr secara spesifik dan ontologis, karena hal demikian akan menyita banyak ruang pembahasan. Yang jelas, ada dua kata kunci yang disepakati menjadi barometer seseorang beriman atau tidak, yaitu beriman kepada Allah dan Utusan-Nya. Barangisapa taat pada prinsip tersebut, ia beriman. Barangsiapa tidak taat (ma’siah), maka ia tidak beriman. Selain daripada itu, para teolog memaparkan pendapat yang berbeda dengan kriteria yang berbeda pula sesuai dengan rukun iman yang dibangun. Sementara itu, diketahui bahwa rukun iman satu kelompok dengan kelompok lain terdapat perbedaan di samping ada juga persamaannya.

Kendati demikian, penulis tetap berupaya agar pembaca dapat mengambil gagasan umum seputar konsep tersebut dalam kaitannya dengan pembahasan dosa besar. Sementara itu, secara garis besar dosa besar itu sendiri dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang secara eksplisit telah disebutkan hukumannya dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, demi memperjelas kajian, berikut kami paparkan pandangan khas beberapa kelompok teologi mengenai dosa besar:

A. Perspektif Mazhab Kalam

1. Khawarij

Bermula ketika peristiwa penting tahkim pada perang Shiffin ketika kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib berseteru dengan kubu Muawiyyah. Kelompok ini awalnya berada di pihak Khalifah Ali, namun memisahkan diri lantaran kecewa dengan persitiwa tersebut. Menurut mereka, kedua belah pihak telah salah ketika bersepakat dan menetapkan hukum sendiri, sesama manusia. Padahal bagi mereka, keputusan yang absah hanyalah keputusan Tuhan sebagaimana yang tergambar dalam semboyan masyhur mereka “La hukma illa Allah.”

Bermula dari sana, berangkatlah khawarij mengantongi konsep dan mendeklarasikan siapa saja yang tergolong kafir. Dengan dasar surat al-Ma’idah ayat 47, menurut mereka, “barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Tuhan adalah bukan orang-orang yang beriman” atau “tidak ada kewenangan untuk melakukan arbitrasi bagi siapa saja selain Tuhan, Tuhan sendiri-lah yang memiliki kewenangan mutlak.” Berangkat dari dua pandangan ini, mereka meyakini bahwa baik kubu Khalifah Ali maupun Muawiyyah kafir.

Mengenai Khalifah Ali, yang menyebabkan mereka keluar barisan ialah menurut asumsi mereka, Khalifah saat itu telah menjadi kafir lantaran menerima arbitrasi, karenanya, berdasarkan surat al-Hujurat ayat 9, yang seharusnya Ali memerangi umat muslim yang salah tapi tidak dilakukan, justru melakukan arbitrasi, maka khalifah telah mengabaikan ketetapan (hukm) Allah.[2]

Sampai di sini, dapat diketahui bahwa awal mula munculnya konsep dosa besar tidaklah dari refleksi mendalam secara teoritik, misalnya membagi dan menjelaskan apa itu dosa dan kriteria pelaku dosa lalu mempredikatkannya pada seseorang atau kelompok. Bersebrangan dengan hal itu, khawarij justru mempredikatkan “pendosa besar” bagi yang tidak sesuai dengan pendirian politik mereka. Dengan kata lain, pada tahap awal, kafir adalah mereka yang beriphak pada penguasa zalim, yang dimaksud adalah kepemimpinan Ali dan Muawiyah.

Untuk memperjelas masalah ini, Toshihiko Izutzu memaparkan argumentasi menarik mengenai pendirian khawarij. Menurutnya, dalam analisa semantik makna iman, seseorang harus mengaitkan relasi antara subyek, obyek, dosa itu sendiri, dan akibat dari dosa tersebut. Dalam relasinya terhadap subyek, seseorang harus menganalisa siapa yang sebenarnya beriman. Mengenai objek, harus dianalisa keimanan semacam apa yang menyebabkannya layak disebut beriman. Kemudian, apa itu iman pada dirinya, lalu akibat apa yang dapat lahir dari iman tersebut.[3]

Sayangnya, khawarij hanya melakukan pendekatan pertama, yaitu mengarah pada subjek, “siapa mereka yang beriman?” Bahkan, pandangan mereka pun tidak lantas membawa mereka untuk secara langsung menganalisa siapa itu orang beriman, justru mereka memulai bangunan pemikirannya dengan logika sebaliknya, mereka menyerang titik “siapa mereka yang kufr?” Hal tersebut tentu memiliki implikasi berbeda, ia berpeluang besar untuk menenggelamkan seseorang pada subjektifitas fatal. Itulah mengapa didapati mereka menyerang seseorang sebagai pendosa besar karena tidak sesuai dengan pendirian politik mereka (yang mereka sebut kufr).

Dengan demikian, jelaslah bahwa kelompok khawarij memberi perhatian lebih pada konsep kufr ketimbang iman. Sebagai dampak konstan, lahirlah konsep takfir. Jika sudah demikian, pengkafiran terhadap seseorang atau sekelompok meniscayakan pengucilan, pembunuhan, dan juga perampasan, karena objek takfir telah terlebih dahulu dilebeli salah, selanjutnya kelal dalam neraka!

Setelah melewati tahap praktis konsep dosa besar, khawarij mulai menyusun argumentasiya lebih teoritik. Mereka mulai mempertanyakan masyarakat ideal dan kualifikasi seseorang dapat dikatakan sebagai muslim, bukan kafir. Mereka kecewa dengan kelonggaran prosedur yang ada, menurut mereka, banyak orang yang keimanannya meragukan dapat dengan mudah menjadi muslim hanya berbekal passwordsyahadatain.”

Selanjutnya, karena hal tersebut menodai konsep muslim ideal mereka, mereka mulai mempersoalkan kemurnian seorang muslim; seseorang muslim sejati atau muslim palsu. Dalam pandangan mereka, muslim palsu ini lebih berbahaya, karena ia hanyalah muslim nominal, namun hakikatnya adalah kafir. Orang semacam itu hanya memanfaatkan kenikmatan spiritual dan material yang seharusnya hanya patut diterima oleh seorang muslim sejati.[4]

Bahkan lebih ekstrim dari itu, salah satu sub-sekte khawarij, yaitu Azarqiyyah, mengambil posisi yang demikian mengkhawatirkan mengenai dosa besar dan pengkafiran, baik dalam tataran praktik maupun teoritik. Dalam pandangan mereka, seorang musilm pendosa besar bukan hanya seorang kafir, lebih jauh dari itu, ia adalah musyrik.[5] Implikasi dari pemahaman semacam ini adalah mereka terfokus untuk membantai dan menghabiskan umat muslim yang dalam pandangan mereka musyrik tersebut ketimbang membandingkan muslim ‘pendosa’ dengan agama selain islam.

Itulah sedikitnya pandangan khawarij mengenai dosa besar. Singkatnya, dapat disimpulkan dari berbagai pandangan sub-sekte khawarij bahwa muslim pelaku dosa besar adalah seorang kafir, ia kekal di neraka selamanya. Bahkan, dalam tahap yang lebih ekstrem, muslim lebih berbahaya, ia juga adalah seorang musyrik, dengannya halal dibunuh.[6]

Namun, pendapat ini sama sekali tidak kedap kritik, justru seluruh kirtik mengenai isu dosa besar lahir dari pandangan mereka yang cenderung fatalistik ini, sebut saja murji’ah yang akan dijelaskan berikutnya; kelompok teologi yang lebih teoritik dalam mengembangkan konsepnya, mereka mengajukan pertanyaan mendasar, senada dalam hadits, “engkau tidak mungkin membelah hatinya untuk melihat niat sesungguhnya ia membuat pengakuan itu.”[7]

2. Murji’ah

Pandangan aliran Murji’ah tentang status pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari pandangan mereka tentang penegrtian Iman. Mereka berpendapat bahwa seseorang dikatakan beriman apabila ia telah mengikrarkan keimanannya tentang Allah swt dengan lisan, walaupun pada kenyataannya ia tidak memperlihatkan keimanannya dalam perbuatannya. Dengan kata lain, perbuatan manusia bukanlah sebuah syarat seseorang dikatakan sebagai mukmin. Apabila ia telah menyatakan keimanannya dalam perkataan, maka cukuplah ia dikatakan sebagai seorang mukmin. Sedangkan amal perbuatan bukanlah salah satu dari syarat keimanan seseorang. Sebagaimana semboyan mereka yang masyhur, “Kemaksiatan tidak akan mengurangi keimanan, sebagaimana ketaatan tidak menambah keimanan.”[8] Maka, iman tidaklah bertambah dan berkurang.

Berangkat dari pemahaman mereka tentang iman, maka mereka meyakini bahwa pelaku dosa kecil maupun besar atau ahli maksiat tetaplah disebut sebagai seorang mukmin hakiki. Maka sebagai seorang mukmin, ia terjaga darahnya, hartanya, dan  kehormatannya. Pendapat mereka ini tentu sangat berbeda dengan Khawarij yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir mutlak bahkan syirik. Begitu juga dengan pendapat kaum Mu’tazilah bahwa pelaku dosa besar berada di antara dua keadaan, yaitu bukan mukmin dan bukan kafir.

Menurut mereka, pelaku dosa besar tidak kekal di neraka walaupun ia belum bertaubat. Mereka akan disiksa di dalam neraka tergantung dengan ukuran dosa yang dilakukannya. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan dengan kemahapengampunan Allah, ia dibebaskan dari azab tersebut. Dengan kata lain, ancaman Allah mengenai azabnya belum tentu dilaksanakan. Ini berbeda dengan pendapat Mu’tazilah bahwa pelaku dosa besar apabila belum bertaubat, maka ia akan kekal didalam neraka dan tiada maaf baginya.

Kemudian, muncullah sebuah pertanyaan menanggapi  pernyataan-pernyataan mereka di atas, “bagaimana kita dapat menmbandingkan derajat seseorang mengenai penentuan bahwa kita berlepas diri (tabarri) atau mencelanya? Bukankah ketika kita mencukupkan diri dengan pengakuan melalui lisan tidak dapat menentukan seseorang bahwa ia patut menerima laknat, cela, keterlepasan diri atau pujian?”

Dijawab: Bahwa amal perbuatan tidak ada kaitannya dengan iman, dan tidak pula dengan segala kewajiban, karenanya kita dapat ber-tabarri padanya atau melaknatnya. Jadi, iman benar-benar terbebas dari aspek perbuatan manusia. Ia hanya mencakup aspek pembenaran seseorang dengan hati, dan pengikraran melalui lisannya. Dalam bahasa yang sederhana, tidak mungkin kita menarik garis tegas antara penghuni surga dan penghuni neraka.[9]

Pandangan seperti ini akan memberikan efek negatif kepada akhlak masyarakat, khususnya kawula muda, mereka akan memandang bahwa cukuplah seseorang itu mendapatkan predikat mukmin, dan mejalani hidup sebagaimana seorang mukmin. Tak mengapa melakukan segala perbuatan maksiat bahkan dosa besar, ketika mereka telah mengikrarkan diri dan mengakui di dalam hati maka cukuplah hal itu, tanpa harus menjalankan kewajiban-kewajiban yang lainnya, seperti puasa, shalat, dsb. Begitu pula jika mereka melanggar perintah Allah seperti bermain judi, berzina dsb, itu tidak akan mempengaruhi kedudukan mereka sebagai seorang mukmin.

3. Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah memahami bahwa dosa besar adalah segala perbuatan yang ancamannya disebutkan secara tegas dalam nash. Sedangkan dosa kecil adalah segala ketidakpatuhan yang ancamannya tidak tegas dalam nash. Melihat pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tolok ukur suatu dosa dikatakan besar atau kecil menurut Mu’tazilah adalah tentang ketegasan ancamannya di dalam nash.

Al-Manzilah bain al-Manzilatain, itulah slogan khas dari kelompok yang satu ini, al-Mu’tazilah. Mazhab kalam ini meyakini tentang adanya suatu keadaan dimana seseorang berada di antara dua keadaan, kafir dan mukmin. Atau dengan kata lain ia bukan kafir sekaligus bukan mukmin, tetapi kondisi di antara keduanya yang sering mereka sebut dengan Al-Manzilah bain al-Manzilatain, istilah ini juga menjadi salah satu dari ushul al-Khamsah Mazhab ini, itu pula yang menjadi pembeda dari seluruh mazhab kalam yang ada di dalam Islam. Tetapi dalam perkembangannya, beberapa tokoh mu’tazilah, seperti Washal bin ‘Atha’ dan ‘Amr bin ‘Ubaid memperjelas sebutan itu dengan istilah fasik, bukan mukmin atau kafir, melainkan sebagai kategori netral dan independen.

Sudah barang tentu, aliran ini berpandangan bukanlah tanpa argumen. Pandangan mereka mengenai status pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan sebagai mukmin didasari oleh pandangan mereka tentang pengertian Iman. Iman menurut mereka adalah pembenaran dan kesaksian dengan hati, pengikraran dengan lisan, dan pengaplikasian dengan amal-amal perbuatan, yaitu rukun-rukun Islam. Bahkan, sebagian kelompok ini berpendapat bahwa Iman adalah melaksanakan segala perintah, baik fardhu maupun sunnah, karena itu semua adalah perintah Allah swt. Oleh karena amal perbuatan adalah salah satu dari syarat terpenuhinya Iman seseorang, maka pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan sebagai seorang mukmin, karena mereka tidak memenuhi salah satu syarat Iman.[10] Inilah argumentasi pertama mereka.

Kedua, mereka tidak dapat dikatakan seorang mukmin. Karena, pelaku dosa besar perbuatannya patut mendapatkan kehinaan, kerendahan, bahkan laknat. Hal ini tentu bertentangan dengan kedudukan seorang mukmin, karena telah banyak ayat al-Qur’an dan riwayat yang menegaskan bahwa seorang mukmin itu identik dengan kemuliaan, pujian, kecintaan dsb. Maka, jelaslah bahwa mereka tidak patut menyandang predikat mukmin. Allah swt berfirman: “sungguh beruntunglah orang-orang mukmin” (al-Mukminun: 1). Juga ditegaskan dalam ayat yang lain, “sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah hati-hati mereka akan bergetar” (Al-Anfal: 2), dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menerengkan tentang kemuliaan orang mukmin.

Kendati demikian, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, selain mereka tidak dapat dianggap sebagai mukmin, mereka pun tidak boleh disebut sebagai kafir. Karena seseorang dikatakan kafir apabila mereka benar-benar mendustakan dan mengingkari nikmat-nikmat Allah. Dalam syariat, orang kafir memiliki perlakuan yang berbeda dengan orang mukmin, seperti dalam hal nikah, warisan, penguburan, dan lain sebagainya yang mensyaratkan keislaman atau keimanan seseorang. Akan tetapi, mereka (para pelaku dosa besar) tidak demikian. Mereka tetap mengakui segala nikmat Allah juga mengakui keberadaannya, atau dengan kata lain, mereka mengimani Allah, Nabi, dan Hari Akhir. Mereka juga tetap mendapatkan perlakuan sama dalam hal syariat dengan orang mukmin lainnya. Alhasil, mereka tidaklah dapat dianggap sebagai seorang kafir.

Singkat kata, karena pelaku dosa besar tidak memenuhi syarat sebagai seorang yang beriman, maka ia tidak dapat dikatakan mukmin. Akan tetapi ia juga tidak dapat dikatakan sebagai seorang kafir, karena bagaimanapun juga, ia telah mengakui dan membenarkan Allah serta konsekuensi lain dari keimanannya terhadap Allah. Mu’tazilah menentang Murji’ah karena mereka dengan mutlak menganggap bahwa pelaku dosa besar adalah mukmin, begitu pula menentang Khawarij karena dengan mutlak menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir.

Berangkat dari pandangan tersebut, mereka meyakini bahwa para pelaku dosa besar apabila meninggal dunia dan tidak bertaubat, mereka akan disiksa di dalam neraka selama-lamanya, akan tetapi karena mu’tazilah adalah penganut paham keadilan Tuhan, tentunya keberadaan mereka (pelaku dosa besar yang beriman) di neraka akan dibedakan dengan para pelaku dosa besar yang bukan dari kalangan mukmin. Walaupun mereka kekal di dalam neraka, siksa yang akan mereka terima tidak akan lebih berat ketimbang siksa orang-orang kafir.[11] Pandangan ini juga dikuatkan dengan surat an-Nisa ayat 14 yang berbunyi, “Dan barangsiapayang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya..

4. Asy’ari, Ma’turidi, dan Syiah

Secara garis besar, pelaku dosa besar menurut ketiga kelompok ini adalah mukmin, akan tetapi ia tergolong ke dalam fasik yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah swt. Secara tentatif terkait sejarah, pandangan mereka dapat disebut sebagai murji’isme moderat. Hal tersebut terlacak dalam ungkapan Ibn Hazm yang dikutip oleh Toshihiko dalam bukunya, “Seseorang yang melakukan dosa besar masih merupakan seorang yang percaya, hanya saja kepercayaannya tidak sempurna (cacat).”[12]

Berangkat dari kesamaan konsep tersebut, Iman adalah pengetahuan tentang Tuhan di dalam hati dan diutarakan dengan lisan, sedangkan amal perbuatan bukanlah termasuk dari pilar keimanan, tetapi merupakan konsekuensi keimanan. Banyak ayat yang menunjukkan secara jelas bahwa iman dibedakan dengan amal perbuatan. Allah berfirman,

sesungguhnya mereka yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal shaleh…”.(al-Baqarah: 277).

Dan barang siapa yang mengerjakan amal shaleh maka dia adalah orang mukmin” (Taha: 112). Maksudnya: amal shaleh adalah sebuah keadaan diamana ia memiliki keimanan kepada Allah.

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)

Allah memerintahkan mereka yang memiliki sifat mukmin agar bertakwa kepada-Nya. Dengan kata lain, mereka diperintahkan untuk taat dan meninggalkan segala yang dilarang. Ini menunjukkan bahwa harus adanya kesinambungan antara Iman dan amal perbuatan. Bukan berarti perbuatan itu sendiri adalah salah satu pilar dari Iman. Namun, amal perbuatanlah yang akan menentukan kebahagiaan seseorang kelak di hari akhir. Semakin besar amal perbuatan seseorang, sebesar itu pula pahalanya di akhirat, baik di neraka maupun di surga, semuanya akan mendapatkan ganjarannya masing-masing. Sedangkan hanya berikrar dengan lisan atau keyakinan dalam hati, tidaklah memberikan efek apapun bila tidak dibarengi dengan amal perbuatan.

Mereka, khususnya Syiah, juga berpendapat bahwa keimanan itu bertingkat-tingkat sesuai dengan pemahaman dan penguasaan seseorang tentang Ilmu Allah swt. Maka, Iman seorang rasul akan berbeda dengan iman manusia biasa yang lain sesuai dengan ketundukannya terhadap syariat Ilahi. Imam Ali as bersabda, “Aku akan menisbatkan predikat Islam dengan suatu penisbatan dimana belum pernah ada yang menisbatkannya sebelumku, Islam adalah kepasrahan (taslim), dan kepasrahan adalah keyakinan, dan keyakinan adalah pembenaran (tasdiq), dan tasdiq ada dengan adanya pegikraran dengan lisan, dan ikrar dengan pelaksanaan, dan pelaksanaan adalah amal.”

Lebih jauh lagi, Syiah Imamiyyah meyakini bahwa ancaman kekekalan seseorang di dalam neraka hanya ditujukan kepada orang kafir secara khusus, bukan untuk pelaku dosa dari kalangan mereka  yang telah mengenal Allah dan menunjukkannya dengan melaksanakan segala kewajiban. Inilah yang disepakati juga oleh kebanyakan kaum Murji’ah, namun tidak dengan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa sesungguhnya ancaman tentang kekekalan azab di neraka itu umum bagi seluruh orang kafir dan segenap orang fasik meskipun ia melaksanakan sholat.

Mereka menentang argumentasi Mu’tazilah mengenai surat an-Nisa ayat 14 yang berbunyi, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya.. ” Dari ayat tersebut, secara tekstual bahwa orang yang durhaka kepada Allah akan disiksa di dalam neraka dan ia akan kekal di dalamnya. Akan tetapi, menurut Syiah Imamiyyah yang dimaksud dengan yang mendurhakai Allah di sini adalah orang kafir, sedangkan orang fasik tidak termasuk di dalamnya. Karena menurut mereka telah jelas secara tertulis dalam kalimat  ”melanggar batas-batas hukum-Nya.” Sifat semacam ini tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang kafir, bukan orang fasik.

Sebagai penutup ketiga pandangan di atas, kiranya pendapat Ibn Hazm dapat menyimpulkan ‘posisi’ mereka terkait isu dosa besar, “Semua orang kafir tanpa kecuali benar-benar fasik, tetapi tidak semua orang fasik adalah kafir.”[13]

Hasan al-Bashri

Hasan al-Bashri adalah ulama terkenal dari Basrah. Ia juga mengambil bagian penting dalam perdebatan teologik terkait isu dosa besar. Menurut pandangannya, pelaku dosa besar ialah mereka yang dalam al-Qur’an tergolong ke dalam Munafiq.[14] Jika ditinjau dari sejarah keilmuan dan perannya sebagai ulama terkemuka, nampaknya sulit memadankan pandangannya mengenai konsep munafik sesederhana itu, yaitu yang dalam al-Qur’an tergolong ke dalam kafir. Boleh jadi, pandangannya merupakan upaya melawan pendapat murji’ah yang telah ekstrim percaya bahwa mereka aman dari murka Allah. Hal ini jelas bertentangan dengan konsep khauf-nya dimana seseorang harus memelihara perasaan seperti itu secara terus-menerus. Tidak bisa seseorang begitu yakinnya dan mengklaim keputusan Tuhan. Hal tersebut senada dengan pernyataannya mengenai manusia sempurna, ia mengatakan, “Seseorang munafiq adalah seseorang yang sibuk dengan dunia, bukannya dengan akhirat; ia tidak takut dengan siksaan Ilahi akan perbuatannya selama hidup.[15]

Dengan demikian, nampaklah bahwa pernyataan Hasan al-Bashri merupakan respon aktif terhadap pandangan kaum Murji’ah yang boleh jadi terlalu longgar. Itulah pandangan-pandangan singkat beberapa mazhab kalam terkait dosa besar. Penulis mencukupkan kajian sampai di sini, sisanya akan terangkum dalam penutup.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah semua penjelasan singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan umum bahwa terdapat empat pandagan besar terkait isu dosa besar, yaitu:

  1. Pendosa besar adalah sungguh-sungguh kafir, bahkan musyrik. Pandagan ini diwakili oleh kelompok Khawarij
  2. Pendosa besar masih seorang muslim, namun fasik. Pandangan ini diwakili oleh Asy’ari, Ma’turidi, dan juga Syiah.
  3. Pendosa besar bukan merupakan seorang muslim, bukan pula kafir, ia kategori independen di antara keduanya (Bain al-Manzilatyn). Pandangan ini diwakili oleh kelompok Mu’tazilah.
  4. Pendosa besar adalah seorang yang munafik. Yang terakhir ini merupakan pandangan Hasan al-Bashri.[16]

Dengan demikian, mudah-mudahan niat awal penulis untuk berkontribusi dalam dimensi teoritis dapat tercapai, lebih baik lagi jika juga dapat berpengaruh dalam dimensi praktik. Minimal, dengan pemaparan singkat di atas dapat memperluas sudut pandang pembaca, sehingga semangat yang baik dari peninggalan sejarah tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, jika didapati semangat tersebut kurang baik, semoga dapat mengambil hikmah guna memperbaikinya di masa sekarang.

B. Saran

Kami sadar betul bahwa terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini, baik dalam gagasan, penulisan, perujukan, dan juga pengejaan. Oleh karena itu, peran konstruktif pembaca sangat dibutuhkan. Apabila nyata-nyata didapati kekeliruan mohon disampaikan ke penulis. Salam.

[1] Toshihiko Izutsu, Konsep Kepercayaan dalam Teologi Islam: Analisa Semantik Iman dan Islam, Yogyakarta, 1994, hlm. 1.

[2] Ibid, hlm.6

[3] Ibid, hlm. 12.

[4] Ibid, hlm. 9.

[5] Ibid, hlm. 14.

[6] Amin, Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam: Teologi-Ilmu kalam, Jakarta: Amzah, 2001. Hlm. 16.

[7] Op. cid, hlm. 9.

[8] Subhani, Ja’far, Buhust fi al-milal wa an-Nihal, jilid 3, Muassasah an-Nasyr al-Islami, cetakan ke-4, Qum, 1417 H, hlm. 74.

[9] Amin, Nurdin. Sejarah Pemikiran Islam, hlm. 28.

[10] ‘Abd al-Fattah al-Maghribi, Ali, al-firaq al-kalamiyyah al-Islamiyyah madkhal wa dirasah, Kairo, Maktabah Wahbah, cetakan ke-dua 1995, hlm. 259

[11] Anwar Rosihon dan Rozak Abdul, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, 2012, hlm. 163

[12] Toshihiko, Izutsu. Konsep Kepercayaan dalam Islam, hlm. 51.

[13] Ibid, hlm. 56.

[14] Ibid, hlm. 57.

[15] Ibid, hlm. 58-59.

[16] Ibid, hlm. 46.