Jihad Hakikat

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dewasa ini (jihad, read) menjadi fenomenal untuk diperbincangkan karena disebabkan karena peristiwa-peristiwa berupa tindakan anarkis, teror dan sebagainya yang mengatasnamakan agama “Islam”. Dari itu pula, hal ini mengundang perhatian dunia khususnya umat Islam atas tindakan-tindakan tersebut. Karena tindakan seperti ini sangat bertentang dari ajaran suci Islam (al-Qur’an).

Di samping itu pula, al-Qur’an selalu mengajarkan para pemeluknya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Ia juga mengajarkan pemeluknya (umat Islam) untuk berjuang mewujudkan perdamaian, keadilan, kehormatan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, perjuangan tersebut tidak harus berkonotasi pada cara kekerasan, terorisme, anarkis, brutal dan seterusnya yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian. Artinya bahwa, untuk mencapai hal tersebut, Islam tidak mengambil jalan singkat dengan cara yang buruk.

Walau kata jihad yang terdiri dari tiga huruf ini (ja ha dal), namun sungguh sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan manusia. Baik itu perkembangan yang mengarah pada jalan baik (positif), mau pun perkembangan yang mengarah pada jalan yang baik (negatif). Perkembangan secara positif dari kata ini tentu sangat berdampak baik terhadap manusia itu sendiri. Hal demikian terjadi karena mereka mengimplementasi jihad ini kepada suatu gerakan, gerakan yang mengarah kepada jalan yang diridhoi oleh Allah.

Dalam Islam, jihad bukan barang baru, sebab pada masa Nabi Muhammad Saw. fenomena ini telah menjadi bagian dari suatu ajaran Islam yang sangat penting. Ajaran tersebut bukan dari Nabi semata, namun hal itu merupakan perintah langsung dari Allah Swt. yang termaktub di dalam al-Qur’an. Fenomena jihad pada zaman Nabi tentu sangat berbeda dengan pengimplementasi jihad pada saat sekarang.

Tindakan radikal, anarkis, teror yang mengatasnamakan Islam tersebut telah mencederai “agama Islam serta para pemeluknya”. Tragedi seperti itu, telah menodai Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin, agama yang selalu menaburkan kasih sayang kepada semua manusia.

Jika kita amati pada sejarah, pada zaman Nabi Muhammad Saw. jihad hadir dengan langkah-langkah tertentu. Saat di Mekkah, disaat umat Islam hidup di dalam komunitas yang mayoritas, tentu langkah jihad yang ditempuh ialah bertahan. Dan setelah kaum muslimin memiliki kekuatan penuh saat di Madinah, maka langkah jihad yang ditempuh ialah dengan balasan (qishash). Dalam arti jika ada musuh yang menyerang, dari dalam maupun dari luar. Menurut saya bahwa bukan sebagai balasan (qishash), namun lebih kepada proses dakwah, proses menyusun kekuatan untuk menyebarkan ajaran Islam pada saat itu.

Namun, pada pada zaman yang serba canggih ini, bagaimana mengimplementasikan jihad yang diusung oleh al-Qur’an, apakah dengan senjata? Jika hal demikian terjadi, maka tak ubahnya kita kembali pada zaman dahulu, sedang dunia yang begitu damai ini. Zuhairi Misrawi dalam bukunya “al-Qur’an Kitab Toleransi” mengatakan bahwa seharusnya jihad diimplementasikan oleh umat Islam dengan menciptakan prestasi-prestasi internal. Ketertinggalan umat Islam dari berbagai lini kehidupan, seharusnya menjadi pemicu besar untuk mengaktualkan jihad ini[1]. Dengan begitu, konsep jihad akan relevan untuk menciptakan perubahan, perbaikan serta peningkatan mutu dari berbagai sisi kehidupan. Seperti agama, sosial, pendidikan (ilmu pengetahuan) dan sebagainya. Serta menjadi pelopor terdepan kepada pihak eksternal, sehingga umat Islam mampu bersaing dengan umat yang lain (eksternal).

Namun, dikarenakan umat Islam terdiri dari berbagai elemen lapisan masyarakat yang kondisinya berbeda satu dengan yang lain, membuat persatuan dan kesatuan umat sering tergoyahkan. Hal demikian tak lepas dari ego setiap pihak yang lebih mengedepankan kefanatisme mazhab serta memperbesar perbedaan daripada persamaan. Dari lapisan masyarakat inilah, langkah dalam bertindak, mengambil kesimpulan tentu sangat berbeda-beda.

Inilah persoalan penting yang harus diperhatikan, demi menyeamatkan kesadaran publik[2] dari ketersisihan dari dinamika sejarah dan keterkungkungan dalam benteng masa lalu terhadap dalam menginterpretasi teks-teks agama (al-Qur’an dan Hadits).

Tindakan kekerasan yang didasari jihad tersebut dinamai oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai “bersumber dari pendangkalan”. Karena dari kedangkalan tersebut mengakibatkan para pelakunya berbuat tindakan terorisme. Padahal dalam Islam sendiri tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskriminatif. Tindakan tersebut terjadi disebabkan karena rendahnya mutu sumber daya manusia (para pelaku).[3]

Dalam literature keislaman, jihad dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu “Jihad melawan hawa nafsu (jihad an-nafs) dan jihad dalam arti peperangan yang legal dan dibenarkan (al-harb al-masyru’ah)”.Bentuk jihad yang pertama adalah bentuk jihad yang besar, sedangkan bentuk jihad yang kedua ialah bentuk jihad yang kecil.[4] Dalam prakteknya bahwa jihad kedua yang sering dipraktekkan daripada jihad pertama. Dengan dalih bahwa, jihad yang besar adalah jihad kedua disebabkan menolong agama Allah.

Dalam al-Qur’an, untuk menunjukkan sebuah perjuangan disebut dengan istilah jihad. Sayang sekali, istilah jihad yang ditawarkan oleh al-Qur’an terkadang disalah artikan, disalahpahami atau bahkan dipersempit maknanya oleh beberapa kalangan. Sehingga berawal dari salah dalam menafsirkan jihad tersebutlah memunculkan beberapa tindakan. Seperti melakukan tindakan-tindakan anarkis, seperti penyerangan tempat-tempat ibadah non-muslim, tempat-tempat maksiat. Dan tak sedikit dari mereka -yang salah dalam menafsirkan jihad- tersebut melakukan tindakan yang sama kepada kalangan mereka sendiri -sesama Islam- yang berbeda paham (aliran, golongan). Dengan dalih bahwa kegiatan mereka tersebut sebagai amr ma’ruf nahi munkar, serta suatu kegiatan dalam rangka membela agama Allah”. Dan mereka tersebut digelari dengan “Islam garis keras”.

Sehingga dari tindakan tersebut, persepsi agama lain (baca-nonmuslim) mengasumsikan bahwa agama Islam ini agama yang mengajarkan kekerasan, kekejaman, terorisme, dan seterusnya. Persepsi mereka terhadap Islam ini tak lepas dari realitas yang terjadi, yang dimana tubuh dari penganut Islam sendiri kerap kali melakukan aksi-aksi terorisme, pengrusakan, permusuhan, pengacauan yang merusak perdamaian di tengah kehidupan manusia. Apakah jihad yang seperti ini diajarkan oleh ajaran Islam (al-Qur’an)?. Sehingga mengesampingkan hak-hak manusia yang mereka tindas, serang, bahkan bunuh.

Permasalahan tersebut muncul karena adanya kekeliruan dalam memahami konsep jihad yang ditawarkan oleh al-Qur’an. Kekeliruan memahami awal mulanya jihad dalam sejarah Islam, akan membuat permasalahan ini akan semakin berkempanjangan. Hal ini tentu tak lepas dari sejarah munculnya jihad diantara Mekkah dan Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw serta peran para ulama dalam menafsirkan jihad ini. Dan para ulama harus lebih selektif dalam mengeluarkan penafsiran mereka dalam setiap menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Karena dari kekeliruan penafsir dalam mengungkap ayat akan sangat besar pengaruhnya terhadap umat Islam pada umumnya.

Pada hakikatnya ajaran Islam itu datang dengan membawa kedamaian kepada umat manusia, sebagaimana tertera dalam teks al-Qur’an sendiri. Dari permasalahan ini, saya rasa bahwa konsep jihad perlu dikaji ulang, agar tidak ada kekeliruan dalam memahami konsep jihad yang ditawarkan oleh al-Qur’an yang selama ini disalah artikan oleh sebagian dari umat Islam.

Bukanlah telah jauh-jauh hari, panutan manusia seluruh dunia yaitu Rasulullah Saw yang bersabda kepada para sahabatnya saat palng dari medan tempur yang mengatakan bahwa “kita pulang dari suatu peperangan yang kecil, menuju peperangan yang besar. Di antara para sahabat bertanya, masih adakah peperangan yang lebih dahsyat dari ini ya Rasulullah? Rasulullah Saw. menjawab, “ada. Apa itu ya Rasulullah? Rasul menjawab, melawan diri sendiri”.

Kejadian-kejadian yang terjadi “mengatasnamakan Islam” merupakan suatu tindakan yang menodai umat Islam dan Islam itu sendiri. Kasus bunuh diri misalnya, hal tersebut sering dilebelkan sebagai bentuk jihad yang berasal dari Islam. Hal seperti ini, harus diacak lebih jauh, apakah al-Qur’an mengajarkan kekerasan, tindakan anarkis, terorisme dan sebagainya. Mungkin saja adanya pihak dalam Islam (internal) yang memiliki kepentingan terselubung, lalu seluruh umat Islam terkena imbasnya. Atau adanya pihak yang tidak senang terhadap Islam, sehingga melakukan advokasi dengan melakukan tindakan radikal dengan berkedok mengatasnamakan Islam. Hal ini yang harus menjadi perhatian kita bersama, agar tidak terjebak kepada suatu kesalahan.

Fenomena jihad ini sangat mengundang perhatian kita bersama, terutama para ulama, kaum intelektual dan sebagainya. Hal ini seolah-olah agama Islam[5] ini membenarkan kekerasan dengan mengangkat senjata dan memburu mereka yang di luar (musuh, red.) Islam, dengan dalih menegakkan agama Allah. Tindakan yang demikian tidak relevan dengan konsep Islam yaitu “rahmatan lil’alamin (sebagai rahmat bagi semesta alam)[6]. Yang dimaksud semesta alam di sini ialah seluruh elemen manusia, tak terkecuali.

  1. Fokus Penelitian

Ayat-ayat jihad dalam al-Qur’an disebutkan 41 kali dan dalam redaksi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, agar pembahasan tidak melebar penulis hanya melakukan penelitian ini dengan mengambil beberapa sampel dari ayat-ayat jihad al-Qur’an, yakni 1). al-‘Ankabuut (29): 6, 69, 2). al-Imran (3): 142, 3). Jj 4). Al-Anfaal (8): 74.

  1. Rumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang yang tertera di atas, maka penulis menarik beberapa permasalahan yang akan penulis bahas pada proposal penelitian ini yang berjudul: “Konsep Jihad dalam al-Qur’an Perspektif Quraish Shihab”.

  1. Bagaimana pengertian jihad secara etimologi dan terminologi?
  2. Bagaimana Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat-ayat jihad?
  3. Apakah dampak jihad dalam kehidupan manusia?
  4. Kegunaan Penelitian

Sebagaimana dikatakan Kaelani menuturkan bahwa dalam suatu penelitian harus memiliki nilai guna yang jelas baik secara akademis maupun praktis.[7] Oleh karena itu, kegunaan dari penelitian ini ialah:

  1. Secara Akademis

Dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi alat tambahan informasi penting dan jembatan untuk mengkaji disiplin ilmu yang berkaitan dengan tema ini terhadap penelitian yang akan datang. Dikarenakan pula bahwa kajian ini merupakan salah satu elemen penting dalam keberlangsungan umat manusia.

  1. Secara Praktis

Semoga dengan penelitian “Konsep Jihad dalam al-Qur’an Perspektif Quraish Shihab” ini diharapkan dapat menyadarkan masyarakat akan hakikat jihad, sehingga tidak menyeleweng kepada tindakan ekstrem terhadap sesama manusia.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian

Seperti yang telah dikatakan oleh Kaelani bahwa tujuan sebuah penelitian ialah rumusan singkat dalam menjawab masalah penelitian.[8] Oleh karena itu, tujuan kajian ini ialah:

  1. Untuk mengetahui pengertian jihad secara etimologi maupun terminologi.
  2. Untuk mengetahui konsep jihad dalam al-Qur’an dan juga penafsiran Quraish Shihab dalam kitabnya “al-Misbah” seputar ayat-ayat jihad.
  3. Untuk mengetahui implementasi jihad dalam al-Qur’an dalam kehidupan.
  1. Metode dan Prosedur Penelitian

Penelitian ini ialah penelitian kualitatif yang berdasarkan bahan penelitiannya adalah dengan menggunakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakana dalam penelitian ini ialah metode tafsir tematik (maudhu’i), yakni dengan cara menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang tema ini, Penulis akan mencoba mengumpulkan data-data dari buku-buku bacaan serta literatur-literatur yang mendukung tema ini.

  1. Data dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah jenis data normatif, yaitu data yang ada hubungannya dan relevansinya dengan penelitian ini. Hal tersebut diperoleh dari teori-teori yang terdapat dalam literatur kepustakaan.

Dalam hal ini, penulis menggunakan sumber data yang primer dan sumber data yang sekunder. Adapun sumber data yang primer ialah Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, 15 Volume (Jakarta: Lentera Hati, 2003). Adapun sumber sekunder yang penulis gunakan diantaranya: Quraish Shihab, 1). Wawasan al-Qur’an; Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. II (Bandung: Mizan, 2014), 2). Rohimin, Jihad Makna dan Hikmah, (Jakarta: Erlangga, 2006), 3). Zuhairi Misrawi, al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), 4). Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap tentang Jihad Menurut al-Qur’an dan Sunnah, ­(Bandung: Mizan, 2010), 5). M.T. Mishbah Yazdi, Perlukah Jihad: Meluruskan Salah Paham tentang Jihad dan Terorisme, (Jakarta: al-Huda, 2006), 6). Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita. (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), 7). Ahmad Syafii Maarif, al-Qur’an dan Realitas Umat, (Jakarta: Penerbit Republika, 2010), 8), dan lain-lain yang relevan dengan penelitian ini.

  1. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Penelitian yang digunakan oleh penulis ialah penelitian kepustakaan (library research). Data diambil dari kepustakaan, baik itu berupa buku, dokumen, maupun artikel, sehingga tehnik pengumpulan datanya dilakukan melalui pengumpulan sumber-sumber primer maupun sekunder.

Maka dari itu, teknik dan prosedur yang ditempuh dalam pengumpulan data ini yaitu dengan cara mengumpulkan data-data atau literature-literatur yang relevan dengan tema pokok. Terkhusus melakukan pembacaan pada kitab al-Misbah karya M. Quraish Shihab, buku-buku, jurnal/artikel serta tulisan yang ada hubungannya dengan tema ini. Selanjutnya, penulis melakukan penelaahan terhadap buku, jurnal serta tulisan yang terkait tersebut. Dari data yang terkumpul tersebut, kemudian dilakukan penilaian dan penelaahan.

  1. Prosedur Analisis dan Keabsahan Data

Dalam penelitian ini, penulis melakukan analisis pada term yang bersangkutan, baik itu dari sumber primer maupun sumber sekunder, serta literatur-literatur lain yang menyangkut penelitian ini.

BAB III PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat M. Quraish Shihab

  1. Riwayat Hidup

Nama lengkapnya ialah M. Quraish Shihab, lahir pada tanggal 16 Februari 1994 di Rapang, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Abdurrahman Shihab keluarga keturunan Arab yang terpelajar.

Ia menyelesaikan pendidikan pendidikan dasarnya di Makassar (dulu Ujung Pandang), pendidikan menengahnya di Malang, sambal “nyatri” di Pondok Pesantren Darul-Hadits al-Faqihiyyah. Berkat kemahirannya dalam bidang keislamanan, ia bersama adiknya (Alwi Shihab) dikirim oleh ayahnya ke al-Azhar Cairo pada tahun 1958 di dalam usia 14 tahun. Ia meraih gelar Lc (S-1) di Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits di Universitas al-Azhar pada 1967. Pada 1980, ia kembali ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya, dan gelar doctor pun berhasil ia sabet hanya memerlukan waktu dua tahun, ddengan yudisium Summa Cum Laude. Judul disertasinya “Nazm al-Durar li al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah (Suatu kajian dan Analisa terhadap Keontetikan Kitab Nazm ad-Durar Karya al-Biqa’i)[9]

Sekembalinya ke Indonesia, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan fakultas Pasca-Sarjana UIN (dulu IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ia aktif mengajar bidang tafsir dan Ulum al-Qur’an di program S1, S2, S3 hingga tahun 1998.

Quraish Shihab pernah menjadi Mentri Agama, di angkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Republik Arab dan Mesir merangkap Negara Republik Djibauti berkedudukan di Kairo. Ia juga aktif di berbagai organisasi, serta aktif dalam dunia tulis menulis. Di samping itu pula, ia juga handal dalam dunia ceramah agama, hingga ia pun tampil diberbagai televisi lokal.

  1. Karya-Karya Quraish Shihab

Berkat keproduktifnya dalam dunia tulis menulis, banyak karya yang lahir dari tangannya. Diantara karya-karyanya ialah Tafsir al-Misbah, Membumikan al-Qur’an, Lentera Hati, Wawasan al-Qur’an, Kaidah-Kaidah Tafsir, Secercah Cahaya Ilahi, dan lain sebagainya. [10]

  1. Jihad (جحاد)
    1. Pengertian Jihad

Kata jihad dalam al-Qur’an terulang sebanyak 41 kali, dalam berbagai bentuk dan konteks[11]. Kata turunan dari jihad dalam al-Qur’an terdapat pada beberapa bentuk, yaitu ” مُجَاهِدٌ جَاهِد، جِهَادٌ، جَهْدَ،  جَاهِدُوْنَ، جَهِدُوْنَ، جَاهَدَ، جَهَدَ،“. Ada pun kata jihad  yang bentuk mashdar terulang sebanyak pada empat dalam surah, yaitu “al-Mumtahanah (60): 1, al-Hajj (22): 78, at-Taubah (9): 24 dan al-Furqan (25): 52.

Kata jihad terambil dari kata jahd  yang berarti “letih/sukar”. Jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata juhd  yang berarti “kemampuan”. Ini karena jihad menuntut kemampuan, dan harus dilakukan sebesar kemampuan.[12] Karena jihad sesuatu yang sulit, maka diperlukan kesabaran serta ketabahan.

Yusuf Qardhawi menjelaskan jihad secara etimologi dengan mengatakan bahwa jihad adalah isim mashdar dari kata jahada-yujahidu-jihadan-mujahadah. Kata ini merupakan derivasi dari kata jahada-yajhadu-jahdan. Seperti sebuah ungkapan, “Seorang laki-laki berjihad dalam sebuah hal.” Ini artinya bahwa laki-laki tersebut bersungguh-sungguh.[13]

Dalam Bahasa Barat, jihad diterjemahkan sebagai perang suci (holy war). Dari terjemahan kata jihad yang pada dasarnya “berjuang” dan ”berusaha”, kemudian dibahasakan oleh Barat menjadi “perang suci[14]. Konotasi yang dibangun oleh barat terhadap makna jihad, sangat bertolak belakang dengan jihad yang ditawarkan oleh Islam (al-Qur’an). Hal ini mengindikasikan bahwa jihad dalam Islam bermakna “agama pedang”. Yang mengindikasikan bahwa jihad itu harus dengan senjata atau perjuangan fisik. Ini sangat merusak makna jihad yang sebenarnya. Stigma barat mengenai jihad tersebut terlepas dari pantauan sejarah, karena terbentuknya Islam sebagai agama Ilahi ini tak lepas dari lingkaran perjuangan.

Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap tentang Jihad Menurut al-Qur’an dan Sunnah,  ia membagi jihad ke dalam tiga tingkat, yaitu “ Jihad terhadap musuh yang tampak, berjihad menghadang godaan setan, serta berjihad melawan hawa nafsu”.[15]

Berdasarkan periode turunnya, al-Qur’an sering mengungkap jihad pada saat periode Madinah daripada periode Mekkah. Hal itu disebabkan karena kondisi umat Islam sudah semakin kuat, baik secara kondisi ekonomi, kekuatan untuk berjuang mempertahankan diri dari serangan dalam (orang munafik) maupun serangan dari luar (kaum musyrik).

Yang terpenting dari segalanya adalah jihad harus dilakukan demi Allah, bukan karena agar dipuji, memperoleh imbalan, serta kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Al-Qur’an menggunakan redaksi fi sabilihi (di jalan-Nya), bukan karena faktor luar seperti yang tertera di atas. Sebagaimana firman Allah berikut:

“Berjihad di (jalan) Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya”.[16]

Dari pengertian jihad di atas, maka kata jihad di dalam al-Qur’an tidak berkonotasi dengan peperangan, kontak fisik, atau yang bersifat agresif. Akan tetapi, kata jihad yang ditawarkan al-Qur’an lebih kepada defensif (bertahan). Disebabkan kondisi yang tidak mendukung, serta medan dakwahnya masih tertutup dan mengancam.

Oleh karena itu, Quraish Shihab dalam bukunya “Wawasan al-Qur’an” menutup pengertian jihad dengan mengatakan bahwa jihad sebagai cara untuk mencapai tujuan. Menurut beliau bahwa jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, kelesuan, tidak pula pamrih. Tetapi jihad tidak dapat dilaksanakan tanpa modal, karena itu mesti disesuaikan dengan modal yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai, selama itu pula jihad dituntut.

  1. Awal Mulanya Jihad dalam Islam

Awal munculnya jihad dalam Islam, tak lepas dari perjuangan umat Islam diantara Mekkah dan Madinah. Namun, umat Islam awal lebih mendapatkan keagresifan kaum musyrik di Mekkah. Sejarah telah mencatat bahwa betapa sengitnya perjuangan umat Islam pada masa itu, baik dalam mempertahankan dirinya dari gangguan kaum Quraisy, maupun perjuangan menyebarkan agama Islam. Karena, umat Islam selalu mendapatkan tekanan, tantangan yang dilancarkan oleh kaum minoritas (musyrik).

Dalam Islam periode itu disebut dengan “Periode Mekkah dan periode Madinah”. Dari dua periode ini pula, maka sebab turunnya ayat-ayat seputar jihad pun ada pada dua tempat tersebut. Maka ayat-ayat yang turun pada periode Mekkah disebut dengan ayat Makkiyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode Madinah disebut dengan ayat Madaniyah[17]. Yang menjadi pemisah antara kedua periode ini ialah yang disebut dengan “Hijrah”. Walau ada ayat yang turun di Mekkah, namun Nabi Saw telah hijrah ke Madinah, maka ayat tersebut disebut dengan ayat Madaniyah.

Dalam bukunya M. Hadi Ma’rifat sejarah al-Qur’an disebutkan beberapa tolak ukur pembagian surah-surah Makkiyah dan Madaniyah. Menurut riwayat-riwayat tartibun nuzul (urutan turunnya ayat), ada 86 surah Makkiyah dan 28 surah Madaniyah. Tolar ukur pembagiannya yaitu “tolak ukur zaman, tolak ukur tempat dan tolak ukur isi”.[18]

Pada periode Mekkah inilah Nabi Muhammad Saw. mulai menyebarkan misi keagamaan. Materi pokok wahyu yang diterima Nabi dan misi keagamaan pada periode ini adalah ajaran yang berkenaan dengan akidah, yaitu lebih kepada pengtauhidan kepada Allah. Sehingga dominasi akidah selanjutnya menjadi ciri wahyu al-Qur’an yang diturunkan pada periode ini.[19]

Jumlah ayat tentang jihad dalam al-Qur’an yang diturunkan pada periode Mekkah lebih sedikit daripada periode Madinah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pada periode Mekkah, ajaran jihad belum dibebankan sepenuhnya disebabkan karena aspek penerapan hukum Islam yang berangsur-angsur. Di samping itu pula, kondisi umat Islam pada awal Islam masih sangat lemah (ekonomi dan politik), karena hidup di bawah tekanan kaum mayoritas.

Sehingga umat Islam selama hidup di kota Mekkah tidak mampu menghadirkan satu komunitas yang mandiri dan sistemik. Jumlah mereka minim dan secara umum tidak memiliki kemampuan ekonomi. Mereka minoritas ditengah-tengah kaum musyrik.[20] Karena situasi yang tidak mendukung (jumlah yang minim, ekonomi) tersebut, membuat umat Islam tidak mampu bergerak bebas untuk menyebarkan agama islam. Mereka lebih pada misi mempertahankan diri (pembelaan/difa’) dari ancaman kaum musyrik pada zaman itu.

Secara historis, kenyataan semacam ini dapat diterima. Karena kedudukan umat Islam awal mendapatkan banyak tekanan-tekanan yang digerakkan oleh kaum Quraisy. Nabi Muhammad Saw. masih belum mampu masyarakat yang kuat serta mandiri. Disebabkan pula semua bahwa belum disyariatkannya untuk melawan kaum Quraisy yang kekuatan ekonomi, politik, serta kekuatannya lainnya tidak mampu untuk ditaklukkan.

  1. Penafsiran Quraish Shihab seputar Ayat-Ayat Jihad dalam al-Qur’an

Penulis hanya melakukan beberapa penelitian seputar penafsiran Quraish Shihab mengenai ayat-ayat jihad dalam kitab tafsirnya al-Misbah, diantaranya:

  1. al-‘Ankabutt (29): 69

 “Dan orang-orang yang berjihad pada Kami, pasti Kami tunjuki mereka jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta al-muhsinin.”

Dapat kita lihat pada lafadz فِيْنَا (pada Kami) menunjukkan bahwa yang dimaksud jihad ialah perjuangan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah. Penggunaan fi di dalam ayat ini memberikan kesan bahwa jihad mereka tersebut karena Allah. Lalu, dijawab pada redaksi terakhir, yakni “pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta al-muhsinin”. Al-Muhsinin diartikan oleh Quraish Shihab dengan “orang-orang yang selalu berbuat kebajikan”. Maka dengan itu, Allah akan memimpin mereka.[21]

  1. al-Ankabuut (29): 6

 “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari semesta alam”.

Jihad dalam ayat ini bermakna mencurahkan kemampuannya untuk melaksanakan amal saleh, manfaat dan kebaikan jihadnya tersebut untuk dirinya sendiri. Ayat ini mengangkat semangat kaum muslimin awal yang menderita penganiayaan dari tangan musuh di Mekkah.[22]

  1. ali-Imran (3): 142

أمْ حَسِبْتُمْ أنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ الّلهُ الَّذِيْنَ جَاحَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِيْنَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum Allah ketahui orang-orang yang berjihad diantara kamu, dan mengetahui orang-orang sabar”.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan prinsip umum yang berkaitan dengan perjuangan meraih surga, sekaligus menjelaskan bahwa malapetaka dan cobaan yang ditimpa oleh kaum muslimin itu adalah mengantarkan mereka masuk ke dalamnya.

Huruf waw () ada yang mengartikan dan, ada pula yang mengartikan bersama. Quraish Shihab menggunakan kata bersama. Karena pengetahuan tentang jihad menjadi menyatu dengan pengetahuan tentang kesabaran/ketabahan. Karena kesabaran adalah syarat keberhasilan jihad, begitu pula sebaliknya.[23]

  1. al-Anfaal (8): 74

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan mereka itulah orang-orang yang mukmin yang benar. mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia”.

Pada ayat ini menjelaskan tiga kelompok kaum muslimin, yaitu yang berhijrah, menampung/membela, dan yang tidak berhijrah. Ini perjalan Nabi Muhammad Saw beserta pengikutnya untuk berhijrah ke Madinah, dan di sana mereka mendapatkan tempat tinggal. Dan mereka yang memberi tempat tinggal dan pertolongan kepada orang-orang Muhajir mereka itulah orang-orang mukmin yang benar-benar beriman dengan mantap. Serta memperolah ampunan dan anugerah yang beraneka ragam, yang diperoleh di dunia maupun di akhirat.[24]

  1. Problema Pemaknaan Jihad

Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an menjadi sumber rujukan paling penting di dalam memecahkan persoalan umat, di samping Hadits. Hakikat al-Qur’an diturunkan adalah menjadi acuan moral secara universal bagi umat manusia  untuk memecahkan problema sosial yang timbul di tengah-tengah masyarakat.[25]

Umat Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang, umat tidaklah bersifat satu warna atau seragam. Ini mendeskripsikan bahwa para pemeluk Islam sendiri terdapat dari berbagai kalangan, pemikiran, golongan, suku, serta ekspresi keberislaman yang penuh warna. Seperti Islam radikal, fundamental, moderat, tradisional (klasik) dan sebagainya.[26] Dari itu semua, maka tidak sewajarnya pihak-pihak di luar Islam menjustifikasi bahwa agama Islam mengajarkan peperangan yang berdalih jihad

Tak pelak lagi, sebagian dari umat Islam (Muslim) mengartikan jihad secara radikal. Sehingga, jihad ditransfungsikan kepada teroris, tindakan kekerasan, penindasan, kekejaman dan berbagai tindakan anarkis lainnya. Dari reduksi makna jihad pun sungguh tak terhindarkan. Tindakan-tindakan seperti ini telah mencoreng keutuhan agama Islam yang melekat kepadanya, yakni rahmatan lil ‘alamin.

Dalam al-Qur’an, untuk menunjukkan sebuah perjuangan disebut dengan istilah jihad. Sayang sekali, istilah jihad yang ditawarkan oleh al-Qur’an terkadang disalah artikan, disalahpahami atau bahkan dipersempit maknanya oleh beberapa kalangan. Dengan meminjam kata dari Abdurrahman Wahid (Presiden Indonesia yang ke-4, almarhum) yang mengatakan bahwa semua kesalahan tersebut dikarenakan kedangkalan ilmu yang dimiliki oleh para pelaku sehingga berbuat anarkis.[27]

Buya Syafii Maarif dalam bukunya “al-Qur’an dan Realitas Umat” mengatakan bahwa “mereka berhak memonopoli kebenaran. Seakan-akan mereka telah menjadi wakil Tuhan yang sah untuk mengatur dunia ini berdasarkan tafsiran monolitik mereka terhadap teks suci (al-Qur’an). Perkara orang lain tertindas, terdzalimi, sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Inilah jenis manusia yang punya hobi “membuat kebinasaan di muka bumi”, tetapi mereka merasa telah berbuat baik”[28].

Sikap brutal yang dilakukan oleh mereka yang merusak citra agama tersebut, merupakan pelanggaran terhadap kemanusiaan dan suatu tindakan yang tidak beradab jika selain agama atau berbeda aliran (golongan) darinya itu wajib di tawan atau bahkan dibunuh. Sikap-sikap seperti tidak hanya merusak moral dan etika beragama, namun juga menjatuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu pula, hal tersebut juga menghilangkan kebebasan terhadap manusia lain dalam beragama dan berpendapat.

Terhadap orang yang senang dan hobi terhadap budaya bom bunuh diri, Buya Syafii Maarif dalam bukunya “al-Qur’an dan Realitas Umat”, mengemukakan sebuah pertanyaan dan pernyataan perihal masalah ini dengan mengatakan bahwa, “apakah dengan budaya bom bunuh diri, posisi umat Islam akan terangkat dari buritan peradaban? Akal sehat tentu mengatakan bahwa cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan hanyalah akan menuai reaksi antipati, bukan simpati.”[29]

Hal seperti ini menunjukkan bahwa mutu serta persatuan umat Islam harus diperbaiki. Agar tidak ada cela dari pihak luar untuk menyerang melalui berbagai sisi. Mental-mental fanatisme mazhab, aliran harus segera diperbaharui dan dimusnahkan dari dalam diri kita. Serta tidak ada pengklaiman, mengkafirkan serta menyesatkan sesame umat muslim. Karena pada hakikatnya, yang menjadi hakim terhadap keyakinan seseorang adalah Allah Swt.

Pemahaman umat terhadap al-Qur’an, khususnya term jihad ini tak lepas dari penafsiran yang dijabarkan/dipaparkan oleh para ulama (penafsir). Saya kira,

Zuhairi Misrawi dalam bukunya “al-Qur’an Kitab Toleransi[30] mengatakan bahwa yang semestinya jihad yang dilakukan ialah jihad yang melahirkan prestasi internal umat Islam, dengan mengemukakan beberapa langkah, yaitu “Jihad dengan pengentasan kemiskinan[31], jihad dalam konteks ilmu pengetahuan, jihad dalam konteks toleransi.”

Pada saat moderat ini, umat Islam harus mampu mengimplementasikan jihad ke dalam bentuk yang positif. Jika dunia yang modern ini masih saja berpikiran klasik, maka umat Islam akan semakin ketinggalan daripada umat-umat yang lain. Pada waktu damai ini, jihad seharusnya membangun, menegakkan, bukan sebaliknya. Dengan itu, jihad yang dikehendaki lebih kepada kekuatan otak, keikhlasan berkorban dengan harta benda dalam memberdayakan umat Islam.

BAB IV PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Yang menjadi kesimpulan penulis dalam penelitian ini ialah:

  1. Jihad dalam al-Qur’an tidak berkonotasi pada kekerasan, anarkis, kebrutalan, pertumpahan darah. Namun, jihad dalam al-Qur’an ialah suatu upaya bersungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah Allah yang bertujuan pada kemaslahatan umat manusia secara umum, terkhusus umat Islam.
  2. Quraish Shihab menafsirkan ayat-ayat jihad dengan beberapa peristiwa, kecaman, dan lain-lain, diantaranya, “Jihad untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., jihad untuk melawan hawa nafsu, jihad sebagai kecaman kepada mereka yang tak mau berhijrah, serta kepada mereka yang munafik.”
  3. Pemaknaan yang salah terhadap jihad akan berefek kepada tindakan negatif. Oleh karena itu, jihad tidak berkonotasi dengan kekerasan. Karena sangat bertentangan dengan konsep jihad yang ditawarkan al-Qur’an.
  4. SARAN

Karena waktu serta pemahaman penulis dalam menguraikan pembahasan ini sangat terbatas, penulis mengharapkan dan menghimbau kepada pembaca yang budiman, agar lebih melibatkan diri dengan membaca literatur-literatur yang ada. Dengan demikian, akan menambah wawasan serta pengetahuan kita terhadap tema ini. Sehingga kita mampu menutup diri kita untuk tidak berbuat anarkis terhadap pihak lain yang berbeda aliran atau bahkan berbeda agama dari kita. Sehingga kita mampu merealisasikan setiap butiaran-butiaran ayat suci (al-Qur’an) yang selalu mengajarkan kebaikan dari segala aspek serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Penulis berharap kepada pembaca, agar memberikan kritik dan saran yang membangun, untuk perbaikan penelitian ini menjadi agar lebih baik ke depannya. Semoga penelitian memberikan kontribusi kepada kita sebagai manusia yang haus akan ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA.

Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, 15 volume. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Shibah, M. Quraish dkk, Ensiklopedia al-Qur’an: Kajian Kosakata. Jakarta: Lentera Hati, 2007.

https://tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/, di unduh pada tanggal 17 Mei 2015.

Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. II. Bandung: Mizan, 2014.

Nasr, Seyyed Hossein, Islam Tradisi: di Tengah Kancah Dunia Modern, penerj. Luqman Hakim. Bandung: Penerbit Pustaka, 1987.

Ma’rifat, M. Hadi, Sejarah al-Qur’an, cet. II. Jakarta: al-Huda, 2007.

Kaelani, Metode Penelitian Agama; Kualitatif, Interdisipliner, Yogyakarta: Paradigma, 2010.

Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap tentang Jihad Menurut al-Qur’an dan Sunnah, ­Bandung: Mizan, 2010.

Rohimin, Jihad Makna dan Hikmah, Jakarta: Erlangga, 2006.

Maarif, Ahmad Syafii, al-Qur’an dan Realitas Umat, Jakarta: Penerbit Republika, 2010.

Zuhairi Misrawi, al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Jakarta: Pustaka Oasis, 2010

Hakim, Muhammad Baqir, Ulumul Qur’an, Jakarta: al-Huda, 2012

Umar Shihab, Kontekstual al-Qur’an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam al-Qur’an, Jakarta: Penamadani, 2005

Yazdi, MT. Mishbah, Perlukah Jihad: Meluruskan Salah Paham tentang Jihad dan Terorisme, Jakarta: al-Huda, 2006.

Abu Zaid, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran, Yogyakarta: LKis, 2003

Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.

Kaelani, Metode Penelitian Agama; Kualitatif, Interdisipliner, Yogyakarta: Paradigma, 2010.

Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 2013.

Zaqzouq, Mahmoud Hamdi, Islam Dihujat Islam Menjawab; Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman, Jakarta: Lentera Hati, 2008.

Fanadi, Ahmad Fuad, Islam Mazhab Kritis; Menggagas Keberagaman Liberatif, Jakarta: Kompas, 2004.

[1] Zuhairi Misrawi, al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), h. 396.

[2] Nasr Hamid Abu Zaid, Teks Otoritas Kebenaran, (Yogyakarta: LKis, 2003), h. 111

[3] Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), h. 300-302

[4] Mahmoud hamid Zaqzouq, Islam Dihujat Islam Menjawab; Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), h. 65

[5] Agama suci yang selalu mengajarkan perdamaian, keadilan kehormatan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian.

[6] Al-Anbiya’ (21): 107

[7] Kaelani, Metode Penelitian Agama; Kualitatif, Interdisipliner, (Yogyakarta: Paradigma, 2010), h. 230

[8] Kaelani, Metode Penelitian Agama; Kualitatif, Interdisipliner, (Yogyakarta: Paradigma, 2010), h. 225

[9] https://tafsiralmishbah.wordpress.com/biografi-m-quraish-shihab/, di unduh pada tanggal 17 Mei 2015.

[10] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,(Bandung: Mizan, 2013).

[11] M. Quraish Shihab dkk, Ensklopedi al-Qur’an: Kajian Kosakata. Jakarta: Lentera Hati, 2007.

[12] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2014), h. 661.

[13] Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap tentang Jihad menurut al-Qur’an dan Sunnah, (Bandung: Mizan, 2010), h. 3

[14] Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi: di Tengah Kancah Dunia Modern, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1987), hal 19

[15] Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap tentang Jihad menurut al-Qur’an dan Sunnah, (Bandung: Mizan, 2010), h. 3

[16] Al-Hajj (22): 78.

[17] Muhammad Baqir Hakim, Ulumul Qur’an (Jakarta: al-Huda, 2012), h 97.

[18] M. Hadi Ma’rifat, Sejarah al-Qur’an, (Jakarta: al-Huda, 2007), h. 68-69

[19] Rohimin, Jihad Makna dan Hikmah, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 32

[20] M.T. Mishbah Yazdi, Perlukah Jihad: Meluruskan Salah Paham tentang Jihad dan Terorisme, (Jakarta: al-Huda, 2006), h. 122

[21] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, vol. 10, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

[22] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, vol. 10, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 443-444

[23] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, vol. 2, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 230

[24] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 5, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 514

[25] Umar Shihab, Kontekstual al-Qur’an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam al-Qur’an, (Jakarta: Penamadani, 2005), h. 22.

[26] Ahmad Fuad Fanadi, Islam Mazhab Kritis; Menggagas Keberagaman Liberatif, (Jakarta: Kompas, 2004), h. 201

[27] Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), h. 300-202

[28] Ahmad Syafii Maarif, al-Qur’an dan Realitas Umat, Jakarta: Penerbit Republika, 2010, hal. 15

[29] Ahmad Syafii Maarif, al-Qur’an dan Realitas Umat, (Jakarta: Republika, 2010), h. 67.

[30] Zuhairi Misrawi, al-Qur’an Kitab Toleransi: Tafsir Tematik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, (Jakarta: Pustaka Oasis, 2010), h. 396-397.

[31] Karena faktor inilah yang menyebabkan terhambatnya kemajuan Islam, di samping faktor ilmu pengetuan dan persatuan.